Skandal Hukum Socrates dan Ironi Demokrasi

Abad 4 sebelum masehi, dunia pernah diguncang oleh skandal hukum legendaris. Dimana Socrates seorang filsuf Yunani kuno dijatuhi hukuman mati oleh penguasa, karena menolak ide tentang demokrasi. Namun bukan semata tragedi ini saja yang layak dikaji. Peristiwa perbincangan Socrates dengan seorang kawannya pada malam sebelum pelaksanaan eksekusi mati, merupakan substansi penting yang layak kita ambil hikmahnya.

Malam itu, sang kawan menyusup ke dalam sel tahanan Socrates, membujuknya untuk melarikan diri. Segala sesuatu sudah dipersiapkan. Mulai dari penjaga yang sudah disuap hingga kapal yang dipersiapkan untuk melarikan diri keluar negeri. Andaikata Socrates mau menerima bujukan itu, maka bukan hal sulit baginya untuk melarikan diri menyelamatkan jiwanya.

Namun Socrates menolak, dengan halus dia berujar, “andaikata kita tidak mau menghargai bahwa hukum adalah merupakan kesepakatan tertinggi, maka ketidak teraturanlah yang akan mewarnai kehidupan kita. Keadilan akan makin menjauh dan peradaban yang selama ini kita bangun akan musnah.” Selanjutnya Socrates mengajak semua sahabatnya untuk tetap menghargai hukum, sekalipun ketetapan hukum itu merugikan kita.

Maka sesuai ketetapan hukum yang telah dijatuhkan, pada keesokan paginya Socrates meneguk secawan anggur beracun. Mautpun menjemput. Inilah konsistensi Socrates dalam menghargai hukum sebagai kesepakatan tertinggi umat manusia.

Sejak jaman dulu, ternyata sudah ada pihak yang mencoba melakukan rekayasa terhadap ketetapan hukum. Apa yang dilakukan sahabat Socrates adalah merupakan salah satu manifestasi dari adanya mafia hukum. Aparat penegak hukum pada masa itu ternyata juga bisa disuap, hingga bersedia menyiapkan jalan bagi Socrates untuk melarikan diri. Namun Socrates enggan melarikan diri, karena bagi Socrates hukum berikut sanksinya adalah untuk dipatuhi bukan dihindari. Spirit moralitas seperti yang dipunyai Socrates inilah yang kini semakin tipis kita punyai.

Pada saat ini, hampir semua pihak yang memiliki perkara hukum akan berusaha menempuh cara apapun agar putusan hukum tidak merugikannya, bahkan bila perlu menghindarkannya dari jerat hukum. Keberadaan hukum sudah bukan lagi dipandang sebagai instrument yang melindungi hak-hak dan mengatur kewajiban manusia.  Karena hukum ternyata bisa dijadikan komoditi yang memiliki nilai  untuk diperjualbelikan. Dengan demikian, hukum hanya akan melindungi orang-orang yang mampu membelinya.

Dalam teori trias politica, hukum adalah salah satu pilar penyangga Negara, bersama dua pilar lain yaitu eksekutif dan legislatif. Ironisnya, yang terjadi di Indonesia sekarang adalah terciptanya perselingkuhan diantara ketiga pilar tersebut. Dampak yang muncul dari setiap perselingkuhan selalu sama; terciptanya kebohongan dan hilangnya kepercayaan. Munculnya rasa kecewa dan kemarahan karena merasa dikhianati.

Susana batin seperti itulah yang kini dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Membiarkan suasana batin seperti ini tetap ada, tumbuh dan berkembang di masyarakat, sama artinya dengan mengantar masyarakat menuju pintu gerbang anarki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: