MARHAENISME DAN DIALEKTIKA HISTORIS BANGSA INDONESIA

Pada bagian ini kita akan mencoba menjelajah rimba filsafat. Penjelajahan ini mau tidak mau harus dilakukan karena, kita tidak akan pernah bisa memahami Marhaenisme tanpa terlebih dahulu memahami basis ontologi dan epistemologinya. Dengan memahami dua fondasi yang jadi dasar pemikiran Marhaenisme ini, maka kita bisa menghindarkan diri dari jebakan-jebakan kategoris yang  selama ini ditiupkan sebagai stigma negatif oleh musuh-musuh Marhaenisme dan ideologi kiri lainnya.

Engels memisahkan para ahli filsafat dari jaman Yunani sampai pada masa hidupnya Marx-Engels dalam dua barisan. Pada satu barisan terdapat kaum Idealis yang bertentangan dengan barisan kedua, kaum materialis. Kaum Idealis “umumnya” memihak pada kaum yang berpunya dan berkuasa, sedangkan kaum materialis berpihak pada proletar dan kaum tertindas.

 

Biasanya musuh proletar, menerjemahkan dan menyamarkan “materialisme” itu sebagai ilmu yang berdasar atas daya upaya mencari kesenangan hidup tak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, kawin dan cerai sesukanya saja. Sedangkan idealisme itu diterjemahkan dan dijunjung tinggi sebagai satu ilmu berdasarkan kesucian yang paling tinggi, lebih memperhatikan berpikir dari pada makan, dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.

Namun kenyataan menunjukkan lain. Dalam keadaan yang sebenarnya dari kehidupan mereka,  seringkali kita menjumpai seseorang yang memangku paham idealis namun berprilaku yang bertolak belakang dari persangkaan mulia untuk kaum idealis itu. Pada sisi lain dalam kalangan materialis, banyak kita dapati orang yang memangku paham materialism ini hidup dengan segala kesederhanaan dan moralitas tinggi.

Inilah stigma negatif pertama yang harus kita pahami. Bahwa tidak benar paham materialisme ini hanya mementingkan kebutuhan kesenangan duniawi dengan mengabaikan tatanilai moralitas, etika dan agama.  Fitnah semacam ini selalu dilancarkan oleh pihak-pihak yang anti terhadap paham materialism. Dimana penganut paham materialisme diibaratkan hidup laksana binatang yang tidak punya pikiran dan moralitas, hidup hanya untuk memenuhi naluri kesenangannya saja.

Perlu kita pahami bersama bahwa pertentangan antara idealism dan materialism bukan terletak pada “selera” terhadap kesenangan duniawi, atau tentang perdebatan pada tataran moral, etika dan agama. Pertentangan antara kedua paham ini terletak pada cara berpikir dalam memahami realitas, bukan pada hal yang lain. Persoalan ini dulu yang harus kita jernihkan. Pertentangan ini berada pada wilayah ontologi filsafat, yang memperdebatkan tentang “apa-apa yang ada”, “apa-apa yang pertama” dan lain sebagainya.

Idealis dan materialis yang dijadikan Engels sebagai ukuran buat memisahkan para ahli filsafat dalam dua barisan, semata-mata berdasarkan atas sikap yang diambil si pemikir, ahli filsafat dalam persoalan yang sudah kita tuliskan lebih dahulu, yakni mana yang pertama, primus, mana yang kedua. Benda atau fikiran, matter atau idea. Yang mengatakan pikiran lebih dahulu, itulah pengikut idealisme, itulah yang idealis. Yang mengikut mengatakan materi terlebih dahulu, itulah yang materialis. Sebenarnya kita hanya butuh penjelasan sesederhana ini, untuk menunjukkan perbedaan antara materialism dengan idealism.

Sebagai contoh sederhana, mari kita memperdebatkan sesuatu yang sederhana dan kebetulan jadi makanan pokok bangsa barat yaitu roti. Bagaimana mula bukanya hingga bangsa barat memakan roti? Apakah karena mereka membuat konsep tentang apa yang akan mereka makan, baru kemudian mencari materi pembuatnya? Atau karena sudah tersedianya materi berupa tepung gandum terlebih dahulu, baru mereka tergerak untuk mengolah dan menyempurnakannya hingga jadi sebongkah roti seperti yang kita kenal dewasa ini.

Mana yang lebih dulu ada, materi berupa tepung gandum atau ide untuk membuat roti? Kira-kira pada wilayah seperti inilah perdebatan antara kaum idealism dan materialism terjadi. Andai mau konsisten, maka kaum idealis harus berpijak pada adanya ide terlebih dahulu yang ada, baru kemudian diadakan tepung gandum. Namun fakta menunjukkan hal yang sebaliknya; karena tersedianya materi berupa tepung terigu terlebih dahulu, maka manusia tergerak menyusun ide untuk mengolahnya.

Perdebatan ini kemudian ditarik meruncing ke atas, hingga mempertanyakan penyebab pertama (causa prima); yang ada pertama itu materi atau ide (roh)? Sejarah penciptaan manusia yang disebut oleh agama-agama menjelaskan bahwa Tuhan terlebih dahulu menciptakan tubuh (materi) manusia baru kemudian meniupkan roh ke dalamnya.

Mungkin ini masih belum memuaskan. Bagaimana dengan eksistensi Tuhan sebagai “pengada” pertama, apakah dia berupa materi atau ide (roh)? Sepanjang apapun akal manusia tidak akan pernah menyentuh tepian wacana ini. Namun andaikata keberadaan Tuhan tidak bisa dijelaskan sebagai suatu materi, apakah lantas cukup dilekatkan pada dirinya bahwa Tuhan adalah suatu “ide?”

Sebenarnya, andaikata sejarah bisa membuka ruang diskusi yang terbuka dan jujur, maka pertentangan antara kaum idealis dan materialis tidak perlu memuncak sampai pada permusuhan. Jika saja sejarah bisa secara lugas menjelaskan bahwa kaum idealis pada masa itu berpihak kepada golongan masyarakat berpunya dan berkuasa, sedangkan kaum materialis berpihak pada golongan masyarakat miskin yang tertindas, maka akan gamblang dihadapan kita bahwa pertentangan itu sebenarnya pertentangan yang bermuara pada akses ekonomi politik, bukan filsafat.

Namun keberpihakan ini pada akhirnya menjadikan filsafat hanya digunakan sebagai basis pembenar, sebagai rasionalisasi untuk menjelaskan suatu keadaan. Idealisme berbicara bahwa keadaan ini adalah takdir, dan kehendak roh baik. Maka menolak keadaan tersebut sama artinya dengan mengingkari takdir dan melawan kehendak roh baik. Bersandar pada variable “takdir” dan “kehendak roh baik” itulah maka idealism dapat semakin kokoh berdiri, karena mendapat topangan yang kuat dari golongan agama-agama, untuk tetap dapat mempertahankan keadaan yang mapan bersama golongan masyarakat berpunya dan berkuasa.

Pada sisi lain materialism berusaha keras untuk mencoba membongkar rasionalisasi tersebut dan mengatakannya sebagai manipulasi kesadaran. Materialisme selalu berusaha menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang ada, sekaligus menggugah kembali kesadaran aktual masyarakat kepada realitas yang ada. Bahwa ada manipulasi, ada diskriminasi, ada pengkastaan, ada ketidak adilan dan lain sebagainya.

Dengan demikian kiranya bisa dimengerti bahwa; idealism tidak selalu berhubungan dengan hal yang “baik-baik”, dan materialism tidak selalu berhubungan dengan hal yang “buruk-buruk”. Tidak seperti yang selama ini didengungkan dan dipropagandakan.

Soekarno sangat meyakini hal itu. Dia juga tidak sependapat bahwa materialism selalu berhubungan dengan hal yang “buruk-buruk”. Bahkan dengan pendekatan materialism pula Soekarno berusaha keras menggugah kesadaran masyarakat Indonesia untuk bangun bersama melawan belenggu penindasan colonial belanda. Dengan teori itu pulalah Soekarno merumuskan konsep Marhaenisme, yang menurutnya adalah ideologi yang paling pas dengan Indonesia. Sosialisme yang paling sesuai dengan kondisi Indonesia.
Maka untuk dapat memahami ajaran Marhaenisme Soekarno, terlebih dahulu kita harus mempelajari materialism dialektika historis, sebuah metode pendekatan yang digunakan Soekarno sebagai pisau analisa untuk mencungkil dan memotong kepalsuan kapitalisme dan imperialism. Basis teori untuk mengukuhkan bahwa Marhaenisme adalah suatu teori yang ilmiah.

MENGENAL MATERIALISME DIALEKTIKA HISTORIS

Sebelum masuk lebih dalam kepada Materialisme Dialektika Historis (MDH), marilah kita tengok bangunan epistemologis terlebih dahulu. Ilmu pengetahuan akan dikatakan ilmiah manakala dia memiliki metode epistemologi yang konsisten dan logis. Ada tiga metode yang lazim dikenal dalam epistemologi, yaitu empirisme, rasionalisme dan intuitif. Dibelahan dunia timur, intuitif bisa diterima sebagai sebuah pengetahuan. Namun dibelahan dunia barat intuitif ditolak sebagai pengetahuan karena tidak memiliki metode ilmiah.

Kenyataan ini mengingatkan kita bahwa sekalipun Soekarno adalah orang timur, namun karena metode yang digunakan dalam mengembangkan Marhaenisme tidak didasarkan pada factor intuisi, maka boleh dikata bahwa Marhaenisme cukup memenuhi syarat untuk disebut sebagai teori ilmiah. Bahkan metode  MDH adalah sebuah metode yang cukup maju, karena tidak sekedar mengandalkan factor logika saja.

Dunia mengenal logika dari Aristoteles. Dialah yang pertama kali menjadikan logika sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pembentukan itu sudah sampai begitu sempurna, hingga bisa dikatakan bahwa dari zaman Aristoteles sampai ke zaman John Stuart Mill dan Ueberweg, logika itu tidak banyak lagi mengalami perubahan penting. Dalam segala cabang ilmu pengetahuan, logika tidak dapat disingkirkan ataupun diabaikan.

Selain logika, filsuf-filsuf juga mengembangkan metode berpikir lain yang disebut dengan dialektika. Dengan makin majunya pengetahuan tentang semua benda dan gerakan benda, maka dialektika sebagai hukum berpikir yang berdasarkan pada benda dan gerakannya mendapat dorongan yang belum pernah dialaminya di dunia lampau.

Adakah perbedaan dan apakah perbedaan kedua hukum berpikir itu? Jawabannya ada. Logika dan dialektika, sekalipun sama-sama merupakan prinsip berpikir ternyata memiliki perbedaan, terutama sekali terletak pada cara menempatkan (barang) yang dikaji.

Pemakai logika menempatkan sesuatu yang diperiksa itu dalam keadaan berhenti (static), terpisah (distinct), tak berubah-ubah (unchangable) dan kekal. Sesuatu itu harus diselidiki satu persatu, terpisah-pisah dan dianggap tak berhubungan dan berkaitan satu dengan lainnya sesuai waktu dan tempat.

Pemakai dialektika menempatkan sesuatu yang diselidiki itu dalam keadaan bergerak (movement), berhubungan (connection), berubah-berubah (change) dan bertentangan. Sesuatu itu harus diselidiki dalam gerakan, pertentangan, timbul-tumbuh dan tumbangnya dalam suatu waktu pula.

Sebagi ilustrasi, kita bisa mencermati penjelasan Joule dan Mayer, yang menunjukkan bahwa panas bisa beralih menjadi listrik. Memang selama masih berada dalam jenis panas atau listrik kita bisa menjawab semua pertanyaan menurut logika, statistik, dan ukuran. Dengan pasti bisa dijawab, berapa derajatkah tingginya panas dan berapa satuan tenaga kudakah listrik. Juga bisa kita jawab pertanyaan Ueberweg, apakah ini panas atau listrik, dengan ya atau tidak. Tetapi apabila panas bukan lagi panas, namun belum lagi menjadi listrik, maka pertanyaan tadi tidak lagi dapat dijawab dengan ya atau tidak saja. Pertanyaan itu harus dijawab dengan ya dan tidak sekaligus.

Demikian pula dalam keadaan di mana satu kodrat sedang mengalami satu peralihan : seperti air sedang berubah menjadi uap, kodrat bergerak sedang beralih menjadi dinamo (listrik) dan sebagainya, atau satu zat sedang mengalami peralihan juga : atom beralih menjadi molekul, putih telur beralih menjadi benda hidup, tumbuhan beralih menjadi hewan dan 1001 contoh lainnya, maka logika statika dan ukur-mengukur secara matematika itu tidak berdaya lagi. Dalam hal ini maka dialektikalah yang sanggup memberi jawaban.

Apabila kepastian dalam peralihan itu sudah sempurna (air sudah menjadi uap, magnetisme sudah menjadi listrik, matahari sudah menjadi bumi, tumbuhan sudah menjadi hewan) maka dalam hal itu dapatlah dipergunakan logika, statika, matematika, dan ilmu ukur-mengukur serta timbang-menimbang.

Di belakang hari Ueberweg juga mengambil kesimpulan seperti berikut : Dalam soal yang gampang (simple) boleh dipakai logika. Tetapi dalam berurusan dengan pelbagai barang yang mengandung pelbagai sifat yang bertentangan, maka kita harus mengakui coincidence of oposites (perjumpaan beberapa pertentangan). Jadinya dalam hal ini boleh dipergunakan ya dan tidak sekaligus!

Dalam salah satu halaman buku karangannya yang berjudul logik, Hegel seorang raksasa filsafat Jerman berkata kurang lebih begini, “dialektik nennen wir solche geistlische Bewegung, bei denen das getrennt scheinenden durch ischselbst, d.h ducrh das, was sie sind in einander uebergehen, und so des getrent scheinenden aufheben”. Artinya kurang lebih :”Yang kita namakan dialektika ialah gerakan pikiran (rohani), ketika yang berbentuk saling terpisah itu, olehnya sendiri artinya terbawa oleh sifatnya sendiri saling berpindahan, dan dengan begitu, maka yang berbentuk keterpisahan itu ditiadakan (artinya bersatu kembali).”

Banyak persamaan antara Hegel dengan bekas muridnya Marx! Tetapi besar pula perbedaan di antara guru dan murid, setelah pikiran murid keluar dari kandungan pikiran gurunya.

Persamaan pertama,Kedua jenis pemikiran itu sama-sama mempergunakan cara dialektik, yakni menyelidiki sesuatu dalam keadaan bergerak, bertentangan timbul, tumbuh dan tumbang. Kedua, Keduanya sama-sama menolak pemisahan kekal antara ya dan tidak itu. Dalam gerakan tesis, antitesis, dan sintesis, maka akhirnya ya itu bisa menjadi tidak dan sebaliknya. Dalam gerakan itu maka perubahan quantity (jumlah) lambat laun beralih menjadi perubahan quality (sifat). Dengan demikian tercapailah Negation der Negation (peniadaan ketiadaan).

Mereka sama-sama tidak setuju dengan pemisahan kekal dan pertentangan kekal antara ya dan tidak itu. Mereka sama-sama juga menyelidiki sesuatu itu dalam suasana dialektika (gerakan pertentangan). Tetapi ada juga perbedaan besar antara kedua penganut dialektika itu.

Adapun Hegel menyandarkan dialektika itu kepada tafsiran dan teori idealisme. Sedangkan Marx mendasarkan dialektika itu atas teori dan tafsiran materialisme. Hegel adalah penganut dialektika idealistik. Marx dan teman pembentuknya Engels, adalah penganut dialektika materialistik.

Dalam “Dialektika dan Logika” maka Plekanov mengikhtiarkan perbedaan dialektika materialstik dan dialektika idealistik sebagai berikut; Dalam sistem Hegel, maka dialektika sama diri dengan metafisika. Bagi Marx dialektika bersendi atas ilmu ke-alam-an (hukum alam).

Dalam sistem Hegel, maka demiurge, creator atau pembikin yang nyata (reality), ialah absolute idea (akal atau ide mutlak). Bagi Marx, ide mutlak itu, cuma satu pemisahan (abstraction) dari gerakan. Dan oleh gerakan itu terjadilah semua perpaduan dari keadaan semua benda.

Menurut Hegel, paham itu maju disebabkan oleh keinsyafan dan penyelesaian beberapa pertentangan yang berada di dalam pikiran (concept). Menurut teori materialis, semua pertentangan yang ada dalam pikiran oleh dunia pikiran, atas pelbagai pertentangan yang ada itu adalah bayangan di otak manusia; adalah satu tafsiran pada dunia nyata (fenomena), sebagai akibat dari pertentangan yang terdapat pada dasarnya-bersama, yakni gerakan.

Menurut Hegel,  semua kemajuan yang nyata itu ditetapkan oleh kemajuan pikiran (idea). Menurut Marx, kemajuan pikiran itu dapat dijelaskan oleh kemajuan yang nyata, kemajuan paham oleh kemajuan hidup (manusia). Dengan demikian, di tangan Marx dan Engels dialektika dijadikan sebagai senjata revolusi.

Dialektika laksana selubung kudung gaib. Dialektika menjadi senjata kaum reaksioner di Jerman. Bagi Hegel dialektika adalah senjata revolusi terhadap kaum feudal, dan pada sisi lain berubah menjadi senjata reaksioner terhadap kaum proletar. Akan tetapi bagi  Marx dan Engels sebagai para pembela kaum proletar, maka dialektika yang bersandar pada materialismelah senjata yang tepat, tetap, dan sempurna untuk menghadapi  kaum feodal dan kaum borjuis sekaligus.

Namun demikian jangan lantas gegabah menyangka bahwa Hegel terus melayang-layang di dunia pikiran saja dengan tak pernah menginjakkan kakinya ke tanah-bukti (reality). Sebaliknya pula jangan pula mengira bahwa Marx dan Engels tak pernah melepaskan kakinya dari tanah-bukti dan tak pernah memasuki dunia cita-cita, pikiran,dan  ide. Kedua jenis pemikiran tadi maju berpikir dengan berpegangan kepada kedua dunia pikiran dan bumi-bukti.

Hegel pernah mengucapkan, bahwa rohani (spirit) itu adalah dasar pendorong (motive-principle) sejarah. Tetapi disamping itu, diucapkan pula bahwa keadaan ekonomi, pada satu tingkat menjadi kodrat yang berlaku dengan perantaraan (instrumentality) rohani. Marx, walaupun pada titik terakhir berpangkalan pada kebendaan ada juga mengucapkan pada suatu tingkat, maka rohani itu bisa pula menjadi kodrat yang arahnya ditentukan oleh keadaan ekonomi.

Dengan demikian, maka akhirnya jelas juga bagi kita persamaan dan perbedaan antara materialisme mekanik dan materialisme dialektik. Keduanya sama-sama bersandar kepada kebendaan. Tetapi bagi pengikut materialisme mekanik, maka manusia dengan pikiran, perasaan, dan kemauannya (ringkasnya manusia dengan jiwanya) seolah-olah tidak berdaya menghadapi alam raya dan hukumnya.

Sebaliknya bagi Marx dan Engels serta para pengikutnya, dalam wilayah yang dibatasi oleh keadaan masyarakat sendiri, manusia dengan jiwanya bukanlah suatu benda yang pasif, nrimo, seperti mesin saja. Beberapa ayat dari tulisan Marx yang memperlihatkan perlantunan (interaction, wissel werking) antara manusia dan alam di sekitarnya:

“Bumi sekeliling (geographical environment) mempengaruhi manusia dengan perantaraan kemajuan ekonomi, pada salah satu daerah, atas salah satu kodrat-produksi (force of production) yang sifatnya ditentukan pula oleh bumi sekelilingnya itu. Kodrat produksi (uap, listrik, atom dan lain-lain) mempertinggi kekuasaan manusia atas alam sekelilingnya. Keadaan ini membentuk hubungan baru antara manusia dan alam-sekitarnya. Manusia sambil bertindak terhadap alam sekitarnya, mengubah sekitarnya itu dan dengan begitu mengubah diri (jiwanya) sendiri”.

Akhirnya, sambil menghadapi kaum ahli filsafat, dalam 11 tesis Marx mengucapkan :

Die Filosopen hebben die Welt nu verschieden interpretiert. Es Kommt aber daraufan, die welt zu aendern” (Kaum ahli filsafat cuma berbeda dalam menafsirkan dunia ini, yang terpenting ialah mengubah dunia, yakni alam dan masyarakat kita ini).

Pemikiran yang bersandar kepada dialektika terus dilanjutkan oleh Marx dan teman sezamannya,  Frederich Engels. Di samping pujangga, kedua orang ini adalah ahli dan penggemar matematika yang kerap mempergunakan utopis sosialisme Perancis dan Inggris. mereka juga memanfaatkan teori Evolusi dari Charles Darwin, serta teori ekonomi Adam Smith dan David Ricardo dalam pembentukan teori mereka.

Dengan mendapatkan cause atau lebih tepat condition (keadaan), yakni sebab kemajuan masyarakat itu, maka sosialisme, yang berdasarkan impian (utopia) seperti dicetak oleh Thomas Moore, Saint Simon, Fourir, dan Robert Owen, berubah menjadi scientific socialism, yakni sosialisme ilmiah.

Adapun yang dianggap menjadi sebab (cause) perubahan, termasuk perubahan masyarakat, dari tingkat ke tingkat itu ialah perubahan sistem produksi dalam sejarah yang didasarkan pada benda yang nyata. Ini kemudian dinamai historical materialism (materialisme sejarah), yakni teori materialisme tentang sejarah. Pandangan hidupnya yang berkenan dengan kebendaan yang bergerak itu dinamai dengan Materialisme Dialektis.

Disebut materialisme karena matter, bendalah yang dianggap primus, pokok, asal di alam raya ini. Disebut pula dialektis karena cara menghampiri soal benda serta kejadian di alam raya ialah dalam keadaan bertentangan dan bergerak, yakni dalam keadaan timbul, tumbuh, dan tumbang.

Setelah Marx dan Engels mendapatkan cause atau condition,  maka berubah-bertukarlah pula sejarah manusia, dari satu kebetulan, dari satu nasib yang tiada bersebab dan tiada pula mengakibatkan sesuatu yang nyata, menjadi sesuatu peristiwa yang berpangkal, berujung, bersebab dan berakibat. Dengan begitu, maka berpindahlah pula ilmu sejarah itu dari dunia-gaib ke dunia nyata.

Demikianlah asal dan tujuan, serta lakonnya suatu masyarakat itu mulai dapat diselami oleh akal. Setelah segala kebendaan dan semua gerakannya dalam alam raya ini dipecah-pecah, dikupas, diselidiki, dan dipastikan hukumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: