Pembunuhan Wartawan Udin, 14 Tahun Tanpa Penyelesaian

Empat Belas tahun lalu, tepatnya tanggal 16 Agustus 1996, wartawan BERNAS Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin meninggal dunia di RS Bethesda Yogyakarta. Udin meninggal setelah dianiaya orang tidak dikenal pada 13 Agustus 1996 malam, dirumahnya dusun Samalo Jl Parangtritis KM 13 Patalan Bantul Yogyakarta.  Orang tidak dikenal yang berlagak sebagai tamu itu menghantam kepala Udin dengan sebatang besi satu kali. Namun, walaupun dengan sekali hantam, ternyata Udin mengalami cidera yang cukup parah pada kepalanya. Analisa dari berbagai kalangan menyimpulkan bahwa pembunuh Udin adalah orang terlatih yang paham betul dengan titik-titik mematikan pada anatomi tubuh seseorang.

Banyak pihak meyakini bahwa kematian Udin berkaitan dengan berita yang diwartakannya melalui harian BERNAS. Namun dalam proses selanjutnya, Dwi Sumaji alias Iwik didudukkan sebagai tersangka pembunuh Udin karena motif asmara atau perselingkuhan. Pengadilan akhirnya mampu membongkar rekayasa ini, dan Iwik dibebaskan dari segala tuntutan. Namun hingga saat ini, kasus pembunuhan Udin masih belum dapat diungkap dan menjadi X File. Bahkan berita yang dilansir Kompas.com tanggal 16 Agustus 2010 kemarin, menunjukkan adanya niatan sementara pihak yang menghendaki kasus Udin dinyatakan kedaluwarsa.

Kisah Udin di atas adalah penggalan perjalanan seorang jurnalis yang mencoba mewartakan kebenaran, dalam rangka memberikan kontribusi bagi penegakan hukum. Banyak pihak meyakini bahwa kematian Udin disebabkan berita yang ditulisnya. Coba kita perhatikan kutipan berita yang dilansir harian Suara Merdeka edisi 13 Agustus 2002 dibawah ini;

Kasus Udin

Memo Bupati “Sebelum 17 Ag Sudah Selesai”

YOGYAKARTA– Penyelidik Polda DIY diharapkan lebih serius lagi mengungkap kasus tewasnya wartawan harian Bernas Fuad M Syafrudin alias Udin. Keinginan itu muncul dalam diskusi bertajuk “Evaluasi 6 Tahun Kasus Udin” di LBH Yogyakarta, kemarin.

Dalam diskusi itu juga terungkap temuan Tim Pencari Fakta (TPF) PWI tentang memo Bupati Bantul (waktu itu) Sri Roso Sudarmo yang menuliskan, “Sebelum 17 Ag (Agustus-Red) sudah selesai”.

Mantan hakim PN Bantul Sahlan Said SH yang kini hakim di PN Magelang, Jawa Tengah, mengatakan dalam menangani kasus tindak pidana terhadap Udin seharusnya penyidik mengawali penyidikan dengan motivasi terjadinya tindak pidana.

“Mengapa waktu itu penyidik demikian bersikukuh bahwa Dwi Sumaji alias Iwik tersangka pelakunya berdasarkan latar belakang perselingkuhan. Padahal waktu itu Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk PWI dan masyarakat luas meyakini penganiayaan terjadi akibat pemberitaan yang dibuat Udin. Khususnya menyangkut kinerja Pemda Bantul yang dipimpin Bupati Sri Roso Sudarmo,” papar dia.

Dia mengatakan, dari beberapa kali rapat diketahui adanya keinginan kuat Bupati Sri Roso Sudarmo untuk menghukum Udin dan Bernas. Pernyataan Sahlan didukung temuan TPF PWI tentang adanya nota/memo Bupati. Isinya, “Sebelum 17 Ag (Agustus-Red) sudah selesai”.

Pada surat nomor 411.2/748 tanggal 26/7/1996 dari Camat Imogiri Bantul juga ada memo lain dari Bagian Hukum. Isinya, “Segera sebelum 17 Agust”.

Surat tersebut berisi penjelasan Camat Imogiri Hardi Purnomo BA tentang dana Inpres Desa Tertinggal (IDT) sehubungan dengan berita dugaan adanya penyelewengan dana yang dibuat Udin pada hari yang sama.

Sebelumnya Udin secara sendirian dan bersama wartawan Bernas lain membuat banyak berita yang diyakini “menyakitkan” jajaran Pemkab Bantul, terutama Bupati, antara lain tentang sumbangan Rp 1 miliar jika Sri Roso terpilih untuk periode jabatan kedua.

Tetapi keyakinan banyak pihak bahwa motif pembunuhan Udin bukanlah dikarenakan factor perselingkuhan, diabaikan begitu saja oleh pihak penyidik. Bahkan entah dengan motif apa penyidik malah membuat scenario dengan mendudukkan Iwik sebagai tersangka. Dan yang memalukan, scenario penyidik ini, tidak dapat dibuktikan kebenarannya di sidang pengadilan. Hal ini semakin meningkatkan kecurigaan masyarakat bahwa telah terjadi rekayasa dalam penanganan kasus ini yang dilakukan oleh pihak penyidik demi melindungi kepentingan orang tertentu.

Pembunuhan, ancaman dan terror kepada jurnalis memang tidak hanya dialami Udin. Tetapi kasus Udin menjadi menarik karena tidak ada “niatan” dari aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus ini. Bahkan wacana untuk menutup kasus ini, belakangan semakin gencar berhembus.

Berbeda dengan kasus pembunuhan wartawan Jawa Pos Gde Prabangsa di Bali. Dia juga dibunuh karena mengungkap berbagai penyimpangan dan korupsi di suatu Kabupaten di Bali. Namun aparat penegak hukum mampu mengungkap kasus ini dan menunjukkan bukti bahwa dia dibunuh oleh kerabat bupati yang bersangkutan.

Sungguh suatu harga yang sangat mahal dalam upaya mencari celah dalam ruang komunikasi yang pengap untuk dapat mewartakan kebenaran.

 

2 responses to this post.

  1. Posted by Gabriellzz A.P. on 15 Februari 2011 at 09:28

    mks y….. bisa nyelesain peer, ni….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: