Memahami Perkembangan Anak

Sebelum bayi lahir kedunia, kebanyakan orang tua mempunyai kecenderungan dan merasa sebagai “pemilik” anak. Kecenderungan ini dengan sendirinya telah menjadikan posisi anak sebagai obyek yang berada dalam penguasaan orang tua. Memang benar bawah setiap orang tua akan terpanggil dan merasa wajib untuk memberikan perlindungan dan perawatan terhadap anaknya, sejak dia lahir hingga dewasa.

Maka dalam rangka anggapan yang seperti itulah, orang tua banyak melakukan rencana, untuk memastikan bahwa masa depan anaknya dapat terjamin secara baik. Namun sayangnya upaya ini acapkali tidak sesuai dengan perkembangan anak yang berjalan secara alamiah. Bahkan terdapat beberapa hal yang justru malah berpotensi membahayakan anak.

Gencarnya iklan susu formula, telah menjadikan sebagian orang tua memperlakukan anaknya sebagai kelinci percobaan. Fenomena ini kerap terjadi manakala seorang anak sudah boleh mendapat asupan makanan pendamping ASI. Industri penyedia makanan tambahan bayi berlomba menawarkan formula paling ampuh yang diklaim mampu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan bayi ataupun anak-anak. Secara ilmiah memang beberapa zat diyakini sanggup memberikan nutrisi atau menstimulus sel-sel tertentu yang berguna bagi bayi atau anak. Namun kebenaran atas klaim tersebut hanya dapat dibuktikan dalam rentang waktu yang cukup lama, sementara efek samping yang ditimbulkan kerap diabaikan, semisal obesitas yang terjadi pada bayi dan anak.

Sebagian orang tua boleh dicurigai memiliki kepentingan egois untuk mengakomodasi kepuasan bagi dirinya sendiri, dimana dia akan senang bila buah hatinya tumbuh gemuk dan menggemaskan. Segala sesuatu yang dilakukan orang tua untuk buah hatinya, bisa jadi karena untuk mewakili kepentingan pribadinya agar bisa mendapat rasa puas itu. Dimana orang tua akan bangga manakala buah hatinya mendapat pujian karena gemuk, menggemaskan, lucu dan pintar. Sementara untuk mengetahui, apakah pujian tersebut memiliki arti bagi sang buah hati, hanya bayi itu sendirilah yang tahu.

Patut kita perhatikan bersama, banyak ahli tumbuh kembang anak yang pada saat ini justru mencemaskan fenomena obesitas yang dialami anak-anak. Kelebihan berat badan diyakini memiliki korelasi dangan perkembangan kemampuan gerak anak-anak. Dimana anak yang mengalami kegemukan biasanya kurang lincah dibanding anak-anak lain yang tidak mengalami obesitas. Selain itu, beban tubuhnya yang berat, menjadikan anak-anak yang mengalami kegemukan jadi lebih enggan untuk bergerak aktif. Akibatnya perkembangan gerak motorik tidak bisa terstimulasi secara maksimal. Selain itu timbunan lemak juga tidak bisa terbakar sempurna, dan ini akan mengundang persoalan baru yang berkaitan dengan kesehatannya.

Perkembangan anak bergerak dalam dua pola, yaitu pola cephalocaudal dan pola proximodistal. Pola cephalocaudal merupakan rangkaian dimana pertumbuhan tercepat selalu terjadi di kepala. Pertumbuhan fisik dalam ukuran, berat badan dan perbedaan ciri fisik secara bertahap bekerja dari atas ke bawah. Perkembangan sensoris dan motorik juga biasanya berproses menurut prinsip cephalocaudal. Dengan demikian maka sangat penting untuk berusaha menjaga agar kepala bayi jangan sampai mengalami cidera.

Cidera pada kepala bayi bisa dikarenakan benturan langsung ataupun guncangan. Dalam hal ini Hurlock mengingatkan kebiasaan orang tua yang kerap mengguncang-guncangkan bayinya untuk membuat sang bayi senang. Karena kebiasaan ini terkadang bisa berakibat fatal bagi sang bayi, sebab syaraf-syaraf dan otot bayi masih sangatlah lemah.

Orang tua juga harus lebih waspada dalam merawat buah hatinya manakala dia sudah memasuki usia 6 bulan. Karena pada usia ini bayi sudah mulai belajar untuk memindahkan tubuhnya. Pada fase ini kemungkinan terjadinya cidera pada bayi semakin tinggi, mengingat tingkat gerakannya yang semakin aktif. Bisa saja bayi berguling dan terjatuh dari ranjang, atau manakala dia mulai merangkak atau berjalan, ruang mobilitasnya akan semakin luas. Bisa saja dia terjatuh karena adanya perbedaan ketinggian lantai atau terpeleset.

Selain itu dengan semakin luasnya ruang mobilitas bayi, dia akan dapat menyentuh benda-benda yang bisa membahayakan dirinya. Di Indonesia terdapat banyak kasus anggota tubuh bayi yang tersengat knalpot sepeda motor yang masih panas. Selain itu, kejatuhan benda dari atas meja yang dia sentuh, terbentur benda keras atau terjatuh sendiri merupakan bentuk kecelakaan yang paling kerap dialami bayi. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bayi dapat tersengat aliran listrik dari benda-benda elektronik atau steker listrik yang terletak di bagian bawah.

Pada banyak kasus, terjadinya kecelakaan pada bayi bisa mempengaruhi perkembangan bayi, baik secara parsial maupun keseluruhan. Bahkan adakalanya kecelakaan ini bisa meninggalkan cacat tetap pada bayi. Untuk itu kewaspadaan orang tua dan pengasuh bayi sangatlah dibutuhkan, demi menghindarkan bayi dari kejadian-kejadian yang tidak diharapkan. Selain itu perlu diperhatikan juga faktor kebersihan rumah, terutama lantai.

Namun demikian kewaspadaan ini tidak perlu diikuti dengan kecemasan berlebih. Sebab kecemasan ini bisa menjadikan orang tua untuk mengambil sikap over protektif. Sikap ini bisa, berpotensi menghambat perkembangan anaknya. Karena takut anaknya akan mendapat hal buruk, maka orang tua yang protektif akan banyak memberikan larangan pada anaknya. Misalnya anak dilarang memanjat, mengangkat benda yang agak berat, atau bermain diluar rumah.

Melalui pemahaman terhadap tahapan-tahapan perkembangan bayi, maka orang tua atau pengasuh bayi diharap bisa segera tanggap dengan segala sesuatu perubahan yang ditampakkan bayi. Dari situ orang tua atau pengasuh bayi bisa memahami apakah perkembangan bayi yang diasuhnya sudah berjalan secara normal atau tidak. Dengan demikian intervensi atau tindakan dini bisa segera dilakukan, manakala ditemukan perubahan yang tidak sesuai dengan perkembangan bayi secara normal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: