Dampak dan Ancaman dari Pemanasan Global

Laporan dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) secara jelas menyatakan bahwa; tidak ada keraguan akan masalah perubahan iklim sebagai akibat dari fenomena pemanasan global. Laporan tersebut juga memastikan bukti-bukti dari perubahan iklim secara meyakinkan. Dengan menggunakan model dari IPCC, Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan temperatur rata-rata antara 0.1 sampai 0.3ºC per dekade. Kenaikan suhu ini akan berdampak pada iklim yang mempengaruhi manusia dan lingkungan sekitarnya, seperti kenaikan permukaan air laut dan kenaikan intensitas dan frekuensi dari hujan, badai tropis, serta kekeringan.

Dari kenaikan permukaan air laut antara 8-30 cm, sekitar  2000 pulau-pulau Indonesia diramalkan akan tenggelam atau hilang. Kehilangan pulau-pulau tersebut merupakan ancaman dari batas dan keamanan negara. Seperti yang dilaporkan oleh WGII (Working Group II-IPCC), kenaikan permukaan air laut ini akan mengakibatkan 30 juta orang yang hidup di ekosistem pantai terpaksa harus mengungsi dan Indonesia akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Pada musim penghujan, hujan diprediksikan akan menjadi lebih sering dengan intensitas curah hujan yang tinggi serta musim yang panjang. Sedangkan pada musim kemarau, Indonesia juga akan menghadapi kemungkinan kekeringan yang berkepanjangan. Pergeseran musim tersebut akan menjadi ancaman besar bagi sektor pertanian di Indonesia. Pada tahun 2007 produksi pertanian mengalami penurunan antara 7 sampai 18 persen, hal ini memaksa pemerintah untuk melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Artinya, sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim ini, pada kawasan yang curah hujannya menurun, sistem tanam pertaniannya akan rusak dan berpotensi pada penurunan produktifitas hasil pertanian. Sedangkan di sisi lain, peningkatan curah hujan yang berlebihan akan berpotensi membawa ancaman banjir yang dapat merusak sarana dan prasarana yang ada, termasuk lahan-lahan pertanian. Dengan kata lain, hal ini akan menjadi ancaman serius bagi ketersediaan pangan .

Perubahan iklim juga akan menambah daftar panjang ancaman bencana alam bagi Indonesia, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, serta badai tropis. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional Indonesia, dalam kurun waktu 2003-2005 bencana alam yang terkait dengan cuaca mencapai 1,429 kasus atau 53.3% dari total bencana alam yang terjadi di Indonesia. Data tersebut masih belum ditambah dengan kasus kebakaran hutan yang semakin parah. Pada bulan September 2006 saja tercatat ada 26,561 titik api, sementara  sepanjang tahun 1997 hanya tercatat  37,938 titik api.

Potensi timbulnya bencana alam sebagai akibat dari terjadinya pemanasan global juga makin membayang dipelupuk mata. Daerah hangat diperkirakan akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan. Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini. Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim .

Data mengenai perubahan tinggi rata-rata permukaan laut yang diukur pada daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologis, menunjukkan bahwa ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan air laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub,  yang akan makin memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi penduduk dari daerah pantai.

Selain itu dampak dari pemanasan global juga berpotensi mengancam kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Terutama karena  pemanasan global akan mempengaruhi perubahan lingkungan seperti: perubahan cuaca, ketinggian permukaan laut, pergeseran ekosistem serta degradasi lingkungan.

Perubahan cuaca dan ketinggian permukaan air laut dapat meningkatkan temperatur secara global (luas) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian, terutama bagi orang tua dan anak-anak. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan mengakibatkan kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian darurat yang biasanya tidak memiliki fasilitas sanitasi lingkungan yang memadai. Keterbatasan fasilitas sanitasi lingkungan ini akan diikuti pula dengan munculnya berbagai penyakit di tempat pengungsian seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem akan memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita ambil contoh meningkatnya kejadian Demam Berdarah. Nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor penyakit ini memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas. Hal itulah yang menyebabkan penyakit ini lebih banyak berkembang di daerah perkotaan yang panas dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Namun dengan terjadinya Global Warming, dimana terjadi pemanasan secara global, maka daerah pegunungan pun mulai meningkat suhunya, sehingga memberikan ruang (ekosistem) baru bagi nyamuk ini untuk berkembang biak.

Degradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga memberi kontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Polusi udara sebagai hasil dari emisi gas-gas pabrik dan kendaraan bermotor yang tidak terkontrol, memiliki andil besar bagi munculnya  penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung, paru kronis, dan lain-lain .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: