Posts Tagged ‘perkembangan anak’

Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Neonatal

Bayi adalah fase perkembangan anak sejak dilahirkan hingga dia berusia 2 tahun. Pada masa ini, keberlangsungan kehidupan bayi masih bergantung sepenuhnya pada orang lain. Dia memerlukan perlakukan khusus, sehubungan dengan proses adaptasi terhadap lingkungan barunya, yaitu dari kandungan ke dunia.

Pertumbuhan dan perkembangan bayi, banyak dinilai orang sebagai suatu keajaiban dalam kehidupan. Sangat sulit untuk menjelaskan, bagaimana seorang bayi harus sanggup bernapas dengan paru-parunya secara seketika begitu dia dilahirkan. Padahal sebelumnya selama 9 bulan dia berada dalam kandungan ibunya, dan tidak berinteraksi secara langsung dengan udara luar.

Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan ajaib itu berlangsung?
Pada masa awal kelahiran, kepala menyusun bagian yang luar biasa besar dari seluruh tubuh, yaitu 1 : 4, Pada masa selanjutnya proporsi tubuh berubah, dan mengikuti dua pola, yakni pola cephalocaudal dan pola proximodistal.

Pola cephalocaudal merupakan rangkaian dimana pertumbuhan tercepat selalu terjadi di kepala. Pertumbuhan fisik dalam ukuran, berat badan dan perbedaan ciri fisik secara bertahap bekerja dari atas ke bawah.

Perkembangan sensoris dan motorik juga biasanya berproses menurut prinsip cephalocaudal. Sebagai contoh, bayi lebih dahulu dapat melihat obyek sebelum dapat mengendalikan tubuh mereka. Bayi juga terlebih dahulu dapat menggunakan tangannya, sebelum dapat merangkak atau berjalan.
Sekalipun demikian sebuah studi juga menunjukkan bukti bahwa ternyata bayi berusaha menyentuh mainan untuk pertama kali dengan kakinya, bukan dengan tangannya. Namun, secara khusus temuan ini tidak lantas dapat menggugurkan berlakunya pola cephalocaudal. Banyak ahli perkembangan anak tetap menggunakan pola cephalocaudal ini sebagai metode pendekatan untuk mempelajari perkembangan anak.

Pola proximodistal merupakan rangkaian pertumbuhan yang mulai dari pusat tubuh dan bergerak kearah tangan dan kaki. Contohnya kendali otot tubuh dan lengan lebih dulu matang sebelum kendali tangan dan jari. Lebih jauh lagi, bayi menggunakan seluruh tangannya sebagai kesatuan sebelum mereka dapat mengontrol beberapa jari mereka.
Rata-rata bayi Indonesia dilahirkan dengan tinggi badan antara 47 cm hingga 55 cm, dan berat badan antara 2,7 kilogram hingga 4 kilogram. Namun demikian tinggi badan dan berat badan bayi baru lahir, diluar standar rata-rata itu juga ada. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhinya, baik berupa asupan gizi ibu hamil maupun kondisi fisik dan psikisnya. Namun secara umum, adanya perbedaan itu, tidak memberi pengaruh nyata dalam perkembangan bayi normal.

Sekalipun untuk anak baru lahir dari usia 0 hingga 2 tahun biasa disebut dengan bayi, namun sebenarnya ada penamaan khusus untuk bayi baru lahir dari usia 0 hingga 2 minggu, yaitu neonatal. Untuk mengurai bagaimana perkembangan bayi, marilah kita awali dengan perkembangan bayi pada masa neonatal. Dimana pada masa neonatal ini seorang manusia harus hidup sebagai makhluk individu untuk pertama kalinya, dan bukan lagi sebagai parasit yang berada dalam perut ibunya.

MASA NEONATAL (0 – 2 MINGGU)

Masa bayi neonatal merupakan periode yang paling berbahaya, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik periode ini berbahaya karena sulitnya melakukan penyesuaian diri secara radikal dan penting pada lingkungan yang baru dan berbeda. Di Negara-negara dunia ketiga, banyak bayi neonatal yang mati karena persoalan ini.

1. Perkembangan fisik
• Biasanya terjadi penurunan berat badan, sebagai akibat dari keharusan bayi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terdapat empat hal pokok yang harus dilalui bayi dalam proses penyesuaian ini, yaitu bernapas, menelan atau menghisap, sistem pembuangan kotoran dan perubahan suhu..
• Seringkali terdapat rambut-rambut halus di kepala dan punggung, namun rambut halus yang di punggung lambat laun akan hilang dengan sendirinya.
• Memiliki proporsi kepala dengan panjang tubuh sebesar 1 : 4, sementara pada orang dewasa proporsi ini biasanya 1 : 7.

2. Perkembagan motorik
Gerakan bayi baru lahir selalu bersifat acak dan tidak berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu dalam lingkungannya. Secara umum gerakan ini terbagi dalam dua kategori;
• Gerakan Menyeluruh
Gerakan menyeluruh terjadi di seluruh tubuh bila salah satu bagian tubuh mendapat stimulasi, namun demikian gerakan yang paling menonjol berada pada bagian tubuh yang mendapat stimulasi secara langsung. Biasanya gerakan menyeluruh semakin meningkat dan semakin sering terjadi dari hari ke hari. Gerakan terbesar biasanya terjadi pagi hari ketika bayi baru bangun dari tidur yang lama, sedangkan gerakan yang paling sedikit biasanya terjadi pada siang hari.
• Gerakan Khusus
Gerakan khusus meliputi bagian tubuh-tubuh tertentu, misalnya menghisap ketika bibirnya disentuh, atau ketika dia lapar. Gerakan ini termasuk gerak refleks, yang merupakan tanggapan terhadap rangsangan indera khusus dan yang tidak berubah dengan pengulangan rangsang yang sama.

3. Perkembangan Sensorik
• Bayi neonatal tidak buta, tetapi bidang penglihatannya hanya kira-kira setengah dari bidang penglihatan orang dewasa. Batang mata belum berkembang kecuali di sekitar fovea. Penglihatan warna sama sekali tidak ada atau sangat minimal karena sel kerucut mata belum berkembang.
• Pendengaran adalah indera yang paling sedikit berkembang setelah kelahiran. Sebagian disebabkan karena telinga tengah tersumbat oleh cairan amniotic setelah kelahirannya. Keberadaan cairan dalam telinga ini tidak memungkinkan gelombang suara untuk dapat masuk ke dalam telinga dalam, dimana terletak sel-sel pendengaran. Namun setelah 3 atau 4 hari, bayi neonatal akan mulai dapat mendengarkan suara-suara dari luar.
• Kemampuan penciuman bayi termasuk bagian yang cepat berkembang, begitu juga kemampuan pengecapannya. Sebagai contoh, bayi neonatal yang tidak mendapatkan ASI dari ibunya hanya mau mengkonsumsi susu formula yang memiliki rasa dan aroma yang sama seperti yang pertama kali dia rasakan. Banyak bayi enggan meminum susu, ketika orang tuanya berusaha mengganti merk susu yang biasanya dia minum.
• Bayi memiliki kepekaan organik sehubungan dengan rasa lapar dan haus yang dia alami. Untuk menunjukkan perasaan ini, biasanya bayi akan menangis.
• Kulit bayi juga sudah cukup peka terhadap perbedaan suhu, rabaan dan tekanan. Kepekaan terhadap rasa dingin lebih berkembang dari pada kepekaan terhadap panas. Sementara kulit bibir bayi adalah tempat yang paling peka, dibanding bagian kulit lainnya, respon cepat akan segera dilakukan bayi apabila dia mendapat sentuhan pada bagian ini. Selain itu bayi juga sudah memiliki kepekaan terhadap rasa sakit atau nyaman sehubungan dengan dilakukannya tekanan-tekanan pada bagian tubuhnya.

4. Perkembangan Bahasa
Bahasa pada masa ini lebih tepat dikatakan sebagai vokalisasi, yang dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu suara tangis dan suara eksplosif.

• Menangis
Selama masa neonatal dan bulan-bulan pertama masa bayi, tangis merupakan bentuk suara yang paling menonjol. Menangis pada waktu lahir merupakan gerak refleks yang terjadi ketika udara masuk ke dalam tali suara yang menyebabkan tali suara bergetar. Proses ini berguna untuk memompa paru-paru sehingga memungkinkan pernapasan dan memberikan oksigen yang cukup untuk darah. Selain itu, tangisan bayi juga memiliki nilai social. Tangis bayi merupakan prilaku pertama yang menandakan ketergantungan total sang bayi kepada satu makhluk yaitu ibu yang melahirkannya. Ketergantungan ini berkait erat dengan kemungkinan berkomunikasi dengan sekelompok manusia dalam suatu lingkungan.

• Suara Eksplosif
Kadang-kadang bayi yang baru lahir mengeluarkan suara eksplosif seperti napas yang berat. Suara itu merupakan ucapan tanda arti atau tujuan dan terjadi secara kebetulan kalau otot-otot suara mengkerut. Biasanya bunyi-bunyi ini disebut dengan “dekutan”, “degukan” atau “dengkuran”. Lambat laun bunyi-bunyian tersebut semakin kuat dan berkembang menjadi ocehan untuk selanjutnya berubah jadi bicara.

5. Perkembangan Kesadaran dan Emosi
Kesadaran bayi baru lahir masih kabur, artinya bayi baru lahir tidak menyadari sepenuhnya tentang apa yang terjadi disekitarnya. Reaksi emosionalpun belum berkembang secara khusus. Reaksi emosional hanya berkaitan dengan sesuatu hal yang menyenangkan (ditandai oleh tubuh yang tenang) atau sesuatu hal yang tidak menyenangkan (ditandai oleh tubuh yang tegang).

Iklan

Perkembangan dan Pertumbuhan Anak

Persoalan mengenai perkembangan dan pertumbuhan anak, termasuk didalamnya bayi, selalu menjadi topik menarik untuk dikaji dan dieksplorasi. Dewasa ini banyak orang tua yang mulai menaruh perhatian besar terhadap fase-fase perkembangan dan pertumbuhan buah hati mereka. Semakin besarnya perhatian orang tua kepada permasalahan ini, tidak dapat dipisahkan dari semakin besarnya harapan orang tua untuk dapat memberikan yang terbaik bagi buah hati mereka.
Namun demikian, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya bagi kita untuk menyamakan persepsi terlebih dahulu terhadap pengertian perkembangan (development) dan pertumbuhan (growth) anak. Istilah perkembangan, disepakati oleh pakar psikologi anak sebagai peningkatan kemampuan anak pada dimensi psikis, yang meliputi perbedaan, kompleksitas dalam berorganisasi, serta pencapaian suatu prestasi yang biasanya mendapat pengaruh dari lingkungan di luar dirinya. Sedangkan Pertumbuhan diberi pengertian sebagai peningkatan bentuk dan ukuran sel serta tubuh secara fisik.
Masa yang paling penting pada anak adalah masa perkembangan, karena pada masa ini anak banyak mempelajari berbagai hal yang terserap dalam otaknya. Ketika seorang anak masih berujud bayi dalam kandungan, dia memperoleh segala hal , khususnya asupan gizi secara keseluruhan dari ibunya. Ia mendapatkan perlindungan secara fisik dalam plasenta ibunya. Dalam hal ini psikis seorang ibu biasanya turut berpengaruh terhadap perkembangan janin.
Selanjutnya faktor lingkungan juga memberi kontribusi besar yang akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak, setelah dia dilahirkan. Faktor lingkungan ini terbagi menjadi dua, yaitu;
• Lingkungan Fisik
Adalah suatu lingkungan atau keadaan sekitar yang turut mempengaruhi perkembangan anak setelah ia lahir ke dunia. Misal apakah seorang anak hidup dalam lingkungan yang keras, aman, gersang, polusi, dan lain sebagainya. .
• Lingkungan Sosial
Hubungan kasih sayang dalam lingkungan sosial anak merupakan hal penting untuk diperhatikan. Orang terdekat yang paling dikenal anak dalam berkomunikasi adalah ibunya. Seorang anak akan langsung merekam apa yang dirasakan dari pengasuhnya sedari dia kecil. Dia akan merasakan apakah pengasuhnya atau ibunya penuh kasih sayang, sensitif, emosional, atau ringan tangan.
Hampir setiap orang tua akan mencoba memberikan lingkungan fisik dan sosial terbaik yang bisa mereka berikan pada anaknya. Sayangnya, sekalipun demikian, secara tidak disadari orang tua justru sering melakukan kesalahan. Persoalan ini menarik minat filsuf Yunani, Aristoteles, untuk juga memberikan pemikirannya. Menurutnya, perbedaan pengasuhan anak merupakan kunci pokok yang menyebabkan timbulnya sifat individualitas pada anak. Selain itu, Aristoteles juga mengatakan bahwa yang jadi masalah hingga saat ini, orang tua masih berperan sebagai “pemilik” anak, hingga apapun kehendak anak harus dikonsultasikan dulu pada orang tua untuk mendapat persetujuan.
Konsekuensinya, anak secara umum tidak diperkenankan untuk berkembang sendiri secara alamiah, namun berkembang dalam proses-proses yang sudah direncanakan oleh orang tua. Kebanyakan orang tua menginginkan agar anak-anaknya tumbuh dan berkembang dalam kerangka bingkai yang telah mereka rencanakan, bentuk dan kehendaki. Implikasi dari kecenderungan orang tua yang seperti ini, akan mendorong tumbuhnya inisiatif dan kemandirian anak secara kurang optimal.
Permasalahan seperti ini juga melatari kegelisahan Plato. Dia lalu berusaha untuk memperjuangkan dan berargumentasi agar anak berani memiliki self-control yang tidak merusak sifat individualitas dan inisiatifnya. Sebab terdapat banyak faktor yang bisa merubah apa-apa yang telah direncanakan orang tua untuk anaknya.
Perubahan rencana ini bisa saja terjadi secara koronologis, namun bisa juga terjadi dengan serta merta tanpa dapat diduga sebelumnya. Secara kronologis mungkin bisa berkaitan dengan semakin berkurangnya kemampuan ekonomi orang tua, karena berbagai sebab. Sedangkan secara serta merta tanpa bisa diduga, terjadi karena adanya peperangan, kecelakaan, bencana alam, krisis sosial, wabah penyakit dan lain sebagainya.
Berdasar ilustrasi mengenai tumbuh kembang anak dan kecenderungan sikap orang tua dalam pola asuh anak seperti di atas, maka dirasa perlu untuk dapat memberikan informasi yang memadai bagi para orang tua. Sebab apapun yang terjadi dalam pola asuh anak, akan membawa pengaruh besar bagi perkembangan anak pada taraf selanjutnya.