Geliat Industri Kotagede : Kerajinan, Kuliner dan Heritage

12

 

Sebagai kota yang sejak didirikannya tidak pernah lepas dari proses aktivitas perdagangan, Kotagede sejak lama telah memiliki hubungan-hubungan dagang dengan berbagai wilayah. Pada masa Hindia Belanda hubungan dagang dengan kota Tulung Agung, Blitar, Kediri marak dilakukan. Bahkan hubungan dagang berbagai pihak luar Negeri telah terjalin, walaupun masih mengandalkan peranta pihak Kolonial Hindia Belanda di Semarang.

Perdagangan ini pada umumnya dilakukan oleh pedagang-pedagang besar Kotagede dengan barang dagangan berupa perhiasan emas-perak, kain batik tulis maupun cap, kulit, serta berbagai hasil kerajinan seni lainnya. Bahkan Van Mook memuji proses perdagangan waktu itu dengan menyatakan bahwa Kotagede merupakan pusat perdagangan perhiasan terbesar se-Hindia Belanda.

Khusus tentang barang-barang perhiasan yang diperdagangkan oleh para pedagang Kotagede memiliki sejarah yang cukup panjang. Produksi perhiasan awalnya merupakan perintah dari Panembahan Senopati kepada abdi dalem kriya untuk membuat berbagai macam perhiasan dari emas dan perak. Secara terbatas, produksi perhiasan tersebut hanya untuk pemenuhan kebutuhan Raja dan Keraton serta para kalangan Bangsawan saja. Semasa Sultan Hamengkebuwana VIII seni kerajinan ini mendapat perhatian khusus, yang selanjutnya Sultan memerintahkan para abdi dalem untuk mengembangkan dan meneruskan kerajinan logam ini.

Penduduk kawasan ini pada tulisan H.J. Van Mook, terbagi atas empat golongan.  Pertama adalah golongan abdi raja yang terdiri dari beberapa orang pamong praja dan pegawai makam dan mesjid. Kedua adalah kelompok pedagang besar, yang pada umumnya mereka berdagang permata dan perhiasan dari emas dan perak, batik dan cap serta berbagai hasil kerajinan seni setempat. Golongan ketiga adalah para tukang dan pedagang kecil makanan serta kehidupan sehari-hari. Golongan keempat adalah buruh harian dan petani.

Keterampilan para perajin yang semula hanya berkembang diantara para abdi dalem Kerajaan secara perlahan-lahan meluas kepada orang-orang yang semula ikut bekerja kepada mereka. Puncaknya secara nyata bisa disaksikan setelah pertengahan 1990-an, yaitu disaat pengusaha kecil dan menengah mulai meramaikan bisnis perak ini. Banyak diantaranya yang sebelumnya bekerja sebagai pengrajin perak di perusahaan besar. Sehingga hampir di setiap sudut Kawasan Kotagede saat ini dijumpai para perajin perak. Kata ‘perak’ dan ’silver’ tertera di kanan-kiri Jalan Tegalgendu, Jalan Mondorakan hingga Jalan Kemasan.

Selain barang kerajinan yang terbuat dari emas dan perak, para perajin juga mengembangkan produk berbahan baku tembaga dan kuningan. Orientasi pemasaran produk-produk pengrajin kriya Kotagede secara sederhana dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu barang perhiasan dan barang keperluan rumah tangga. Produk yang terbuat dari emas dan perak identik dengan barang-barang perhiasan. Sedangkan produk yang terbuat dari tembaga dan kuningan identik sebagai pemenuhan kebutuhan peralatan rumah tangga, seperti Dhandang, Kap Lampu, Dhubang dan sebagainya.

Sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, permintaan pasar atas barang-barang kerajinan yang berbahan dari emas, tembaga dan kuningan mengalami penurunan, bahkan ada beberapa barang yang tidak diproduksi lagi, seperti Dhandang tembaga yang sekarang telah tergantikan oleh produk-produk aluminium. Secara umum, hanya barang-barang yang terbuat dari peraklah yang masih marak sampai sekarang.

Perkembangan kerajinan perak telah memiliki akar sejak masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Perdagangan yang dilakukan dengan pihak Eropa lambat laun didominasi oleh komoditas yang terbuat dari perak. Peningkatan volume perdagangan yang semakin meningkat ini mendorong pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan lembaga khusus, guna menjaga dan meningkatkan kualitas teknik dalam pembuatan perak dan pengembangan pemasarannya. Lembaga ini bernama “Stichting Beverding Van Het Yogyakarta Kent Ambacht”. Setelah pemerintahan Republik Indonesia efektif fungsi dan peran dari lembaga tersebut kemudian ditangani oleh Koperasi Perajin dan Pengusaha Perak Yogyakarta (KP3Y).

Barang-barang perak yang diperdagangkan ke Eropa tersebut bukan hanya berupa giwang, kalung, anting, pin, bross atau cincin saja, namun juga berupa peralatan rumah tangga berupa tempat lilin, perabot makan dan minum dengan ornamen tertentu.

Kerajinan perak Kotagede memiliki ciri yang khas pada motif dan teknik pembuatannya. Motif khas Kotagede diinspirasi tanaman teratai, baik berupa sulur, daun dan bunganya. Selain itu produk kerajinan perak Kotagede kebanyakan dikerjakan dengan teknik filigri. Filigri sendiri adalah suatu teknik pengerjaan perak dengan menggunakan seutas kawat perak tipis yang dirangkai sedemikian rupa untuk memperoleh bentuk yang dikehendaki. Teknik ini hanya bisa dikerjakan oleh perajin perak yang benar-benar ahli dan teliti.

Selain filigri, perajin perak Kotagede juga menggunakan teknik lain, yaitu teknik tempa-bakar, yakni lempengan perak yang dibakar kemudian ditempa agar mendapatkan bentuk yang diinginkan. Proses penempaan yang disebut nggondhel ini memerlukan kepekaan seni seorang perajin. Jika lempengan perak yang digondhel sedikit saja cenderung menyimpang dari bentuk yang diinginkan, maka proses ini harus diulang dari awal lagi.

Tahun 1930-1940an perusahaan-perusahaan kerajinan perak banyak bermunculan di Kawasan Kotagede. Terdapat etos dari masing-masing perusahaan untuk terdepan dalam kualitas produknya, terus-menerus melakukan pengembangan dan penciptaan model maupun motif baru. Pengembangan motif dan model seperti miniatur sepeda, becak, andhong, kapal-kapalan semakin menambah khasanah produk hiasan perak selanjutnya. Bagi banyak pelaku bisnis perak menganggap masa-masa inilah kerajinan perak Kotagede benar-benar mengalami masa jaya, sedangkan masyarakat luas mulai mengenal Kotagede dengan sebutan Kota Perak.

Sebelum tahun 1990-an hanya pengusaha perak yang beromset besar saja yang membuka showroom-nya, seperti Tom Silver, MD Silver, Narti Silver,  dan HS Silver. Namun menginjak pertengahan dekade 90-an, pengusaha kecil dan menengah mulai meramaikan bisnis perak ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: