Kerusakan Lingkungan dan Krisis Enerji

Krisis pangan maupun energi, sama-sama berakibat menurunkan kualitas hidup seluruh umat manusia di dunia, Seperti kita ketahui bersama bahwa energi merupakan sumber tenaga, baik bagi manusia maupun mesin. Sumber energi manusia adalah makanan, sedangkan mesin bisa berupa listrik atau minyak.

Manusia menciptakan mesin pertama kali adalah untuk membantu meringankan kerja, baru selanjutnya untuk kenyamanan, dan gaya hidup. Walaupun belum diketahui pasti angka perbandingan konsumsi energi, yang dipergunakan untuk membantu pekerjaan manusia dengan konsumsi energi yang dipergunakan untuk kenyamanan dan gaya hidup, yang jelas dengan terjadinya krisis energi maka kemajuan teknologi bisa tidak berarti sama sekali.

Tanpa listrik, peralatan laboratorium, peralatan rumah sakit, komputer, pendingin ruangan, peralatan telekomunikasi, mesin-mesin industri, dan semua alat yang membutuhkan listrik sebagai sumber energi tidak dapat dioperasionalkan. Militer tidak dapat mengendalikan radar, peluru kendali, dan satelit pengintai. Tanpa bahan bakar minyak, mobil, sepeda motor, kapal, pesawat terbang, kereta api dan peralatan lain yang membutuhkan bahan bakar minyak sebagai sumber energi tidak dapat dioperasionalkan. Semua benda-benda produk teknologi mutakhir tersebut, tak ubahnya akan seperti onggokan sampah besi tua yang dikerubut karat.
Krisis energi pada saat ini, terjadi karena makin menipisnya cadangan sumber energi berbahan fosil, sementara dilain sisi kebutuhan akan energi semakin meningkat. Indonesia memiliki cadangan minyak nasional sekitar 1,2 persen dari cadangan minyak dunia. Cadangan minyak itu diperkirakan hanya akan mampu bertahan antara 18-20 tahun ke depan, gas 60 tahun dan batu bara 150 tahun.
Selain dipergunakan langsung oleh sektor transportasi, industri dan rumah tangga, sumber energi berbahan fosil ini juga digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Perusahan Listrik Negara (PLN) sebagai perusahan penyedia energi listrik, tahun 2008 hanya memiliki kapasitas produksi listrik total sebesar 29,705 Mega Watt. Dari jumlah tersebut 24,925 diproduksi sendiri oleh PLN dan sisanya dibeli dari perusahan pembangkit listrik swasta (IPP) dan terintegrasi (PPU). Ironisnya, berdasar rasio elektrifikasi nasional tahun 2008, infrastruktur listrik yang ada hanya mampu memenuhi kebutuhan untuk 64,3 persen dari total penduduk Indonesia. Artinya ada sekitar 100 juta penduduk Indonesia yang belum dapat menikmati listrik.
Adapun pelanggan listrik terbesar berdomisili di Pulau Jawa dan Bali, yakni sekitar 67 persen dari jumlah total pelanggan PLN. Maka tidak mengherankan jika sistem kelistrikan Jawa-Bali akan terus mengalami krisis sampai pertengahan tahun 2009. Pemadaman tidak bisa dihindari karena kapasitas pembangkit PLN tidak bertambah secara signifikan, sementara pertumbuhan konsumsi listrik naik di atas 6 persen tiap tahunnya, maka bisa dipastikan bahwa cadangan energi listrik akan makin tergerus.
Sistem kelistrikan Jawa-Bali pernah mengalami defisit 800-900 MW, yang mengakibatkan terjadinya pemadaman bergilir di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali. Defisit disebabkan aneka hal, antara lain penurunan daya di sejumlah pembangkit PLN dan swasta, kenaikan beban pemakaian listrik di Jawa-Bali, serta ketidaklancaran pasokan BBM ke pembangkit PLN. Sistem Jawa-Bali mulai pulih setelah masuknya PLTU Paiton Unit 8 yang dioperasikan oleh swasta.
Dengan kata lain defisit atau krisis listrik terjadi karena adanya pertumbuhan konsumsi yang tidak bisa diimbangi dengan penambahan kapasitas produksi energi listrik PLN. Pertumbuhan konsumsi listrik tercatat naik tajam pada pertengahan 2008, setelah pemerintah mengumumkan kenaikan BBM. Setelah kenaikan harga BBM naik, dimana harga solar lebih mahal dari premium, banyak pelaku industri yang menggunakan listrik PLN sebagai sumber energi di industrinya. Pelaku usaha mengistirahatkan Genset mereka yang selama ini digunakan sebagai pemasok listrik secara swadaya, dan beralih menggunakan listrik PLN karena alasan ekonomis.
Kecenderungan pelaku usaha yang seperti ini, menyebabkan lonjakan permintaan akan kebutuhan energi listrik menjadi semain meningkat tajam. Buntutnya, terjadi pemadaman listrik secara bergiliran. Dan pada gilirannya pemadaman ini memukul produktifitas usaha karena industri tidak dapat berproduksi secara maksimal. Data pada 2008 menyebutkan bahwa sebagai akibat dari krisis listrik, industri hanya mampu menggunakan kapasitas produksinya antara 53,45 persen hingga 77,82 persen saja.
Sementara itu, perubahan iklim ternyata juga memberi andil besar bagi terciptanya krisis energi. Pada musim kemarau panjang aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tidak dapat bekerja optimal. Produktifitas PLTA turun tajam sebab debit air waduk juga berkurang. Sebagai contoh PLTA Mrica di Banjarnegara, untuk menghidupkan seluruh turbinnya agar dapat memasok listrik 2×60 Megawatt membutuhkan debit air 200 meter kubik per detik. Pada musim kemarau, debit air terus berkurang hingga mencapai puncak kemarau yang hanya menyisakan maksimal 30 meter kubik per detik. Dengan situasi seperti ini PLTA Mrica hanya mampu memasok listrik 60 Megawatt, untuk operasional sekitar 5 jam saja.

Kemungkinan terjadinya krisis energi, memang sudah diperkirakan sejak dulu. Karena itu berbagai riset mengenai pencarian sumber energi alternatif telah banyak dilakukan. Mulai dari sumber energi ramah lingkungan seperti pemanfaatan energi matahari (solar energy), angin, air terjun, sampai yang paling mengerikan yaitu nuklir. Bahkan pada dekade belakangan ini, berkembang wacana mengenai bio-fuel, sebagai alternatif sumber energi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan biogas yang berasal dari kotoran manusia serta hewan.

Untuk biogas, memang tidak begitu menimbulkan masalah. Namun untuk bio-fuel yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, yang kebanyakan diambilkan dari sumber tanaman pangan seperti biji-bijian, ubi, jagung, kelapa dan lain-lain, tentu saja akan makin mencemaskan. Mengingat krisis pangan sudah di depan mata. Ide mengenai bio-fuel ini, akan semakin mengancam ketersediaan pangan untuk manusia, dan akibatnya harga bahan pangan bisa dipastikan akan semakin meningkat tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: