Sejarah Masyarakat dan Orang Penting Kotagede

sopingen

 

Sebagai kota lama Kotagede juga terdapat beberapa bangunan-bangunan yang cukup memiliki nilai sejarah. Sebagian merupakan heritage, sebagaian yang lain tidak. Ada sekitar 170 obyek cagar budaya (heritage) yang dibangun antara tahun 1700-1930. Beberapa diantaranya adalah: Rumah Kalang, Rumah Adat Jawa, Rumah Tumenggungan, dan Pos Malang. Sedangkan seni kerajinan yang sangat terkenal dari Kotagede adalah kerajinan Perak, dan makanan khas Kotagede berupa Yangko dan Kipo. Hal inilah yang  menjadikan Kawasan tersebut menjadi obyek wisata dan daya tarik wisata unggulan di Propinsi D.I. Yogyakarta.

Rumah Kalang sampai sekarang masih berdiri dengan megah walaupun sekarang sudah berganti pemilik. Kebanyakan rumah-rumah ini berada di daerah Tegalgendu, Darakan, dan sekitarnya. Awalnya rumah ini dibangun oleh orang-orang Kalang yakni orang-orang pendatang yang khusus diundang oleh Raja untuk menjadi tukang ukir perhiasan kerajaan. Tahap perkembangannya orang-orang Kalang tidak hanya pandai dalam mengukir perhiasan saja, tapi juga mampu untuk menjadi golongan kaya di Kotagede. Rumah ini merupakan rumah perpaduan unsur Jawa dan Eropa, yaitu Joglo yang dijadikan rumah induk terletak di bagian belakang, dan di depan bangunannya bercorak Eropa. Bangunan Eropa ini cenderung ke bentuk Barok, Corinthian, dan Doriq.

Orang Kalang dikenal dengan keterampilan dan etos kerjanya yang sangat tinggi sehingga mereka kadangkala tidak cukup waktu untuk sekedar duduk-duduk ataupun bergaul dengan masyarakat kebanyakan. Kondisi inilah yang membuat kesenjangan antara orang Kalang dengan bukan Kalang menjadi semakin lebar.

Kehidupan orang Kalang masyhur sebagai pedagang mencapai puncaknya ketika Pawiro Suwarno Tembong dikenal dengan sebutan Raja Berlian dari Tanah Jawa. Ia adalah orang Kalang yang pernah hidup di daerah Tegalgendu. Kisah Ki Prawiro Suwarno Tembong, sampai kini masih sering diperbincangkan masyarakat Kotagede. Bukan hanya karena kekayaannya, kebiasaan-kebiasaan eksentriknya, namun juga tragedi perampokan yang telah menimpa dirinya.

Perampokan pertama terjadi pada hari Rabu, beberapa hari sebelum aksi militer Belanda kedua tangal 19 Desember 1948. Perampokan pertama ini selain menimpa rumah Pawiro Suwarno Tembong, juga dialami keluarga Projodrono yang juga orang Kalang di Kampung Darakan. Pada siang hari, beberapa orang yang melumuri muka mereka dengan lumpur dan berpakaian sipil serta militer, tanpa ragu-ragu memasuki rumah kedua orang kalang tersebut. Para perampok itu membawa pergi harta korban tanpa mendapat perlawanan. Kedua korban itu melapor kepada komandan keamanan di Kotagede, sekaligus mengidentifikasi para perampoknya.

Belum lagi komandan keamanan menindaklanjuti laporan perampokan tersebut, kembali terjadi perampokan kedua. Peristiwa perampokan yang lebih besar ini terjadi beberapa hari setelah kota Yogyakarta diduduki oleh Belanda. Perampok dalam jumlah besar itu hanya menjarah rumah Pawiro Suwarno Tembong yang telah ditinggal mengungsi oleh pemiliknya. Selain membawa pergi uang dan perhiasan dalam jumlah yang amat banyak, para perampok juga membawa pergi tidak kurang dari 15 batang emas murni sebesar kaleng minyak tanah, dekorasi berbentuk sepasang gula jawa terbuat dari emas murni, setandan pisang terbuat dari emas murni.

Pada periode yang lebih tua di Kotagede pernah berdiri pendapa yang digunakan sebagai ruang publik bagi masyarakatnya. Orang mengenalnya sebagai Ndalem Sopingen. Dinamika sejarah Ndalem Sopingen pernah mewarnai kehidupan sosial, politik, budaya dan olahraga masyarakat Kotagede pada masa-masa lampau.  Ndalem Sopingen adalah sebutan untuk pendapa rumah kediaman Raden Amatdalem Sopingi yang terletak di barat laut Pasar Kotagede berdekatan dengan kompleks makam Raja-raja Mataram. Awal abad XX, bersama Raden Amatdalem Mustahal, Raden Amatdalem Sopingi menjabat sebagai kepala lurah juru kunci makam di bawah Kasultanan Yogyakarta. Sebagai seorang abdi dalem pada masa itu, Raden Amatdalem Sopingi menyiapkan rumahnya, sebagai tempat singgah, berkumpul, dan beristirahat bagi pejabat kerajaan yang akan berziarah.

Meskipun pendopo Sopingen sebenarnya milik privat, di rentang tahun 1900-1980 pendopo Sopingen pernah menjadi pusat ruang publik di Kotagede. Berbagai macam aktivitas mulai dari aktivitas kesenian, olahraga, hingga aktivitas politik pun pernah terjadi di seputaran pendapa tersebut.

Sekitar masa-masa Kebangkitan Nasional 1908, pendapa Sopingen merupakan tempat diskusi dan rapat tokoh-tokoh organisasi Pergerakan Nasional. Tokoh-tokoh seperti HOS Cokroaminoto (Ketua Sarekat Islam), Samanhoedi (Pendiri Sarekat Islam), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Ki Hajar Dewantoro (Pemimpin Perguruan Tamansiswa), Samaun, Muso dan Alimin  (Para Pemimpin Golongan Komunis) pernah hadir dan berpidato di Sopingen.

Ditopang dengan kondisi pembagian golongan masyarakat Kotagede kala itu, materi-materi diskusi dan rapat menemukan ruang prakteknya. Persinggungan ini kemudian menjadikan dua organisasi yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Ormas Islam Muhammadiyah masing-masing memiliki basis pendukung yang kuat di Kotagede. Ada perumpamaan bahwa PKI dan Muhammadiyah di Kotagede bagaikan dua ayam jago dalam satu kandang.

Pertentangan awal antara keduanya mencapai puncaknya ketika kongres PKI yang diadakan di Ndalem Sopingen Kotagede tahun 1924. Sebagai gambaran di waktu itu, kegiatan orasi terbuka di atas podium merupakan sesuatu bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah kongres. Semula PKI berkongres di kota Yogyakarta, namun lantaran kuatnya pengaruh Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah. Tekanan pihak SI dan Muhammadiyah semakin menekan sewaktu orator PKI disoraki supaya turun dari podium. PKI terpaksa memindah tempat kongresnya ke Kotagede.

Pemindahan kongres PKI ke Kotagede mendapat perlawanan dari aktivis-aktivis Muhammadiyah Kotagede. Insiden terjadi ketika PKI mencoba mengadakan orasi terbuka pada tanggal 14 Desember 1924, dihadapan banyak orang Islam awam. Aktivis Muhammadiyah menghendaki agar orang-orang Islam tersebut keluar meninggalkan tempat, jangan mendukung PKI. Muncul sedikit ketegangan antara keduanya, tetapi akhirnya aktivis-aktivis Muhammadiyah gagal menghalangi jalannya rapat.

Rentang tahun 1962-1964 LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang merupakan underbow PKI sering melakukan latihan dan pementasan tari di pendapa Ndalem Sopingen ini. Dalam pementasan tari tersebut muncul garapan tari-tarian rakyat yang bersifat perlawanan. Diantaranya Tari Buruh, Tari Tani, Tari Bagi Hasil, Tari Anjangsana, Tari Blonjo Wurung dan Tari Bondan. Ketika membawakan Tari Bondan, sang penari wanita berpayung, menimang boneka anak, dan siap menaiki kendi.  Dengan suara yang agak dilantangkan sang penari selalu menanyai anaknya berupa boneka dalam timangan, “Suk gede arep dadi opo, nduk?” Didukung koor para pengrawit, penonton serentak menjawab, “Dadi Gerwani!

Rentang tahun 1960-1970an Muhammadiyah juga banyak menggelar acara pentas seni di pendapa Ndalem Sopingen tersebut. Disela-sela pentas seni selalu disisipkan demonstrasi olahraga pencaksilat Senopati Pemuda Muhammadiyah Kotagede. Diantara jurus-jurus yang diperagakan, suara komentator selalu memberi ketegangan tersendiri baik dalam permainan jurus maupun pertarungan.

Pementasan karya-karya kesenian lainnya yang pernah dilakukan di pendapa Ndalem Sopingen baik secara kelompok maupun perseorangan seperti pertunjukan drama lokal Kotagede seperti kelompok teater Iqbal PII Kotagede maupun teater Alam Azwar AN. Beberapa lakon yang pernah dimainkan adalah Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek karya Danarto. Sepulangnya dari Amerika Bagong Kusudihardjo juga mementaskan tari-tarian atas dukungan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Pada kesempatan yang lain, pentas tari dari kelompoknya Wisnu Wardhana juga tampil di pendopo ini.

Halaman depan pendapa Ndalem Sopingen terdapat lapangan bulutangkis yang pada malam-malam tertentu digunakan untuk net play, logat lidah Kotagede kala itu untuk menyebut kata night play, yaitu latihan bulutangkis di malam hari. Hampir dipastikan jika akan ada night play, selalu ada kesibukan semenjak petang. Beberapa orang tampak memikul lampu srongkling, yang dimaksud adalah lampu minyak bertekanan dengan merk Strongking. Suara desis dari mesin lampu-lampu tersebut mengikuti orang yang memikulnya, melintasi depan Pasar Kotagede menuju Sopingen dari tempat persewaannya di Kampung Bumen.

Berdiri di atas tanah seluas 2.096,75 m2 dengan nomer persil 314, dan luas bangunan sekitar 1800 m2 Ndalem Sopingen telah diwariskan kepada ketiga anak keturunan Raden Amatdalem Sopingi sejak tahun 1984. Masing-masing menempati bagian samping bangunan. Sedangkan bangunan utama di tengah tetap difungsikan sebagai area publik.

Sedangkan rumah-rumah adat Jawa yang terbuat dari kayu tersebar di beberapa kampung kawasan Kotagede. Rata-rata rumah adat yang masih berdiri berupa rumah pendapa joglo, maupun bentuk limasan yang kebanyakan hanya tersisa ruang ndalem dan ruang gandokannya saja. Rata-rata rumah-rumah tersebut merupakan tempat kerja bagi perajin perak yang selanjutnya mereka setor ke juragan-juragan besar, dan pada akhirnya produk-produk mereka menembus mancanegara.

One response to this post.

  1. Maaf min, Mbah Tembong ( Prawirosuwarno) pada saat itu tidak mengungsi, cuma keluarganya saja, pada saat itu beliau hanya sendiri dirumah dan dalam keadaan sakit..jadi beliau melihat smua kejadian perampokan tersebut. Usianya sekitar 75 – 80 tahuan pada saat itu..beliau tidak bisa berbuat banyak..Keesok harinya beliau baru mengungsi….dari sumber yg sangat bisa dipercaya…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: