Konsep Aksi Bramantyo Prijosusilo di Kotagede

Banyak orang bertanya kenapa Bramantyo melakukan aksinya di “kandang macan”, dan selanjutnya menyayangkan terjadinya peristiwa pengeroyokan terhadap Bramantyo. Beberapa suara menyatakan keprihatinannya, “seharusnya Bramantyo tahu, kalo dia melakukan aksinya disana pasti akan mengalami tindak kekerasan dari orang-orang ini”. Tetapi Bramantyo tetap tidak bergeming, dia ingin membuktikan bahwa asumsi masyarakat itu salah. Namun kali ini, asumsi Bramantyo lah yang salah. Kenapa asumsi Bramantyo salah? Dalam konsepnya dia mengalokasikan waktu 30 menit untuk berdialog dengan MMI, namun bukan dialog yang didapat, tetapi digebugin. Berikut adalah konsep aksi Bramantyo :

Bismillahirohmanirohim …
Pada pagi hari pukul 9’00 WIB, hari Rabu, tanggal 15 Februari 2012, saya akan melaksanakan suatu pertunjukan seni berjudul “Membanting Macan Kerah” di depan Markaz Majelis Mujahidin, Jl. Karanglo no 94, Kotagede, Yogyakarta.

Konsep seni pertunjukan ini, menggabungkan konsep ‘social sculpture’ Joseph Beuys dan tradisi santet Jawa. Beuys memperkenalkan ide ‘social sculpture’ sebagai suatu struktur yang dibangun bersama-sama masyarakat. Maka “Membanting Macan Kerah” juga merupakan satu langkah awal yang akan diikuti langkah-langkah selanjutnya bersama masyarakat luas. Harapannya adalah bahwa pertunjukan seni ini dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk melawan radikalisme, anarkisme, intimidasi dan kekerasan atas nama agama, atas nama pribadi. Perlawanan di mana massa dikerahkan melawan massa terlalu berisiko menjadi konflik horizontal. Beda dengan perlawanan atas nama pribadi, di mana kesadaran pribadi setiap oranglah yang mengemuka.

Santet di sini dimanfaatkan sebagai suatu tenaga batin, di mana niatkan agar setiap orang yang mendengar berita tentang pertunjukan ini akan terinspirasi untuk menolak radikalisme, anarkisme, intimidasi dan kekerasan atas nama agama atas namanya sendiri. Sebaliknya, setiap orang yang hendak terlibat dengan radikalisme, intimidasi, kekerasan atau anarkisme atas nama agama, diharap merasakan “macan berkelahi” di dalam batinnya sehingga ia urung dari langkahnya itu.

Urgensi melaksanakan pertunjukan ini adalah kesadaran bahwa aksi-aksi sepihak berbagai kelompok yang mengatasnamakan agama, memiliki persamaan dengan aksi-aksi sepihak yang dilakukan oleh PKI menjelang peristiwa G30S, di mana dengan alasan UU Agraria saat itu BTI melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap pihak-pihak yang dikatakan ‘Setan Desa’.

Sejak Reformasi ’98 kita semakin sering melihat aksi-aksi sepihak kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama, yang melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap pihak-pihak yang dikatakan ‘sesat’ atau ‘maksiat’. Aksi-aksi sepihak ini merongrong kewibawaan negara dan karena itu mengancam kehidupan bangsa yang bhinneka ini. Jika di saat ekonomi baik dan pemerintah memiliki mandat kuat, aksi-aksi sepihak dibiarkan bahkan disinyalir juga didukung oleh beberapa elemen kekuasaan, maka di saat krisis, kerusakan wibawa negara akan berakibat terjadinya konflik horizontal yang mengerikan. Oleh karena itu aksi-aksi sepihak atas nama agama harus dihentikan. Adanya elit politik yang bermain di sana, meniscayakan tanggungjawab penyelamatan kehidupan bangsa tidak lagi dapat diharapkan dari politisi atau pemerintah. Karena itu, individu-individu yang sadar dari masyarakatlah yang harus terpanggil untuk bergerak atas nama pribadi.

Orang bertanya, kenapa pertunjukan ini dilaksanakan di depan Majelis Mujahidin? Apakah tidak ada kelompok-kelompok lain? Memang benar, ada beberapa kelompok yang bekerja sebagai kelompok-kelompok yang melakukan intimidasi dan kekerasan atas nama agama, dan pertunjukan ini bukan hanya menentang Majelis Mujahidin, yang keberadaannya merongrong kewibawaan negara dan pemimpin negara Indonesia yang tentunya memiliki wewenang tunggal untuk mengorganisasikan mujahidin bila dianggap perlu. Lebih lagi di Yogyakarta yang memiliki Kalipatullah Panatagama di dalam diri Sultan, tentunya adanya suatu majelis mujahidin partikelir merupakan perongrongan terhadap wibawa kultural Sultan atau dengan kata lain merupakan sejenis pemberontakan. Dipilihnya Majelis Mujahidin hanyalah disebabkan alasan logistik dan visual, karena kebetulan markas mereka lebih mudah diakses dan berada di wilayah kota yang secara visual menarik. Visual ini penting sebab dokumentasi dari peristiwa “Membanting Macan Kerah” ini akan diolah menjadi suatu karya seni instalasi yang mudah dibawa ke mana-mana.

Namun kandungan seni santet di dalam karya ini diniatkan melebar kepada semua orang agar menolak radikalisme, intimidasi, kekerasan, anarkisme dan aksi-aksi sepihak atas nama agama. Kelompok-kelompok ‘preman berjubah’ yang menjungkirbalikkan logika dan membuat kesan seolah Islam terancam dan perlu dibela seperti Front Pembela Islam (FPI) atau partai transnasional yang hadir di Republik ini tanpa mengikuti undang-undang kepartaian seperti Hizbut Tahrir, dan kelompok apapun yang bergerak dibidang intimidasi, penyusupan ke lembaga-lembaga berwibawa dan aksi sepihak atas nama agama, menjadi sasaran batin karya ini, dengan do’a agar mereka semua segera sadar dan menyesali perbuatannya selama ini.

RENCANA JALANNYA PERTUNJUKAN

Pada tanggal 15 Februari sebelum pertunjukan dimulai saya dan beberapa teman yang membantu mengorganisasikan acara ini berkumpul di depan pasar Kotagede, untuk kemudian saya melanjutkan perjalanan mengendarai andong, ke markaz MMI. Sesampainya di depan gerbang MMI saya turun dari andong dan melakukan pertunjukan yang berisi uluk salam, pembacaan puisi, pembantingan kendi dan pamitan. Bilamana perlu atau dikehendaki, saya juga akan melayani dialog, untuk waktu paling lama setengah jam. Bila tidak ada tawaran melakukan dialog, maka pertunjukan hanya akan berlangsung sekitar 5 (lima) menit saja.

TINDAK LANJUT

Pertunjukan ini hanyalah suatu langkah awal. Dokumentasinya akan dibuat suatu karya instalasi, yang dapat dikembangkan lagi dengan membuat pertunjukan-pertunjukan lain yang sekonsep, digulirkan terus sampai negeri kita aman dan tenteram, bebas dari kegiatan-kegiatan intimidasi, kekerasan, dan aksi sepihak atas nama agama.

Kegiatan ini diawali di Yogyakarta karena Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat masih memiliki kepemimpinan seorang Kalipatullah Panatagama yang berwibawa, dan gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama di Nagari ini secara kultural terikat pada garis kebijakannya.
Kegiatan ini merupakan karya seni, karena hanya senilah yang mampu menghaluskan jiwa manusia sekaligus mencerdaskan pikirannya. Sesungguhnya orang yang halus perasaannya dan cerdas pikirannya tidak akan terlibat di dalam kegiatan anarkisme, radikalisme, kekerasan, intimidasi ataupun aksi-aksi sepihak a’la PKI yang mengatasnamakan agama. Itulah sebabnya karya ini juga merupakan batu pondasi awal suatu ‘social sculpture’ yang diharapkan berkembang meluas, di mana nanti makin banyak orang yang memproduksi (bukan hanya mengonsumsi) karya seni yang mencerdaskan, mencerahkan, dan mendamaikan.

Yogyakarta, 14 Februari 2012
Bramantyo Prijosusilo

3 responses to this post.

  1. Posted by faye on 16 Februari 2012 at 03:11

    pak bram itu makan apa ya sampai jadi keren begini?😀

    Balas

  2. Posted by linggawardanasahajakers on 11 Mei 2012 at 15:45

    Pada dasarnya kekerasan adalah nilai yang kurang dihargai di masyarakat….padahal ada cara yang lebih bijak untuk melaksanakan atau melawan bela diri dari ketidak patutan akan keyakinan…itu dipandang sebagai norma di masyarakat yang humanis….kekerasan itu adalah menjadi suatu sikap yang kurang bernilai tinggi dan tak bernorma…dan menindas pula, lalu balasannya adalah serangan balik dari melenyapkan kekerasan itu sendiri, yang terhasilkan buruknya nilai dari yang melakukan kekerasan itu sendiri….nilai buruk atau cibiran menjadi tanggung jawab dari yang melakukan kekerasan, apalagi akan menjelekkan keyakinan itu sendiri….salam

    Balas

  3. […] Konsep Aksi Bramantyo Prijosusilo di Kotagede […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: