The Unconditional Love

Dedicated to everyone who cares

 

Suatu malam telefon sebuah rumah di Kota New York yang dihuni sepasang suami istri yang tengah ditinggal anak tunggalnya untuk menjalani wajib militer di Vietnam, berdering. Sang Istri langsung menyahut gagang telepon dan menyapa;

“Selamat malam, keluarga Smith…”

“Ibu, ini Bob. Senang mendengar suaramu disana…”, sahut si penelefon yang tak lain adalah Bob, putra semata wayangnya.

“Hi, Bob, bagaimana kabarmu disana? Ibu dan ayahmu selalu merindukan dan mendoakanmu…”
“Kabar baik Bu, dalam waktu dekat mungkin saya akan dikirim pulang. Saya sudah tidak sabar lagi untuk berjumpa dengan kalian”, jawab Bob

“Ooh, sungguhkah itu?”, teriak Ny. Smith kegirangan

“Benar Bu, tetapi ada sedikit persoalan….”, Bob menjawab ragu-ragu

“Persoalan apa anakku? Mungkin Ayah dan Ibu bisa membantu”, jawab Ny. Smith yang mulai menyimpan sedikit rasa was-was.

“Begini Bu, Ada teman baik saya yang akan pulang dengan saya. Tetapi dia terkena ranjau ketika akan menyelamatkan saya. Kedua kakinya terpaksa diamputasi. Bu, saya ingin dia bisa tinggal bersama kita, dirumah kita, menjadi bagian dari keluarga kita…”, jawab Bob dengan sedikit ragu.

“Aduh Nak, kalau persoalannya seperti itu, Ibu harus bicara dulu dengan Ayahmu. Tunggu sebentar biar Ayahmu sendiri nanti yang bicara denganmu…” Ny. Smith meletakkan gagang telefon di meja dan mendatangi suaminya. Setelah berbicara sejenak, Tn Smith menghampiri meja telefon dan mengangkat gagangnya.

 

“Halo Bob, bagaimana kabarmu?”

“Baik Yah, dalam waktu dekat ini saya akan dipulangkan…”

“Ibumu sudah bicara tentang persoalanmu Bob. Kami sedih dan prihatin dengan keadaan temanmu itu. Tetapi Bob, perlu kamu ketahui bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk tinggal dengan orang yang cacat, termasuk keluarga kita. Ini merepotkan. Kita harus selalu mengurusnya dari dia bangun tidur hingga dia tidur lagi, dan ini akan terjadi setiap hari sepanjang waktu…”, Tn Smith menghentikan bicaranya sejenak, dan kemudian melanjutkannya lagi. “Tetapi Ayah sudah memutuskan bahwa kita akan  melakukan sesuatu  untuk membantu temanmu itu. Mungkin kita akan menitipkannya di panti sosial dan menyantuninya setiap bulan. Yeah, mungkin Ayah harus menyisihkan sekitar 1000 atau 1500 dolar sebulan untuknya”, demikian Tn Smith menjelaskan rencananya kepada Bob secara panjang lebar.

“Terima kasih Yah, Saya sangat mencintai kalian…”, jawab Bob mengakhiri pembicaraannya.

 

Sebulan kemudian telefon di rumah itu berdering kembali. Namun kali ini datang dari Kepolisian Washington yang mengabarkan bahwa Bob, putranya, terjatuh dari sebuah apartemen dan meninggal. Demi mendengar kabar tersebut, Ny. Smith langsung pingsan. Setelah siuman Tn dan Ny Smith pergi ke Washington untuk menjemput jenazah anaknya. Rasa sedih tak terkirakan. Putra yang dikasihi yang belum lama menelefon dan mengabarkan rencana kepulangannnya, mendadak dikabarkan meninggal.

 

Sesampainya di Washington, pasangan ini langsung menuju ke Rumah Sakit yang merawat jenazah anaknya. Seorang petugas menyambut dan mengantar mereka ke ruang jenazah, tempat jazad putra mereka disimpan. Petugas membuka penutup jenazah pada bagian muka, hingga wajah Bob terlihat jelas. Melihat itu, Ny. Smith kembali meraung dan menangis sambil mendekap tubuh anaknya yang telah tiada. Namun sesaat tangisnya terhenti, ketika tanganya menyentuh bagian bawah tubuh anaknya, dia meraba-raba dan tidak menemukan apapun. Maka selimut penutup jenazah itupun disingkap seluruhnya, dan sesaat kemudian dia terjatuh pingsan. Ternyata, Bob tidak lagi memiliki sepasang kaki.

One response to this post.

  1. Posted by john e. daluas on 17 Desember 2011 at 21:39

    PELAJARAN YANG SANGAT MENYENTUH PERILAKU KITA YANG KETANYA BERLANDASKAN “KASIH”…..SEMOGA KISAH INI MENJADI TUNTUNAN KITA.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: