Archive for the ‘Hal Kesehatan dan Keluarga’ Category

Perkembangan Emosi, Mental dan Intelektual Bayi Usia 0 – 2 Tahun

Reaksi emosional bayi selalu diikuti dengan aspek fisiologis.
• Menangis, dilakukan dengan penuh semangat disertai ekspresi dari seluruh tubuh.
• Tertawa atau tersenyum merupakan indikator dari rasa senang.
• Pada masa bayi mulai muncul perasaan takut terhadap sesuatu yang asing atau tidak menyenangkan. Misalnya takut terhadap orang yang baru bertemu, takut jatuh, takut mendengar suara atau dentuman keras.
• Kecemasan juga mulai muncul pada masa bayi itu, terutama kalau bayi harus menghadapi situasi baru atau memenuhi tuntutan orang tua, misalnya cemas karena penyapihan dan toilet training.
• Pada usia 1 – 2 tahun bayi mulai menunjukkan kemarahan dan agresi.

Perkembangan Mental dan Intelektual
Kemampuan intelektual atau kognitif berkaitan dengan thinking, perceiving, dan understanding. Untuk mengenal lingkungan bayi menggunakan system penginderaan dan gerakan motorik. Namun karena saraf-saraf otaknya belum matang, maka pengenalan terhadap lingkungan tersebut (berpikir, berpersepsi dan memahami lingkungannya) seringkali tidak logis dan tidak realistis.

Iklan

Perkembangan Sosial Bayi Usia 0 – 2 Tahun

• Attachment (kelekatan, hubungan kasih sayang mesra yang dibentuk seseorang dengan orang lain) merupakan bentuk sosialisasi dini (early socialization). Biasanya, pengalaman pertama sosialisasi bayi adalah dengan ibunya. Usia 2 bulan (social period) bayi responsif terhadap manusia dan bukan manusia. Usia 7 bulan terjadi generalisasi pada semua orang (indiscriminate attachment). Pada usia 7 – 12 bulan terbentuk specific attachment dimana bayi mulai takut terhadap orang asing dan attachment terarah kepada ibu (atau orang yang paling dekat hubungannya).
• Sekitar usia 6 bulan, mulai muncul senyum sosial, yaitu senyum yang ditujukan pada seseorang (termasuk kepada bayi lain), bukan senyum refleks karena reaksi tubuh terhadap rangsang.
• Pada usia 9 – 13 bulan, bayi mencoba menyentuh pakaian, wajah, rambut bayi lain, dan meniru prilaku serta suara mereka.
• Pada usia 16 – 18 bulan bayi mulai menunjukkan sikap negatifisme, berupa keras kepala dan menolak untuk menuruti perintah atau permintaan orang dewasa.
• Pada usia 18 – 24 bulan, bayi mulai menunjukkan minat untuk bermain dengan bayi lain dan menggunakan alat-alat permainan untuk membentuk hubungan sosialnya.
• Usia 22 – 24 bulan, bayi mau bekerja sama dalam sejumlah kegiatan rutin, seperti mandi, makan dan berpakaian.

Perkembangan Bahasa Bayi 0 – 2 Tahun

Komunikasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk bahasa misalnya lisan, tulisan, isyarat tangan, ungkapan musik dan sebagainya. Dalam komunikasi orang harus mampu mengerti apa yang disampaikan orang lain (fungsi reseptif) dan mampu mengutarakan pikiran dan perasaannya kepada orang lain (fungsi ekspresif).
• Ada kesenjangan fungsi reseptif dan ekspresif. Kemampuan mengerti apa yang disampaikan orang lain sudah mulai berkembang pada tahun pertama masa bayi. Sedangkan kemampuan mengutarakan pikiran atau perasaan baru berkembang kemudian.
• Ekspresi muka pembicara, nada suara dan isyarat-isyarat tangan membantu bayi untuk mengerti apa yang dikatakan padanya. Pada usia 3 bulan, bayi sudah mengerti ungkapan rasa marah, takut dan senang.
• Pada usia 6 bulan, sebagian besar bayi bisa mengucapkan “na-na, ma-ma, da-da, ta-ta” (babling).
• Pada usia 12 – 18 bulan, bayi sudah mengerti kata-kata sederhana yang merujuk pada ibu-bapak, makanan, mainan, bagian-bagian binatang dan lain sebagainya.
• Pada usia 18 bulan bayi memasuki tahapan dua kata yaitu sudah mulai mampu mengucapkan dua kata tetapi masih terpotong, misalnya mama …gi (mama pergi). Tahapan dua kata ini terdiri atas open class word (dalam contoh diatas terdapat pada kata mama), dan pivot word (dalam contoh terdapat pada kata …gi). Open class word biasanya merupakan kata-kata yang lebih dulu dikenal, adapun pivot word adalah kata yang diperoleh kemudian.

Perkembangan Motorik Bayi Usia 0 – 2 Tahun

• Gerak refleks tersenyum muncul pada minggu pertama, sedangkan senyum sosial (reaksi terhadap senyum orang lain) mulai terjadi antara bulan ketiga dan keempat.
• Dalam posisi tengkurap, bayi dapat menahan kepala secara tegak ketika berusia 1 bulan, sedangkan dalam posisi telentang pada usia 5 bulan, dan dalam posisi duduk pada usia 4 atau 6 bulan.
• Pada usia 2 bulan, bayi dapat berguling dari samping ke belakang. Sedangkan pada usia 4 bulan, bayi dapat berguling dari posisi tengkurap ke samping, dan pada usia 6 bulan bayi sudah dapat berguling sepenuhnya.
• Pada usia 4 bulan, bayi dapat ditarik ke posisi duduk (dipangku). Usia 5 bulan dapat duduk dengan dibantu, sedangkan pada usia 7 bulan bayi sudah bisa duduk sendiri tanpa dibantu, namun hanya sebentar. Bayi baru dapat duduk sendiri tanpa dibantu untuk waktu yang relatif lama (sekitar 10 menit), pada usia 9 bulan.
• Pada usia 3 – 4 bulan, bayi mulai dapat menggerakkan Ibu jarinya untuk menjauhi jari-jari yang lain dalam usaha menggenggam. Sementara pada usia 8 – 10 bulan, bayi sudah dapat mengambil benda.
• Setelah berusia dua minggu biasanya bayi sudah dapat memindahkan tubuhnya dengan cara menendang-nendangkan kaki pada alas tidur. Sementara pada usia 6 bulan, bayi sudah dapat bergerak dalam posisi duduk. Kemampuan bayi untuk bisa merangkak, terjadi pada usia 8 – 10 bulan. Sedangkan kemampuannya untuk menarik diri sendiri pada posisi berdiri (rambatan), terjadi ketika bayi berusia 10 bulan. Bayi dapat berdiri dengan bantuan pada usia 11 bulan, dan akhirnya berjalan sendiri tanpa bantuan pada usia 13 – 14 bulan.

Perkembangan Fisik Bayi Usia 0 – 2 Tahun

Masa bayi merupakan masa dimana perubahan dan pertumbuhan berjalan sangat cepat, terutama pada 1 tahun pertama.
• Selama enam bulan pertama, pertumbuhan terus terjadi dengan pesat, kemudian mulai menurun dan dalam tahun kedua tingkat pertumbuhan lebih cepat menurun.
• Selama tahun pertama, peningkatan berat tubuh lebih besar dari pada peningkatan tinggi, sedangkan pada tahun kedua terjadi sebaliknya.
• Proporsi tubuh: Pertumbuhan kepala berkurang sedangkan pertumbuhan badan dan tungkai meningkat, sehingga bayi berangsur-angsur menjadi kurang berat, dan pada akhirnya bayi tampak lebih ramping dan tidak gempal.
• Selama tahun kedua, ketika proporsi tubuh berubah, bayi mulai memperlihatkan kecenderungan bangun tubuh yang khas, seperti ektomorfik, mesomorfik, atau endomorfik.

Memahami Perkembangan Anak

Sebelum bayi lahir kedunia, kebanyakan orang tua mempunyai kecenderungan dan merasa sebagai “pemilik” anak. Kecenderungan ini dengan sendirinya telah menjadikan posisi anak sebagai obyek yang berada dalam penguasaan orang tua. Memang benar bawah setiap orang tua akan terpanggil dan merasa wajib untuk memberikan perlindungan dan perawatan terhadap anaknya, sejak dia lahir hingga dewasa.

Maka dalam rangka anggapan yang seperti itulah, orang tua banyak melakukan rencana, untuk memastikan bahwa masa depan anaknya dapat terjamin secara baik. Namun sayangnya upaya ini acapkali tidak sesuai dengan perkembangan anak yang berjalan secara alamiah. Bahkan terdapat beberapa hal yang justru malah berpotensi membahayakan anak.

Gencarnya iklan susu formula, telah menjadikan sebagian orang tua memperlakukan anaknya sebagai kelinci percobaan. Fenomena ini kerap terjadi manakala seorang anak sudah boleh mendapat asupan makanan pendamping ASI. Industri penyedia makanan tambahan bayi berlomba menawarkan formula paling ampuh yang diklaim mampu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan bayi ataupun anak-anak. Secara ilmiah memang beberapa zat diyakini sanggup memberikan nutrisi atau menstimulus sel-sel tertentu yang berguna bagi bayi atau anak. Namun kebenaran atas klaim tersebut hanya dapat dibuktikan dalam rentang waktu yang cukup lama, sementara efek samping yang ditimbulkan kerap diabaikan, semisal obesitas yang terjadi pada bayi dan anak.

Sebagian orang tua boleh dicurigai memiliki kepentingan egois untuk mengakomodasi kepuasan bagi dirinya sendiri, dimana dia akan senang bila buah hatinya tumbuh gemuk dan menggemaskan. Segala sesuatu yang dilakukan orang tua untuk buah hatinya, bisa jadi karena untuk mewakili kepentingan pribadinya agar bisa mendapat rasa puas itu. Dimana orang tua akan bangga manakala buah hatinya mendapat pujian karena gemuk, menggemaskan, lucu dan pintar. Sementara untuk mengetahui, apakah pujian tersebut memiliki arti bagi sang buah hati, hanya bayi itu sendirilah yang tahu.

Patut kita perhatikan bersama, banyak ahli tumbuh kembang anak yang pada saat ini justru mencemaskan fenomena obesitas yang dialami anak-anak. Kelebihan berat badan diyakini memiliki korelasi dangan perkembangan kemampuan gerak anak-anak. Dimana anak yang mengalami kegemukan biasanya kurang lincah dibanding anak-anak lain yang tidak mengalami obesitas. Selain itu, beban tubuhnya yang berat, menjadikan anak-anak yang mengalami kegemukan jadi lebih enggan untuk bergerak aktif. Akibatnya perkembangan gerak motorik tidak bisa terstimulasi secara maksimal. Selain itu timbunan lemak juga tidak bisa terbakar sempurna, dan ini akan mengundang persoalan baru yang berkaitan dengan kesehatannya.

Perkembangan anak bergerak dalam dua pola, yaitu pola cephalocaudal dan pola proximodistal. Pola cephalocaudal merupakan rangkaian dimana pertumbuhan tercepat selalu terjadi di kepala. Pertumbuhan fisik dalam ukuran, berat badan dan perbedaan ciri fisik secara bertahap bekerja dari atas ke bawah. Perkembangan sensoris dan motorik juga biasanya berproses menurut prinsip cephalocaudal. Dengan demikian maka sangat penting untuk berusaha menjaga agar kepala bayi jangan sampai mengalami cidera.

Cidera pada kepala bayi bisa dikarenakan benturan langsung ataupun guncangan. Dalam hal ini Hurlock mengingatkan kebiasaan orang tua yang kerap mengguncang-guncangkan bayinya untuk membuat sang bayi senang. Karena kebiasaan ini terkadang bisa berakibat fatal bagi sang bayi, sebab syaraf-syaraf dan otot bayi masih sangatlah lemah.

Orang tua juga harus lebih waspada dalam merawat buah hatinya manakala dia sudah memasuki usia 6 bulan. Karena pada usia ini bayi sudah mulai belajar untuk memindahkan tubuhnya. Pada fase ini kemungkinan terjadinya cidera pada bayi semakin tinggi, mengingat tingkat gerakannya yang semakin aktif. Bisa saja bayi berguling dan terjatuh dari ranjang, atau manakala dia mulai merangkak atau berjalan, ruang mobilitasnya akan semakin luas. Bisa saja dia terjatuh karena adanya perbedaan ketinggian lantai atau terpeleset.

Selain itu dengan semakin luasnya ruang mobilitas bayi, dia akan dapat menyentuh benda-benda yang bisa membahayakan dirinya. Di Indonesia terdapat banyak kasus anggota tubuh bayi yang tersengat knalpot sepeda motor yang masih panas. Selain itu, kejatuhan benda dari atas meja yang dia sentuh, terbentur benda keras atau terjatuh sendiri merupakan bentuk kecelakaan yang paling kerap dialami bayi. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bayi dapat tersengat aliran listrik dari benda-benda elektronik atau steker listrik yang terletak di bagian bawah.

Pada banyak kasus, terjadinya kecelakaan pada bayi bisa mempengaruhi perkembangan bayi, baik secara parsial maupun keseluruhan. Bahkan adakalanya kecelakaan ini bisa meninggalkan cacat tetap pada bayi. Untuk itu kewaspadaan orang tua dan pengasuh bayi sangatlah dibutuhkan, demi menghindarkan bayi dari kejadian-kejadian yang tidak diharapkan. Selain itu perlu diperhatikan juga faktor kebersihan rumah, terutama lantai.

Namun demikian kewaspadaan ini tidak perlu diikuti dengan kecemasan berlebih. Sebab kecemasan ini bisa menjadikan orang tua untuk mengambil sikap over protektif. Sikap ini bisa, berpotensi menghambat perkembangan anaknya. Karena takut anaknya akan mendapat hal buruk, maka orang tua yang protektif akan banyak memberikan larangan pada anaknya. Misalnya anak dilarang memanjat, mengangkat benda yang agak berat, atau bermain diluar rumah.

Melalui pemahaman terhadap tahapan-tahapan perkembangan bayi, maka orang tua atau pengasuh bayi diharap bisa segera tanggap dengan segala sesuatu perubahan yang ditampakkan bayi. Dari situ orang tua atau pengasuh bayi bisa memahami apakah perkembangan bayi yang diasuhnya sudah berjalan secara normal atau tidak. Dengan demikian intervensi atau tindakan dini bisa segera dilakukan, manakala ditemukan perubahan yang tidak sesuai dengan perkembangan bayi secara normal.

Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Neonatal

Bayi adalah fase perkembangan anak sejak dilahirkan hingga dia berusia 2 tahun. Pada masa ini, keberlangsungan kehidupan bayi masih bergantung sepenuhnya pada orang lain. Dia memerlukan perlakukan khusus, sehubungan dengan proses adaptasi terhadap lingkungan barunya, yaitu dari kandungan ke dunia.

Pertumbuhan dan perkembangan bayi, banyak dinilai orang sebagai suatu keajaiban dalam kehidupan. Sangat sulit untuk menjelaskan, bagaimana seorang bayi harus sanggup bernapas dengan paru-parunya secara seketika begitu dia dilahirkan. Padahal sebelumnya selama 9 bulan dia berada dalam kandungan ibunya, dan tidak berinteraksi secara langsung dengan udara luar.

Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan ajaib itu berlangsung?
Pada masa awal kelahiran, kepala menyusun bagian yang luar biasa besar dari seluruh tubuh, yaitu 1 : 4, Pada masa selanjutnya proporsi tubuh berubah, dan mengikuti dua pola, yakni pola cephalocaudal dan pola proximodistal.

Pola cephalocaudal merupakan rangkaian dimana pertumbuhan tercepat selalu terjadi di kepala. Pertumbuhan fisik dalam ukuran, berat badan dan perbedaan ciri fisik secara bertahap bekerja dari atas ke bawah.

Perkembangan sensoris dan motorik juga biasanya berproses menurut prinsip cephalocaudal. Sebagai contoh, bayi lebih dahulu dapat melihat obyek sebelum dapat mengendalikan tubuh mereka. Bayi juga terlebih dahulu dapat menggunakan tangannya, sebelum dapat merangkak atau berjalan.
Sekalipun demikian sebuah studi juga menunjukkan bukti bahwa ternyata bayi berusaha menyentuh mainan untuk pertama kali dengan kakinya, bukan dengan tangannya. Namun, secara khusus temuan ini tidak lantas dapat menggugurkan berlakunya pola cephalocaudal. Banyak ahli perkembangan anak tetap menggunakan pola cephalocaudal ini sebagai metode pendekatan untuk mempelajari perkembangan anak.

Pola proximodistal merupakan rangkaian pertumbuhan yang mulai dari pusat tubuh dan bergerak kearah tangan dan kaki. Contohnya kendali otot tubuh dan lengan lebih dulu matang sebelum kendali tangan dan jari. Lebih jauh lagi, bayi menggunakan seluruh tangannya sebagai kesatuan sebelum mereka dapat mengontrol beberapa jari mereka.
Rata-rata bayi Indonesia dilahirkan dengan tinggi badan antara 47 cm hingga 55 cm, dan berat badan antara 2,7 kilogram hingga 4 kilogram. Namun demikian tinggi badan dan berat badan bayi baru lahir, diluar standar rata-rata itu juga ada. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhinya, baik berupa asupan gizi ibu hamil maupun kondisi fisik dan psikisnya. Namun secara umum, adanya perbedaan itu, tidak memberi pengaruh nyata dalam perkembangan bayi normal.

Sekalipun untuk anak baru lahir dari usia 0 hingga 2 tahun biasa disebut dengan bayi, namun sebenarnya ada penamaan khusus untuk bayi baru lahir dari usia 0 hingga 2 minggu, yaitu neonatal. Untuk mengurai bagaimana perkembangan bayi, marilah kita awali dengan perkembangan bayi pada masa neonatal. Dimana pada masa neonatal ini seorang manusia harus hidup sebagai makhluk individu untuk pertama kalinya, dan bukan lagi sebagai parasit yang berada dalam perut ibunya.

MASA NEONATAL (0 – 2 MINGGU)

Masa bayi neonatal merupakan periode yang paling berbahaya, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik periode ini berbahaya karena sulitnya melakukan penyesuaian diri secara radikal dan penting pada lingkungan yang baru dan berbeda. Di Negara-negara dunia ketiga, banyak bayi neonatal yang mati karena persoalan ini.

1. Perkembangan fisik
• Biasanya terjadi penurunan berat badan, sebagai akibat dari keharusan bayi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terdapat empat hal pokok yang harus dilalui bayi dalam proses penyesuaian ini, yaitu bernapas, menelan atau menghisap, sistem pembuangan kotoran dan perubahan suhu..
• Seringkali terdapat rambut-rambut halus di kepala dan punggung, namun rambut halus yang di punggung lambat laun akan hilang dengan sendirinya.
• Memiliki proporsi kepala dengan panjang tubuh sebesar 1 : 4, sementara pada orang dewasa proporsi ini biasanya 1 : 7.

2. Perkembagan motorik
Gerakan bayi baru lahir selalu bersifat acak dan tidak berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu dalam lingkungannya. Secara umum gerakan ini terbagi dalam dua kategori;
• Gerakan Menyeluruh
Gerakan menyeluruh terjadi di seluruh tubuh bila salah satu bagian tubuh mendapat stimulasi, namun demikian gerakan yang paling menonjol berada pada bagian tubuh yang mendapat stimulasi secara langsung. Biasanya gerakan menyeluruh semakin meningkat dan semakin sering terjadi dari hari ke hari. Gerakan terbesar biasanya terjadi pagi hari ketika bayi baru bangun dari tidur yang lama, sedangkan gerakan yang paling sedikit biasanya terjadi pada siang hari.
• Gerakan Khusus
Gerakan khusus meliputi bagian tubuh-tubuh tertentu, misalnya menghisap ketika bibirnya disentuh, atau ketika dia lapar. Gerakan ini termasuk gerak refleks, yang merupakan tanggapan terhadap rangsangan indera khusus dan yang tidak berubah dengan pengulangan rangsang yang sama.

3. Perkembangan Sensorik
• Bayi neonatal tidak buta, tetapi bidang penglihatannya hanya kira-kira setengah dari bidang penglihatan orang dewasa. Batang mata belum berkembang kecuali di sekitar fovea. Penglihatan warna sama sekali tidak ada atau sangat minimal karena sel kerucut mata belum berkembang.
• Pendengaran adalah indera yang paling sedikit berkembang setelah kelahiran. Sebagian disebabkan karena telinga tengah tersumbat oleh cairan amniotic setelah kelahirannya. Keberadaan cairan dalam telinga ini tidak memungkinkan gelombang suara untuk dapat masuk ke dalam telinga dalam, dimana terletak sel-sel pendengaran. Namun setelah 3 atau 4 hari, bayi neonatal akan mulai dapat mendengarkan suara-suara dari luar.
• Kemampuan penciuman bayi termasuk bagian yang cepat berkembang, begitu juga kemampuan pengecapannya. Sebagai contoh, bayi neonatal yang tidak mendapatkan ASI dari ibunya hanya mau mengkonsumsi susu formula yang memiliki rasa dan aroma yang sama seperti yang pertama kali dia rasakan. Banyak bayi enggan meminum susu, ketika orang tuanya berusaha mengganti merk susu yang biasanya dia minum.
• Bayi memiliki kepekaan organik sehubungan dengan rasa lapar dan haus yang dia alami. Untuk menunjukkan perasaan ini, biasanya bayi akan menangis.
• Kulit bayi juga sudah cukup peka terhadap perbedaan suhu, rabaan dan tekanan. Kepekaan terhadap rasa dingin lebih berkembang dari pada kepekaan terhadap panas. Sementara kulit bibir bayi adalah tempat yang paling peka, dibanding bagian kulit lainnya, respon cepat akan segera dilakukan bayi apabila dia mendapat sentuhan pada bagian ini. Selain itu bayi juga sudah memiliki kepekaan terhadap rasa sakit atau nyaman sehubungan dengan dilakukannya tekanan-tekanan pada bagian tubuhnya.

4. Perkembangan Bahasa
Bahasa pada masa ini lebih tepat dikatakan sebagai vokalisasi, yang dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu suara tangis dan suara eksplosif.

• Menangis
Selama masa neonatal dan bulan-bulan pertama masa bayi, tangis merupakan bentuk suara yang paling menonjol. Menangis pada waktu lahir merupakan gerak refleks yang terjadi ketika udara masuk ke dalam tali suara yang menyebabkan tali suara bergetar. Proses ini berguna untuk memompa paru-paru sehingga memungkinkan pernapasan dan memberikan oksigen yang cukup untuk darah. Selain itu, tangisan bayi juga memiliki nilai social. Tangis bayi merupakan prilaku pertama yang menandakan ketergantungan total sang bayi kepada satu makhluk yaitu ibu yang melahirkannya. Ketergantungan ini berkait erat dengan kemungkinan berkomunikasi dengan sekelompok manusia dalam suatu lingkungan.

• Suara Eksplosif
Kadang-kadang bayi yang baru lahir mengeluarkan suara eksplosif seperti napas yang berat. Suara itu merupakan ucapan tanda arti atau tujuan dan terjadi secara kebetulan kalau otot-otot suara mengkerut. Biasanya bunyi-bunyi ini disebut dengan “dekutan”, “degukan” atau “dengkuran”. Lambat laun bunyi-bunyian tersebut semakin kuat dan berkembang menjadi ocehan untuk selanjutnya berubah jadi bicara.

5. Perkembangan Kesadaran dan Emosi
Kesadaran bayi baru lahir masih kabur, artinya bayi baru lahir tidak menyadari sepenuhnya tentang apa yang terjadi disekitarnya. Reaksi emosionalpun belum berkembang secara khusus. Reaksi emosional hanya berkaitan dengan sesuatu hal yang menyenangkan (ditandai oleh tubuh yang tenang) atau sesuatu hal yang tidak menyenangkan (ditandai oleh tubuh yang tegang).