KOTAGEDE : Antara makam raja dan masjid

makam kota gede

 

Kawasan Kotagede terletak di sebelah tenggara pusat kota Yogyakarta, dan berjarak sekira 5 kilometer. Kawasan ini merupakan kota lama yang didirikan oleh Panembahan Senopati atau Sutawijaya pada pertengahan abad XVI, dan sempat menjadi Ibukota Kerajaan Mataram Islam. Sebelumnya, Kotagede merupakan tanah perdikan dibawah kekuasaan Kerajaan Pajang.

Dewasa ini kawasan Kotagede terbagi dalam dua wilayah administratif pemerintahan. Pengertian kawasan menunjukkan lingkungan yang memiliki kesatuan sosio kultural. Sebagian masuk  dalam administrasi pemerintah Kabupaten Bantul di sisi selatan, sedangkan di sisi utara termasuk dalam administrasi pemerintah Kota Yogyakarta.

Wilayah yang termasuk ke dalam Kabupaten Bantul adalah Desa Jagalan, sedangkan wilayah yang termasuk ke dalam Kota Yogyakarta adalah Kelurahan Prenggan, dan Kelurahan Purbayan.  Pembagian kawasan Kotagede ini akibat dari hasil perjanjian Giyanti pada bulan Februari 1755 yang memecah Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta.

Ketika terjadi pemecahan Negara (Palihan Nagari), sebagai area leluhur, Kotagede pun dibelah menjadi dua, sebagian menjadi milik Kasunanan Surakarta dan sebagian yang lain menjadi milik Kesultanan Yogyakarta. Saat pemerintahan Republik Indonesia mulai efektif, bagian Kotagede yang dibawah penguasaan Kasunanan Surakarta bernama Kotagede Surakarta (Kotagede SKA). Sedangkan bagian Kotagede yang dibawah penguasaan Kasultanan Yogyakarta diberi nama Kecamatan Kotagede.

Mulai tahun 1953 wilayah Kotagede SKA dijadikan Desa bernama Jagalan. Nama Jagalan berasal dari sebuah kampung yang ada di wilayah itu. Desa Jagalan yang baru tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wilayah Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul. Sedangkan Kecamatan Kotagede yang kemudian ditambah dengan beberapa area disekitarnya seperti Rejawinangun dijadikan kecamatan dengan nama Kecamatan Kotagede, masuk kedalam wilayah administratif Kota Yogyakarta.

Cikal bakal Kotagede sebagai Ibukota kerajaan Mataram Islam, tidak dapat dilepaskan dari konsep Catur Gatra Tunggal, yaitu konsep penataan ruang kota dengan empat fungsi dalam kesatuan tunggal. Keraton berada di tengah, Alun-alaun di utara Keraton, Masjid disisi Barat Laut, dan Pasar di sisi Timur Laut. Sekelilingnya dilingkupi dengan dua lapis tembok benteng. Lapis terluar sering disebut Benteng Baluwerti (Tembok Njaba) dan lapis yang lebih dalam disebut Benteng Cepuri (Tembok Njero).

Konsep Catur Gatra Tunggal sendiri memiliki makna sebagai berikut;. Pasar sebagai pusat perekonomian, masjid sebagai pusat peribadatan, alun-alun sebagai pusat adat budaya masyarakat, dan keraton sebagai pusat kekuasaan. Pasar dan Masjid masih berfungsi sampai saat ini, sedangkan Alun-alun dan Keraton hanya tersisa puing-puing situsnya.

 

Pasar Kotagede

Pasar sebagai pusat perekonomian menjadi prioritas utama dalam pembentukan awal Kotagede. Keputusan ini tidak lepas dari arahan Ki Gede Pemanahan kepada Sutawijaya dalam membuka perdikan hutan Mentaok untuk membangun pasar yang besar terlebih dahulu. Sehingga pada mulanya kota tersebut dikenal dengan nama Pasar Gede, atau masyarakat sekitar menyebutnya Sargede.

Keputusan untuk membuka pasar tersebut dinilai tepat. Sebab, pasar adalah jantung perekonomian. Dengan adanya pasar sebagai tempat pusat pertukaran, maka perdagangan menjadi hidup.  Berbagai barang dan jasa dapat didistribusikan, sehingga kota menjadi ramai dan makmur. Terlebih daya tarik pasar sebagai pusat perekonomian mendorong masyarakat untuk mengembangkan diri dalam pekerjaan tertentu. Mereka bekerja sebagai pemasok barang-barang yang diperdagangkan di pasar.

Pekerjaan-pekerjaan masyarakat waktu itu terbagi menjadi beragam profesi yang secara unik keberadaannya tidak jauh dari pasar. Hal inilah yang mendorong kemunculan nama kampung-kampung sekitar Pasar Kotagede. Hiponimi beberapa kampung-kampung tersebut merupakan relasi ekonomi penghuni kampung dengan pasar Kotagede. Sampai sekarang keberadaan kampung-kampung tersebut masih bisa dilacak, sebagai misal terdapat Kampung Sayangan yang jaman dulu merupakan domisili bagi para perajin tembaga berada di barat pasar. Kampung Pandean merupakan domisili bagi para perajin besi di timur pasar. Sedangkan Kampung Samakan merupakan tempat tinggal bagi perajin kulit berada di selatan pasar.

Selain itu, saat ini Pasar Kotagede memiliki keunikan jika dibandingkan dengan pusat-pusat ekonomi di Jawa, yaitu tidak ditemuinya pedagang etnis Tionghoa yang berdagang di kawasan Kotagede. Jika dilihat dinamika sejarah pasar Kotagede di sekitar tahun 1930 an, pernah ada beberapa orang dari etnis Tionghoa yang menetap dan berdagang di Kotagede. Misalnya di sebelah barat  laut pasar, ada toko perlengkapan dapur dan pakaian milik pedagang etnis Tionghoa. Pemiliknya dikenal dengan nama Bah Obral. Sebutan ini muncul karena pemilik toko sering menjual barang dengan cara diobral. Sebelah timur toko Bah Obral, ada juga warga etnis Tionghoa yang berjualan gula batu. Sayang,  nama warga etnis Tionghoa tersebut tidak diketahui. Sedangkan di sisi timur ada juga warga etnis Tionghoa yang ikut meramaikan perdagangan di Kotagede. Masyarakat Kotagede mengenalnya sebagai Bah Obong. Disebut Bah Obong karena tokonya pernah kobong atau terbakar.

Sebelumnya tak ada konflik sosial antara masyarakat asli dengan pedagang  etnis Tionghoa yang ada di Kotagede. Namun, di tahun 1943 ketika Jepang masuk Kotagede, ada sekelompok orang yang memaksa pemilik toko meninggalkan tempat usahanya. Bah Obral tidak mau pergi. Sekelompok orang tersebut membuka paksa toko semua barang dan daganganpun dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang berada di pasar. Tak ada perlawanan dari Bah Obral. Namun, masyarakat yang diberi malah bingung, ada kejadian apa sebenarnya. Karena takut, sejak peristiwa itu Bah Obral pun tak lagi menetap di Kotagede.

Lebih lanjut menjelang tahun 1960, kios yang ada di dalam pasar hanya berada di sebelah utara dan barat. Lingkungan pasar Kotagede waktu itu masih dikelilingi pagar kawat berduri yang di halamannya ditumbuhi beberapa pohon waru besar. Bermula dari sekedar bermalam di pasar sembari menunggu barang dagangannya habis terjual, ada beberapa warga pendatang dari luar Kotagede yang menetap di sana. Lama-kelamaan pasar dipenuhi bangunan semi permanen sekaligus kios pedagang wedang, pedagang nasi, pedagang arang, dan pedagang kayu bakar. Salah satu penghuninya yang legendaris bernama Beles. Beles, profesinya sebagai pembantu bandar judi kartu, yang tiap malam digelar di tengah pasar.

Di Pasar Kotagede, Pasaran Legi adalah hari melubernya aktivitas para pedagang. Komoditas perdagangan akan jauh lebih besar dibanding di hari-hari lainnya. Kegiatan pedagang kadang-kadang jauh di luar bangunan pasar, di tengah jalan, maupun di lorong-lorong kampung sekitar pasar. Kebanyakan pedagang tersebut berjualan ketika hari pasaran saja. Biasanya mereka adalah pedagang-pedagang dari tempat yang jauh seperti Piyungan, Imogiri, Terong, Dlingo dan atau Magelang yang tidak memiliki kios tetap di pasar Kotagede.

Produk dagangan yang dijual juga akan lebih lengkap jika di hari pasaran Legi. Bukan hanya keperluan rumah tangga saja tapi juga alat-alat pertanian dengan benihnya, burung maupun sangkarnya, unggas, ikan hias dan bahkan buku, majalah dan komik. Bahkan biasanya akan tampil juga tukang obat, tukang sulap, tukang kerokan, tukang parkir dadakan dan lain-lain.

Suasana Pasar Kotagede akan berganti jika sudah malam tiba. Aktivitas ekonomi hanya berada di kios-kios pasar terluar, bahu-bahu jalan, dan toko-toko yang berada di sekitar pasar. Berbagai macam barang yang dijual di malam hari tersebut, mulai dari aneka lauk-pauk, makanan kecil, jamu jawa, sandal, pakaian, bahkan jasa odhong-odhong dan sepur-sepuran. Untuk dua hal yang terakhir tersebut merupakan jasa permainan bagi anak-anak sembari orang tuanya berbelanja.

 

Masjid Mataram

Masjid Mataram berada sekitar 250 m barat daya Pasar Kotagede. Sebagai pusat peribadatan, perintisan Masjid Mataram sudah dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan berupa langgar. Oleh Panembahan Senopati, bangunan langgar ini kemudian dipindahkan menjadi cungkup makam. Sedangkan di tempat tersebut didirikan bangunan masjid utama. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1587, sebagaimana tertulis di kelir gapura masjid. Tahun 1587 adalah tahun suksesi di Jawa, yaitu runtuhnya Kerajaan Pajang dan berdirinya Kerajaan Mataram. Dengan demikian, berdirinya Masjid Mataram juga menandai tahun penobatan Senopati sebagai raja di Mataram. Selanjutnya di masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Masjid Mataram kemudian ditambahi bangunan berupa ruangan serambi.

Tahun 1919 Masjid Mataram pernah mengalami kebakaran besar. Perbaikan akibat kebakaran tersebut memakan waktu empat tahun dan selesai pada tahun 1923. Pada perbaikan ini ada beberapa penambahan, seperti  adanya  bangunan tambahan emperan serambi masjid, pembuatan tempat wudhu beserta kran airnya, dan pengantian atap sirap menjadi genteng.

Selain itu, pada tahun-tahun berikutnya para juragan perak pun turut ambil bagian perbaikan Masjid Mataram ini. Mulai dari pemasangan lantai teraso, dan pemasangan lampu robyong yang berada di ruangan serambi. Terakhir, sebelum gempa bumi 27 Mei 2006, Pemerintah Pusat melalui Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merenovasi besar-besaran Kompleks Masjid Mataram ini.

Walaupun mengalami beberapa kali pemugaran dan perbaikan namun ciri khas Masjid ini tetap dipertahankan. Yakni tetap mempertahankan lanskap khas sebagai masjid Kerajaan berupa pagar batu berelief dengan pelataran masjid yang luas dan beberapa pohon sawo kecik yang tumbuh rindang.

Lingkungan Masjid Mataram dikelilingi dengan tembok benteng setinggi 2,5 m dengan corak arsitek campuran Animisme Jawa-Hindu-Islam, masjid ini berdiri dalam satu kompleks dengan makam raja-raja, sendang Seliran, dan berapa situs lainnya. Terdapat dua pintu gerbang untuk memasuki Masjid Mataram ini, yakni regol utama di sisi timur dan regol yang lebih sempit di sisi utara. Walaupun saat ini tidak ada aturan secara khusus penggunaan dua regol tersebut, namun awalnya regol timur diperuntukkan untuk jamaah dan regol utara untuk pelayanan tamu khusus dan untuk kaum pemuka agama.

Masjid ini menjadi bukti bahwa tidak ada dominasi yang berlebihan dari Islam atas kehidupan masyarakat tradisional di pedalaman Jawa. Kebudayaan dan karakter asli maupun Hindu tetap diakomodir. Karakter asli muncul dalam penataan masjid yang menyatu dengan makam para tokoh. Dan karakter Hindu terlihat pada langgam rancangan pagar keliling dan gapura paduraksa dengan unsur air yang mengelilingi Masjid.

Identitas mustaka Masjid yang berciri keprabon menegaskan bahwa masjid ini merupakan masjid kerajaan. Mustaka terbuat dari tembaga dengan bagian dasar mustaka dikelilingi bentuk godhong kluwih ngleyang, di atasnya ada penunjuk kiblat, dan posisi paling atas adalah tongkat gada bulat membesar di atas. Pola mustaka Masjid ini mengadopsi dan mengambil contoh pola mustaka Masjid Agung Demak.

Atap utama Masjid Mataram bertajug tumpang dua, dengan empat tiang utama dari kayu. Dekat pengimanan terdapat sebuah mimbar khatib yang berasal dari pemberian Sultan Palembang. Sedangkan kenthongan dan bedhug Kyai Dhondhong, diletakkan di serambi.

 

Alun-alun dan Keraton Kotagede

Sedangkan dua fungsi ruang lainnya, yaitu alun-alun sebagai pusat adat budaya masyarakat, dan keraton sebagai pusat kekuasaan saat ini sudah tidak berfungsi lagi. Alun-alun misalnya, saat ini telah berubah menjadi perkampungan yang padat dengan gang-gang yang sempit. Untungnya di kampung ini masih banyak rumah tradisional jawa yang terpelihara dengan kenthongan yang tergantung di tritis depan rumah.

Salah satu keunikan Kampung Alun-alun ini adalah keberadaan warung es legendaris yang hingga kini masih bertahan yaitu Warung Sidosemi. Menu yang menjadi andalan utama adalah es kacang ijo dan ketan hitam dengan juruh gula jawa. Selain itu ada menu yang lain yaitu es limun Saparella yang terasa segar di siang hari. Jika waktu lebaran tiba, bagi anak-anak Kotagede jajan di warung Sidosemi adalah suatu keutamaan. Duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu, sembari menikmati menu, sesekali belajar membaca huruf Jawa yang ditulis di papan sabak, yaitu batu tulis zaman dahulu. Lazimnya, para pembeli sembari bercanda mencoba menebak tulisan huruf Jawa yang tertulis di papan sabak tersebut. Di antaranya yang biasa tertulis di sabak itu adalah “Sepeda Harap Dikunci”.

Sisa-sisa Keraton Mataram berupa situs-situs yang berserakan di Kampung nDalem, 400 m selatan Pasar Kotagede. Kampung ini berada di bekas benteng cepuri Keraton Mataram Islam. Keraton ini dahulu dikelilingi oleh jagang atau parit yang dalam di sisi barat, selatan dan timur. Hal ini tampak dari topografi tanah di kampung nDalem yang menurun di tiga sisi luarnya. Sedangkan sisi utara kampung ini relatif datar, karena sebelah utara Keraton adalah Alun-alun.

Beberapa lokasi situs yang ada di Kampung nDalem dan masih bisa kita saksikan sampai saat ini merupakan tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi. Situs Benteng Jebolan Raden Rangga bisa kita temukan di sisi utara kampung, di sisi timur berserakan batu putih bekas benteng cepuri, di selatan kita dapati situs Bokong Semar, sedangkan di tenggah-tengah kampung kita jumpai kompleks Watu Gilang.

Di Kompleks Watu Gilang, dibawah juluran akar-akar pepohonan Beringin  terdapat situs Watu Gatheng, Watu Genthong, dan Watu Gilang sendiri. Watu Gilang merupakan batu pipih yang konon sebagai tempat duduk Panembahan Senopati mengheningkan cipta dan menerima nasehat dari lintang johar. Terdapat sisa-sisa tulisan dalam bahasa Latin, Perancis, Italia, dan Belanda yang dipahat di situs Watu Gilang tersebut. Sayang sekali, tulisan yang tertera di watu Gilang tidak dapat terbaca secara sempurna karena  secara fisik sudah rusak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: