Archive for Desember 23rd, 2010

Skandal Hukum Socrates dan Ironi Demokrasi

Abad 4 sebelum masehi, dunia pernah diguncang oleh skandal hukum legendaris. Dimana Socrates seorang filsuf Yunani kuno dijatuhi hukuman mati oleh penguasa, karena menolak ide tentang demokrasi. Namun bukan semata tragedi ini saja yang layak dikaji. Peristiwa perbincangan Socrates dengan seorang kawannya pada malam sebelum pelaksanaan eksekusi mati, merupakan substansi penting yang layak kita ambil hikmahnya.

Malam itu, sang kawan menyusup ke dalam sel tahanan Socrates, membujuknya untuk melarikan diri. Segala sesuatu sudah dipersiapkan. Mulai dari penjaga yang sudah disuap hingga kapal yang dipersiapkan untuk melarikan diri keluar negeri. Andaikata Socrates mau menerima bujukan itu, maka bukan hal sulit baginya untuk melarikan diri menyelamatkan jiwanya.

Namun Socrates menolak, dengan halus dia berujar, “andaikata kita tidak mau menghargai bahwa hukum adalah merupakan kesepakatan tertinggi, maka ketidak teraturanlah yang akan mewarnai kehidupan kita. Keadilan akan makin menjauh dan peradaban yang selama ini kita bangun akan musnah.” Selanjutnya Socrates mengajak semua sahabatnya untuk tetap menghargai hukum, sekalipun ketetapan hukum itu merugikan kita.

Maka sesuai ketetapan hukum yang telah dijatuhkan, pada keesokan paginya Socrates meneguk secawan anggur beracun. Mautpun menjemput. Inilah konsistensi Socrates dalam menghargai hukum sebagai kesepakatan tertinggi umat manusia.

Sejak jaman dulu, ternyata sudah ada pihak yang mencoba melakukan rekayasa terhadap ketetapan hukum. Apa yang dilakukan sahabat Socrates adalah merupakan salah satu manifestasi dari adanya mafia hukum. Aparat penegak hukum pada masa itu ternyata juga bisa disuap, hingga bersedia menyiapkan jalan bagi Socrates untuk melarikan diri. Namun Socrates enggan melarikan diri, karena bagi Socrates hukum berikut sanksinya adalah untuk dipatuhi bukan dihindari. Spirit moralitas seperti yang dipunyai Socrates inilah yang kini semakin tipis kita punyai.

Pada saat ini, hampir semua pihak yang memiliki perkara hukum akan berusaha menempuh cara apapun agar putusan hukum tidak merugikannya, bahkan bila perlu menghindarkannya dari jerat hukum. Keberadaan hukum sudah bukan lagi dipandang sebagai instrument yang melindungi hak-hak dan mengatur kewajiban manusia.  Karena hukum ternyata bisa dijadikan komoditi yang memiliki nilai  untuk diperjualbelikan. Dengan demikian, hukum hanya akan melindungi orang-orang yang mampu membelinya.

Dalam teori trias politica, hukum adalah salah satu pilar penyangga Negara, bersama dua pilar lain yaitu eksekutif dan legislatif. Ironisnya, yang terjadi di Indonesia sekarang adalah terciptanya perselingkuhan diantara ketiga pilar tersebut. Dampak yang muncul dari setiap perselingkuhan selalu sama; terciptanya kebohongan dan hilangnya kepercayaan. Munculnya rasa kecewa dan kemarahan karena merasa dikhianati.

Susana batin seperti itulah yang kini dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Membiarkan suasana batin seperti ini tetap ada, tumbuh dan berkembang di masyarakat, sama artinya dengan mengantar masyarakat menuju pintu gerbang anarki.

Iklan

Dampak dan Ancaman dari Pemanasan Global

Laporan dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) secara jelas menyatakan bahwa; tidak ada keraguan akan masalah perubahan iklim sebagai akibat dari fenomena pemanasan global. Laporan tersebut juga memastikan bukti-bukti dari perubahan iklim secara meyakinkan. Dengan menggunakan model dari IPCC, Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan temperatur rata-rata antara 0.1 sampai 0.3ºC per dekade. Kenaikan suhu ini akan berdampak pada iklim yang mempengaruhi manusia dan lingkungan sekitarnya, seperti kenaikan permukaan air laut dan kenaikan intensitas dan frekuensi dari hujan, badai tropis, serta kekeringan.

Dari kenaikan permukaan air laut antara 8-30 cm, sekitar  2000 pulau-pulau Indonesia diramalkan akan tenggelam atau hilang. Kehilangan pulau-pulau tersebut merupakan ancaman dari batas dan keamanan negara. Seperti yang dilaporkan oleh WGII (Working Group II-IPCC), kenaikan permukaan air laut ini akan mengakibatkan 30 juta orang yang hidup di ekosistem pantai terpaksa harus mengungsi dan Indonesia akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Pada musim penghujan, hujan diprediksikan akan menjadi lebih sering dengan intensitas curah hujan yang tinggi serta musim yang panjang. Sedangkan pada musim kemarau, Indonesia juga akan menghadapi kemungkinan kekeringan yang berkepanjangan. Pergeseran musim tersebut akan menjadi ancaman besar bagi sektor pertanian di Indonesia. Pada tahun 2007 produksi pertanian mengalami penurunan antara 7 sampai 18 persen, hal ini memaksa pemerintah untuk melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Artinya, sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim ini, pada kawasan yang curah hujannya menurun, sistem tanam pertaniannya akan rusak dan berpotensi pada penurunan produktifitas hasil pertanian. Sedangkan di sisi lain, peningkatan curah hujan yang berlebihan akan berpotensi membawa ancaman banjir yang dapat merusak sarana dan prasarana yang ada, termasuk lahan-lahan pertanian. Dengan kata lain, hal ini akan menjadi ancaman serius bagi ketersediaan pangan .

Perubahan iklim juga akan menambah daftar panjang ancaman bencana alam bagi Indonesia, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, serta badai tropis. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional Indonesia, dalam kurun waktu 2003-2005 bencana alam yang terkait dengan cuaca mencapai 1,429 kasus atau 53.3% dari total bencana alam yang terjadi di Indonesia. Data tersebut masih belum ditambah dengan kasus kebakaran hutan yang semakin parah. Pada bulan September 2006 saja tercatat ada 26,561 titik api, sementara  sepanjang tahun 1997 hanya tercatat  37,938 titik api.

Potensi timbulnya bencana alam sebagai akibat dari terjadinya pemanasan global juga makin membayang dipelupuk mata. Daerah hangat diperkirakan akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan. Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini. Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim .

Data mengenai perubahan tinggi rata-rata permukaan laut yang diukur pada daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologis, menunjukkan bahwa ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan air laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub,  yang akan makin memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi penduduk dari daerah pantai.

Selain itu dampak dari pemanasan global juga berpotensi mengancam kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Terutama karena  pemanasan global akan mempengaruhi perubahan lingkungan seperti: perubahan cuaca, ketinggian permukaan laut, pergeseran ekosistem serta degradasi lingkungan.

Perubahan cuaca dan ketinggian permukaan air laut dapat meningkatkan temperatur secara global (luas) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian, terutama bagi orang tua dan anak-anak. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan mengakibatkan kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian darurat yang biasanya tidak memiliki fasilitas sanitasi lingkungan yang memadai. Keterbatasan fasilitas sanitasi lingkungan ini akan diikuti pula dengan munculnya berbagai penyakit di tempat pengungsian seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem akan memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita ambil contoh meningkatnya kejadian Demam Berdarah. Nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor penyakit ini memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas. Hal itulah yang menyebabkan penyakit ini lebih banyak berkembang di daerah perkotaan yang panas dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Namun dengan terjadinya Global Warming, dimana terjadi pemanasan secara global, maka daerah pegunungan pun mulai meningkat suhunya, sehingga memberikan ruang (ekosistem) baru bagi nyamuk ini untuk berkembang biak.

Degradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga memberi kontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Polusi udara sebagai hasil dari emisi gas-gas pabrik dan kendaraan bermotor yang tidak terkontrol, memiliki andil besar bagi munculnya  penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung, paru kronis, dan lain-lain .

Penyebab dan Pengertian Pemanasan Global

Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca. Rumah Kaca adalah istilah yang dipergunakan untuk memberi perumpamaan terhadap sebuah proses akumulasi emisi gas pada lapisan atmosfer bumi, yang berupa selimut gas seperti gelas kaca yang membungkus bumi. Panas matahari yang masuk ke bumi berupa radiasi gelombang pendek, yang sebagian diserap oleh bumi dan sisanya akan dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun dikarenakan adanya “gelas kaca” yang semakin pekat menyelimuti atmosfer bumi, maka panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa, justru malah terperangkap di dalam bumi. Akibatnya, panas matahari yang tidak dapat dipantulkan ke angkasa akan meningkat pula, dan menyebabkan panas matahari mengendap di dalam atmosfer bumi.

Semua proses itulah yang disebut Efek Rumah Kaca. Rumah kaca adalah perumpamaan yang dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa di lapisan atmosfer bumi terdapat semacam selimut gas, yang menyerupai gelas kaca. Selimut gas rumah kaca tersebut terdiri dari karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Jenis gas rumah kaca yang memberikan sumbangan paling besar bagi emisi gas rumah kaca adalah karbondioksida, metana, dan dinitro oksida. Sebagian besar emisi gas tersebut dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) di sektor industri energi (36%), sektor transportasi (27%), sektor industri manufaktur (21%) serta sektor rumah tangga dan jasa (15%),

Sumber utama penghasil emisi karbondioksida terbesar ada dua macam. Pertama, pembangkit listrik bertenaga batubara. Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi yang terbuang adalah 65 unit. Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun. Sedangkan yang kedua adalah kendaraan bermotor. Sebuah kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton karbondioksida ke udara.

Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan bahwa efek rumah kaca tersebut benar-benar terjadi, dan menjadi penyebab dari pemanasan global. Pertama, berdasarkan ilmu fisika, beberapa gas mempunyai kemampuan untuk menahan panas. Kedua, pengukuran yang dilakukan sejak tahun 1950-an menunjukkan tingkat konsentrasi gas rumah kaca meningkat secara tetap, dan peningkatan ini berhubungan dengan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan industri dan berbagai aktivitas manusia lainnya. Ketiga, penelitian menunjukkan adanya udara yang terperangkap di dalam gunung es yang telah berusia 250 ribu tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa konsentrasi gas rumah kaca di udara, berbeda-beda di masa lalu dan masa kini. Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan temperatur. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca ini, ternyata naik tajam setelah revolusi industri.


 

Kerusakan Lingkungan dan Politik Ekologi

Kerusakan lingkungan yang terjadi dewasa ini harus kita pahami sebagai persoalan serius, yang mengancam kelangsungan dan kualitas hidup semua makhluk dimuka bumi ini. Kerusakan lingkungan bukan saja telah terjadi di permukaan dan perut bumi saja, tetapi juga sudah merambah ke lapisan atmosfer di langit.  Disadari atau tidak, sebenarnya kita sudah tidak lagi memiliki tempat aman untuk berpijak .

Ada dua perspektif pendekatan untuk mengetahui, kenapa kerusakan lingkungan ini semakin menjadi-jadi. Pertama, perspektif kelangkaan (environmental scarcity), yang menjelaskan bahwa, kerusakan lingkungan disebabkan oleh adanya konflik penguasaan sumber daya. Konflik ini merupakan akibat dari pertambahan penduduk yang meningkat tajam, yang selanjutnya diikuti pula dengan tingginya permintaan terhadap hasil dari suatu sumber daya alam yang terbarukan (renewable resources). Dampak lebih lanjut dari meningkatnya permintaan terhadap hasil dari suatu sumber daya alam ini adalah, menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya itu sendiri. Situasi ini mendorong terjadinya eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam. Dan pada gilirannya, eksploitasi ini akan mengakibatkan kerusakan lingkungan, kelangkaan sumber daya, dan melahirkan konflik sosial.

Kedua, perspektif politik ekologi, yang menjelaskan bahwa; kerusakan lingkungan dan konflik tidak terlepas dari aspek kepentingan politik-ekonomi. Cara pandang ini berusaha menjelaskan masalah kerusakan lingkungan dengan memperhitungkan aspek kekuasaan, keadilan distribusi, cara pengontrolan, kepentingan jejaring lokal-nasional-global, kesejarahan, gender, dan peran aktor (Peluso dan Watts, 2001). Ketajaman perspektif politik ekologi terlihat dalam cara memahami kerusakan lingkungan sebagai akibat dari praktik kekuasaan dan pasar. Kerusakan di suatu wilayah bisa jadi karena adanya kekuatan pasar global yang tidak terlibat secara langsung. Kasus konflik dan kebakaran hutan, selalu terkait dengan kepentingan politik, ekonomi, pasar, dan terutama tentang cara pengontrolan terhadap pengelolaan sumber daya alam. Bukan karena kelangkaan.

Dari uraian diatas terlihat bahwa perspektif “kelangkaan” akan mendorong isu kerusakan lingkungan sebagai hubungan “sebab-akibat” yang wajar, antara jumlah penduduk, permintaan, dan kelangkaan. Sebaliknya, perspektif politik ekologi justru menegaskan bahwa; kerusakan lingkungan terjadi karena adanya kesalahan dalam mengurus sumber daya alam, yang dilakukan oleh pihak yang berkuasa.

Aktivis lingkungan hidup, kebanyakan menggunakan perspektif politik ekologi dalam melakukan analisa dan advokasi terhadap kerusakan lingkungan. Sementara pihak pemerintah dan dunia usaha cenderung menggunakan perspektif kelangkaan. Sebenarnya kedua perspektif pendekatan di atas, merupakan kesatuan perspektif yang tidak perlu saling dipertentangkan. Sebab kita menyadari bahwa kerusakan lingkungan bisa terjadi karena adanya kelangkaan serta kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang tidak berpihak  kepada lingkungan.

Masalah kita sekarang bukanlah sekedar mencari kambing hitam atau pihak-pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban sehubungan dengan terjadinya kerusakan lingkungan tersebut. Akan tetapi yang lebih penting lagi, kita harus melangkah lebih maju untuk mendorong setiap orang agar mau terlibat dan berpartisipasi aktif dalam usaha-usaha pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkungan.

Kerusakan lingkungan yang terjadi pada permukaan dan perut bumi, tentulah akan menjadi persoalan bagi masing-masing negara yang bersangkutan. Akan tetapi kerusakan lingkungan yang terjadi pada atmosfer bumi, akan menjadi persoalan bersama bagi tiap negara yang ada di muka bumi ini. Dan celakanya, dewasa ini isu mengenai kerusakan pada lapisan atmosfer bumi, sudah bukan merupakan prediksi atau ramalan lagi. Kerusakan itu sudah terjadi, dan sudah menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Isu tentang fenomena pemanasan global, pada saat ini menjadi perhatian utama pada tiap kajian tentang lingkungan. Dan menjadi keprihatinan bersama seluruh negara di dunia.

Pembunuhan Wartawan Udin, 14 Tahun Tanpa Penyelesaian

Empat Belas tahun lalu, tepatnya tanggal 16 Agustus 1996, wartawan BERNAS Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin meninggal dunia di RS Bethesda Yogyakarta. Udin meninggal setelah dianiaya orang tidak dikenal pada 13 Agustus 1996 malam, dirumahnya dusun Samalo Jl Parangtritis KM 13 Patalan Bantul Yogyakarta.  Orang tidak dikenal yang berlagak sebagai tamu itu menghantam kepala Udin dengan sebatang besi satu kali. Namun, walaupun dengan sekali hantam, ternyata Udin mengalami cidera yang cukup parah pada kepalanya. Analisa dari berbagai kalangan menyimpulkan bahwa pembunuh Udin adalah orang terlatih yang paham betul dengan titik-titik mematikan pada anatomi tubuh seseorang.

Banyak pihak meyakini bahwa kematian Udin berkaitan dengan berita yang diwartakannya melalui harian BERNAS. Namun dalam proses selanjutnya, Dwi Sumaji alias Iwik didudukkan sebagai tersangka pembunuh Udin karena motif asmara atau perselingkuhan. Pengadilan akhirnya mampu membongkar rekayasa ini, dan Iwik dibebaskan dari segala tuntutan. Namun hingga saat ini, kasus pembunuhan Udin masih belum dapat diungkap dan menjadi X File. Bahkan berita yang dilansir Kompas.com tanggal 16 Agustus 2010 kemarin, menunjukkan adanya niatan sementara pihak yang menghendaki kasus Udin dinyatakan kedaluwarsa.

Kisah Udin di atas adalah penggalan perjalanan seorang jurnalis yang mencoba mewartakan kebenaran, dalam rangka memberikan kontribusi bagi penegakan hukum. Banyak pihak meyakini bahwa kematian Udin disebabkan berita yang ditulisnya. Coba kita perhatikan kutipan berita yang dilansir harian Suara Merdeka edisi 13 Agustus 2002 dibawah ini;

Kasus Udin

Memo Bupati “Sebelum 17 Ag Sudah Selesai”

YOGYAKARTA– Penyelidik Polda DIY diharapkan lebih serius lagi mengungkap kasus tewasnya wartawan harian Bernas Fuad M Syafrudin alias Udin. Keinginan itu muncul dalam diskusi bertajuk “Evaluasi 6 Tahun Kasus Udin” di LBH Yogyakarta, kemarin.

Dalam diskusi itu juga terungkap temuan Tim Pencari Fakta (TPF) PWI tentang memo Bupati Bantul (waktu itu) Sri Roso Sudarmo yang menuliskan, “Sebelum 17 Ag (Agustus-Red) sudah selesai”.

Mantan hakim PN Bantul Sahlan Said SH yang kini hakim di PN Magelang, Jawa Tengah, mengatakan dalam menangani kasus tindak pidana terhadap Udin seharusnya penyidik mengawali penyidikan dengan motivasi terjadinya tindak pidana.

“Mengapa waktu itu penyidik demikian bersikukuh bahwa Dwi Sumaji alias Iwik tersangka pelakunya berdasarkan latar belakang perselingkuhan. Padahal waktu itu Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk PWI dan masyarakat luas meyakini penganiayaan terjadi akibat pemberitaan yang dibuat Udin. Khususnya menyangkut kinerja Pemda Bantul yang dipimpin Bupati Sri Roso Sudarmo,” papar dia.

Dia mengatakan, dari beberapa kali rapat diketahui adanya keinginan kuat Bupati Sri Roso Sudarmo untuk menghukum Udin dan Bernas. Pernyataan Sahlan didukung temuan TPF PWI tentang adanya nota/memo Bupati. Isinya, “Sebelum 17 Ag (Agustus-Red) sudah selesai”.

Pada surat nomor 411.2/748 tanggal 26/7/1996 dari Camat Imogiri Bantul juga ada memo lain dari Bagian Hukum. Isinya, “Segera sebelum 17 Agust”.

Surat tersebut berisi penjelasan Camat Imogiri Hardi Purnomo BA tentang dana Inpres Desa Tertinggal (IDT) sehubungan dengan berita dugaan adanya penyelewengan dana yang dibuat Udin pada hari yang sama.

Sebelumnya Udin secara sendirian dan bersama wartawan Bernas lain membuat banyak berita yang diyakini “menyakitkan” jajaran Pemkab Bantul, terutama Bupati, antara lain tentang sumbangan Rp 1 miliar jika Sri Roso terpilih untuk periode jabatan kedua.

Tetapi keyakinan banyak pihak bahwa motif pembunuhan Udin bukanlah dikarenakan factor perselingkuhan, diabaikan begitu saja oleh pihak penyidik. Bahkan entah dengan motif apa penyidik malah membuat scenario dengan mendudukkan Iwik sebagai tersangka. Dan yang memalukan, scenario penyidik ini, tidak dapat dibuktikan kebenarannya di sidang pengadilan. Hal ini semakin meningkatkan kecurigaan masyarakat bahwa telah terjadi rekayasa dalam penanganan kasus ini yang dilakukan oleh pihak penyidik demi melindungi kepentingan orang tertentu.

Pembunuhan, ancaman dan terror kepada jurnalis memang tidak hanya dialami Udin. Tetapi kasus Udin menjadi menarik karena tidak ada “niatan” dari aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus ini. Bahkan wacana untuk menutup kasus ini, belakangan semakin gencar berhembus.

Berbeda dengan kasus pembunuhan wartawan Jawa Pos Gde Prabangsa di Bali. Dia juga dibunuh karena mengungkap berbagai penyimpangan dan korupsi di suatu Kabupaten di Bali. Namun aparat penegak hukum mampu mengungkap kasus ini dan menunjukkan bukti bahwa dia dibunuh oleh kerabat bupati yang bersangkutan.

Sungguh suatu harga yang sangat mahal dalam upaya mencari celah dalam ruang komunikasi yang pengap untuk dapat mewartakan kebenaran.

 

MARHAENISME DAN DIALEKTIKA HISTORIS BANGSA INDONESIA

Pada bagian ini kita akan mencoba menjelajah rimba filsafat. Penjelajahan ini mau tidak mau harus dilakukan karena, kita tidak akan pernah bisa memahami Marhaenisme tanpa terlebih dahulu memahami basis ontologi dan epistemologinya. Dengan memahami dua fondasi yang jadi dasar pemikiran Marhaenisme ini, maka kita bisa menghindarkan diri dari jebakan-jebakan kategoris yang  selama ini ditiupkan sebagai stigma negatif oleh musuh-musuh Marhaenisme dan ideologi kiri lainnya.

Engels memisahkan para ahli filsafat dari jaman Yunani sampai pada masa hidupnya Marx-Engels dalam dua barisan. Pada satu barisan terdapat kaum Idealis yang bertentangan dengan barisan kedua, kaum materialis. Kaum Idealis “umumnya” memihak pada kaum yang berpunya dan berkuasa, sedangkan kaum materialis berpihak pada proletar dan kaum tertindas.

 

Biasanya musuh proletar, menerjemahkan dan menyamarkan “materialisme” itu sebagai ilmu yang berdasar atas daya upaya mencari kesenangan hidup tak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, kawin dan cerai sesukanya saja. Sedangkan idealisme itu diterjemahkan dan dijunjung tinggi sebagai satu ilmu berdasarkan kesucian yang paling tinggi, lebih memperhatikan berpikir dari pada makan, dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.

Namun kenyataan menunjukkan lain. Dalam keadaan yang sebenarnya dari kehidupan mereka,  seringkali kita menjumpai seseorang yang memangku paham idealis namun berprilaku yang bertolak belakang dari persangkaan mulia untuk kaum idealis itu. Pada sisi lain dalam kalangan materialis, banyak kita dapati orang yang memangku paham materialism ini hidup dengan segala kesederhanaan dan moralitas tinggi.

Inilah stigma negatif pertama yang harus kita pahami. Bahwa tidak benar paham materialisme ini hanya mementingkan kebutuhan kesenangan duniawi dengan mengabaikan tatanilai moralitas, etika dan agama.  Fitnah semacam ini selalu dilancarkan oleh pihak-pihak yang anti terhadap paham materialism. Dimana penganut paham materialisme diibaratkan hidup laksana binatang yang tidak punya pikiran dan moralitas, hidup hanya untuk memenuhi naluri kesenangannya saja.

Perlu kita pahami bersama bahwa pertentangan antara idealism dan materialism bukan terletak pada “selera” terhadap kesenangan duniawi, atau tentang perdebatan pada tataran moral, etika dan agama. Pertentangan antara kedua paham ini terletak pada cara berpikir dalam memahami realitas, bukan pada hal yang lain. Persoalan ini dulu yang harus kita jernihkan. Pertentangan ini berada pada wilayah ontologi filsafat, yang memperdebatkan tentang “apa-apa yang ada”, “apa-apa yang pertama” dan lain sebagainya.

Idealis dan materialis yang dijadikan Engels sebagai ukuran buat memisahkan para ahli filsafat dalam dua barisan, semata-mata berdasarkan atas sikap yang diambil si pemikir, ahli filsafat dalam persoalan yang sudah kita tuliskan lebih dahulu, yakni mana yang pertama, primus, mana yang kedua. Benda atau fikiran, matter atau idea. Yang mengatakan pikiran lebih dahulu, itulah pengikut idealisme, itulah yang idealis. Yang mengikut mengatakan materi terlebih dahulu, itulah yang materialis. Sebenarnya kita hanya butuh penjelasan sesederhana ini, untuk menunjukkan perbedaan antara materialism dengan idealism.

Sebagai contoh sederhana, mari kita memperdebatkan sesuatu yang sederhana dan kebetulan jadi makanan pokok bangsa barat yaitu roti. Bagaimana mula bukanya hingga bangsa barat memakan roti? Apakah karena mereka membuat konsep tentang apa yang akan mereka makan, baru kemudian mencari materi pembuatnya? Atau karena sudah tersedianya materi berupa tepung gandum terlebih dahulu, baru mereka tergerak untuk mengolah dan menyempurnakannya hingga jadi sebongkah roti seperti yang kita kenal dewasa ini.

Mana yang lebih dulu ada, materi berupa tepung gandum atau ide untuk membuat roti? Kira-kira pada wilayah seperti inilah perdebatan antara kaum idealism dan materialism terjadi. Andai mau konsisten, maka kaum idealis harus berpijak pada adanya ide terlebih dahulu yang ada, baru kemudian diadakan tepung gandum. Namun fakta menunjukkan hal yang sebaliknya; karena tersedianya materi berupa tepung terigu terlebih dahulu, maka manusia tergerak menyusun ide untuk mengolahnya.

Perdebatan ini kemudian ditarik meruncing ke atas, hingga mempertanyakan penyebab pertama (causa prima); yang ada pertama itu materi atau ide (roh)? Sejarah penciptaan manusia yang disebut oleh agama-agama menjelaskan bahwa Tuhan terlebih dahulu menciptakan tubuh (materi) manusia baru kemudian meniupkan roh ke dalamnya.

Mungkin ini masih belum memuaskan. Bagaimana dengan eksistensi Tuhan sebagai “pengada” pertama, apakah dia berupa materi atau ide (roh)? Sepanjang apapun akal manusia tidak akan pernah menyentuh tepian wacana ini. Namun andaikata keberadaan Tuhan tidak bisa dijelaskan sebagai suatu materi, apakah lantas cukup dilekatkan pada dirinya bahwa Tuhan adalah suatu “ide?”

Sebenarnya, andaikata sejarah bisa membuka ruang diskusi yang terbuka dan jujur, maka pertentangan antara kaum idealis dan materialis tidak perlu memuncak sampai pada permusuhan. Jika saja sejarah bisa secara lugas menjelaskan bahwa kaum idealis pada masa itu berpihak kepada golongan masyarakat berpunya dan berkuasa, sedangkan kaum materialis berpihak pada golongan masyarakat miskin yang tertindas, maka akan gamblang dihadapan kita bahwa pertentangan itu sebenarnya pertentangan yang bermuara pada akses ekonomi politik, bukan filsafat.

Namun keberpihakan ini pada akhirnya menjadikan filsafat hanya digunakan sebagai basis pembenar, sebagai rasionalisasi untuk menjelaskan suatu keadaan. Idealisme berbicara bahwa keadaan ini adalah takdir, dan kehendak roh baik. Maka menolak keadaan tersebut sama artinya dengan mengingkari takdir dan melawan kehendak roh baik. Bersandar pada variable “takdir” dan “kehendak roh baik” itulah maka idealism dapat semakin kokoh berdiri, karena mendapat topangan yang kuat dari golongan agama-agama, untuk tetap dapat mempertahankan keadaan yang mapan bersama golongan masyarakat berpunya dan berkuasa.

Pada sisi lain materialism berusaha keras untuk mencoba membongkar rasionalisasi tersebut dan mengatakannya sebagai manipulasi kesadaran. Materialisme selalu berusaha menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang ada, sekaligus menggugah kembali kesadaran aktual masyarakat kepada realitas yang ada. Bahwa ada manipulasi, ada diskriminasi, ada pengkastaan, ada ketidak adilan dan lain sebagainya.

Dengan demikian kiranya bisa dimengerti bahwa; idealism tidak selalu berhubungan dengan hal yang “baik-baik”, dan materialism tidak selalu berhubungan dengan hal yang “buruk-buruk”. Tidak seperti yang selama ini didengungkan dan dipropagandakan.

Soekarno sangat meyakini hal itu. Dia juga tidak sependapat bahwa materialism selalu berhubungan dengan hal yang “buruk-buruk”. Bahkan dengan pendekatan materialism pula Soekarno berusaha keras menggugah kesadaran masyarakat Indonesia untuk bangun bersama melawan belenggu penindasan colonial belanda. Dengan teori itu pulalah Soekarno merumuskan konsep Marhaenisme, yang menurutnya adalah ideologi yang paling pas dengan Indonesia. Sosialisme yang paling sesuai dengan kondisi Indonesia.
Maka untuk dapat memahami ajaran Marhaenisme Soekarno, terlebih dahulu kita harus mempelajari materialism dialektika historis, sebuah metode pendekatan yang digunakan Soekarno sebagai pisau analisa untuk mencungkil dan memotong kepalsuan kapitalisme dan imperialism. Basis teori untuk mengukuhkan bahwa Marhaenisme adalah suatu teori yang ilmiah.

MENGENAL MATERIALISME DIALEKTIKA HISTORIS

Sebelum masuk lebih dalam kepada Materialisme Dialektika Historis (MDH), marilah kita tengok bangunan epistemologis terlebih dahulu. Ilmu pengetahuan akan dikatakan ilmiah manakala dia memiliki metode epistemologi yang konsisten dan logis. Ada tiga metode yang lazim dikenal dalam epistemologi, yaitu empirisme, rasionalisme dan intuitif. Dibelahan dunia timur, intuitif bisa diterima sebagai sebuah pengetahuan. Namun dibelahan dunia barat intuitif ditolak sebagai pengetahuan karena tidak memiliki metode ilmiah.

Kenyataan ini mengingatkan kita bahwa sekalipun Soekarno adalah orang timur, namun karena metode yang digunakan dalam mengembangkan Marhaenisme tidak didasarkan pada factor intuisi, maka boleh dikata bahwa Marhaenisme cukup memenuhi syarat untuk disebut sebagai teori ilmiah. Bahkan metode  MDH adalah sebuah metode yang cukup maju, karena tidak sekedar mengandalkan factor logika saja.

Dunia mengenal logika dari Aristoteles. Dialah yang pertama kali menjadikan logika sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pembentukan itu sudah sampai begitu sempurna, hingga bisa dikatakan bahwa dari zaman Aristoteles sampai ke zaman John Stuart Mill dan Ueberweg, logika itu tidak banyak lagi mengalami perubahan penting. Dalam segala cabang ilmu pengetahuan, logika tidak dapat disingkirkan ataupun diabaikan.

Selain logika, filsuf-filsuf juga mengembangkan metode berpikir lain yang disebut dengan dialektika. Dengan makin majunya pengetahuan tentang semua benda dan gerakan benda, maka dialektika sebagai hukum berpikir yang berdasarkan pada benda dan gerakannya mendapat dorongan yang belum pernah dialaminya di dunia lampau.

Adakah perbedaan dan apakah perbedaan kedua hukum berpikir itu? Jawabannya ada. Logika dan dialektika, sekalipun sama-sama merupakan prinsip berpikir ternyata memiliki perbedaan, terutama sekali terletak pada cara menempatkan (barang) yang dikaji.

Pemakai logika menempatkan sesuatu yang diperiksa itu dalam keadaan berhenti (static), terpisah (distinct), tak berubah-ubah (unchangable) dan kekal. Sesuatu itu harus diselidiki satu persatu, terpisah-pisah dan dianggap tak berhubungan dan berkaitan satu dengan lainnya sesuai waktu dan tempat.

Pemakai dialektika menempatkan sesuatu yang diselidiki itu dalam keadaan bergerak (movement), berhubungan (connection), berubah-berubah (change) dan bertentangan. Sesuatu itu harus diselidiki dalam gerakan, pertentangan, timbul-tumbuh dan tumbangnya dalam suatu waktu pula.

Sebagi ilustrasi, kita bisa mencermati penjelasan Joule dan Mayer, yang menunjukkan bahwa panas bisa beralih menjadi listrik. Memang selama masih berada dalam jenis panas atau listrik kita bisa menjawab semua pertanyaan menurut logika, statistik, dan ukuran. Dengan pasti bisa dijawab, berapa derajatkah tingginya panas dan berapa satuan tenaga kudakah listrik. Juga bisa kita jawab pertanyaan Ueberweg, apakah ini panas atau listrik, dengan ya atau tidak. Tetapi apabila panas bukan lagi panas, namun belum lagi menjadi listrik, maka pertanyaan tadi tidak lagi dapat dijawab dengan ya atau tidak saja. Pertanyaan itu harus dijawab dengan ya dan tidak sekaligus.

Demikian pula dalam keadaan di mana satu kodrat sedang mengalami satu peralihan : seperti air sedang berubah menjadi uap, kodrat bergerak sedang beralih menjadi dinamo (listrik) dan sebagainya, atau satu zat sedang mengalami peralihan juga : atom beralih menjadi molekul, putih telur beralih menjadi benda hidup, tumbuhan beralih menjadi hewan dan 1001 contoh lainnya, maka logika statika dan ukur-mengukur secara matematika itu tidak berdaya lagi. Dalam hal ini maka dialektikalah yang sanggup memberi jawaban.

Apabila kepastian dalam peralihan itu sudah sempurna (air sudah menjadi uap, magnetisme sudah menjadi listrik, matahari sudah menjadi bumi, tumbuhan sudah menjadi hewan) maka dalam hal itu dapatlah dipergunakan logika, statika, matematika, dan ilmu ukur-mengukur serta timbang-menimbang.

Di belakang hari Ueberweg juga mengambil kesimpulan seperti berikut : Dalam soal yang gampang (simple) boleh dipakai logika. Tetapi dalam berurusan dengan pelbagai barang yang mengandung pelbagai sifat yang bertentangan, maka kita harus mengakui coincidence of oposites (perjumpaan beberapa pertentangan). Jadinya dalam hal ini boleh dipergunakan ya dan tidak sekaligus!

Dalam salah satu halaman buku karangannya yang berjudul logik, Hegel seorang raksasa filsafat Jerman berkata kurang lebih begini, “dialektik nennen wir solche geistlische Bewegung, bei denen das getrennt scheinenden durch ischselbst, d.h ducrh das, was sie sind in einander uebergehen, und so des getrent scheinenden aufheben”. Artinya kurang lebih :”Yang kita namakan dialektika ialah gerakan pikiran (rohani), ketika yang berbentuk saling terpisah itu, olehnya sendiri artinya terbawa oleh sifatnya sendiri saling berpindahan, dan dengan begitu, maka yang berbentuk keterpisahan itu ditiadakan (artinya bersatu kembali).”

Banyak persamaan antara Hegel dengan bekas muridnya Marx! Tetapi besar pula perbedaan di antara guru dan murid, setelah pikiran murid keluar dari kandungan pikiran gurunya.

Persamaan pertama,Kedua jenis pemikiran itu sama-sama mempergunakan cara dialektik, yakni menyelidiki sesuatu dalam keadaan bergerak, bertentangan timbul, tumbuh dan tumbang. Kedua, Keduanya sama-sama menolak pemisahan kekal antara ya dan tidak itu. Dalam gerakan tesis, antitesis, dan sintesis, maka akhirnya ya itu bisa menjadi tidak dan sebaliknya. Dalam gerakan itu maka perubahan quantity (jumlah) lambat laun beralih menjadi perubahan quality (sifat). Dengan demikian tercapailah Negation der Negation (peniadaan ketiadaan).

Mereka sama-sama tidak setuju dengan pemisahan kekal dan pertentangan kekal antara ya dan tidak itu. Mereka sama-sama juga menyelidiki sesuatu itu dalam suasana dialektika (gerakan pertentangan). Tetapi ada juga perbedaan besar antara kedua penganut dialektika itu.

Adapun Hegel menyandarkan dialektika itu kepada tafsiran dan teori idealisme. Sedangkan Marx mendasarkan dialektika itu atas teori dan tafsiran materialisme. Hegel adalah penganut dialektika idealistik. Marx dan teman pembentuknya Engels, adalah penganut dialektika materialistik.

Dalam “Dialektika dan Logika” maka Plekanov mengikhtiarkan perbedaan dialektika materialstik dan dialektika idealistik sebagai berikut; Dalam sistem Hegel, maka dialektika sama diri dengan metafisika. Bagi Marx dialektika bersendi atas ilmu ke-alam-an (hukum alam).

Dalam sistem Hegel, maka demiurge, creator atau pembikin yang nyata (reality), ialah absolute idea (akal atau ide mutlak). Bagi Marx, ide mutlak itu, cuma satu pemisahan (abstraction) dari gerakan. Dan oleh gerakan itu terjadilah semua perpaduan dari keadaan semua benda.

Menurut Hegel, paham itu maju disebabkan oleh keinsyafan dan penyelesaian beberapa pertentangan yang berada di dalam pikiran (concept). Menurut teori materialis, semua pertentangan yang ada dalam pikiran oleh dunia pikiran, atas pelbagai pertentangan yang ada itu adalah bayangan di otak manusia; adalah satu tafsiran pada dunia nyata (fenomena), sebagai akibat dari pertentangan yang terdapat pada dasarnya-bersama, yakni gerakan.

Menurut Hegel,  semua kemajuan yang nyata itu ditetapkan oleh kemajuan pikiran (idea). Menurut Marx, kemajuan pikiran itu dapat dijelaskan oleh kemajuan yang nyata, kemajuan paham oleh kemajuan hidup (manusia). Dengan demikian, di tangan Marx dan Engels dialektika dijadikan sebagai senjata revolusi.

Dialektika laksana selubung kudung gaib. Dialektika menjadi senjata kaum reaksioner di Jerman. Bagi Hegel dialektika adalah senjata revolusi terhadap kaum feudal, dan pada sisi lain berubah menjadi senjata reaksioner terhadap kaum proletar. Akan tetapi bagi  Marx dan Engels sebagai para pembela kaum proletar, maka dialektika yang bersandar pada materialismelah senjata yang tepat, tetap, dan sempurna untuk menghadapi  kaum feodal dan kaum borjuis sekaligus.

Namun demikian jangan lantas gegabah menyangka bahwa Hegel terus melayang-layang di dunia pikiran saja dengan tak pernah menginjakkan kakinya ke tanah-bukti (reality). Sebaliknya pula jangan pula mengira bahwa Marx dan Engels tak pernah melepaskan kakinya dari tanah-bukti dan tak pernah memasuki dunia cita-cita, pikiran,dan  ide. Kedua jenis pemikiran tadi maju berpikir dengan berpegangan kepada kedua dunia pikiran dan bumi-bukti.

Hegel pernah mengucapkan, bahwa rohani (spirit) itu adalah dasar pendorong (motive-principle) sejarah. Tetapi disamping itu, diucapkan pula bahwa keadaan ekonomi, pada satu tingkat menjadi kodrat yang berlaku dengan perantaraan (instrumentality) rohani. Marx, walaupun pada titik terakhir berpangkalan pada kebendaan ada juga mengucapkan pada suatu tingkat, maka rohani itu bisa pula menjadi kodrat yang arahnya ditentukan oleh keadaan ekonomi.

Dengan demikian, maka akhirnya jelas juga bagi kita persamaan dan perbedaan antara materialisme mekanik dan materialisme dialektik. Keduanya sama-sama bersandar kepada kebendaan. Tetapi bagi pengikut materialisme mekanik, maka manusia dengan pikiran, perasaan, dan kemauannya (ringkasnya manusia dengan jiwanya) seolah-olah tidak berdaya menghadapi alam raya dan hukumnya.

Sebaliknya bagi Marx dan Engels serta para pengikutnya, dalam wilayah yang dibatasi oleh keadaan masyarakat sendiri, manusia dengan jiwanya bukanlah suatu benda yang pasif, nrimo, seperti mesin saja. Beberapa ayat dari tulisan Marx yang memperlihatkan perlantunan (interaction, wissel werking) antara manusia dan alam di sekitarnya:

“Bumi sekeliling (geographical environment) mempengaruhi manusia dengan perantaraan kemajuan ekonomi, pada salah satu daerah, atas salah satu kodrat-produksi (force of production) yang sifatnya ditentukan pula oleh bumi sekelilingnya itu. Kodrat produksi (uap, listrik, atom dan lain-lain) mempertinggi kekuasaan manusia atas alam sekelilingnya. Keadaan ini membentuk hubungan baru antara manusia dan alam-sekitarnya. Manusia sambil bertindak terhadap alam sekitarnya, mengubah sekitarnya itu dan dengan begitu mengubah diri (jiwanya) sendiri”.

Akhirnya, sambil menghadapi kaum ahli filsafat, dalam 11 tesis Marx mengucapkan :

Die Filosopen hebben die Welt nu verschieden interpretiert. Es Kommt aber daraufan, die welt zu aendern” (Kaum ahli filsafat cuma berbeda dalam menafsirkan dunia ini, yang terpenting ialah mengubah dunia, yakni alam dan masyarakat kita ini).

Pemikiran yang bersandar kepada dialektika terus dilanjutkan oleh Marx dan teman sezamannya,  Frederich Engels. Di samping pujangga, kedua orang ini adalah ahli dan penggemar matematika yang kerap mempergunakan utopis sosialisme Perancis dan Inggris. mereka juga memanfaatkan teori Evolusi dari Charles Darwin, serta teori ekonomi Adam Smith dan David Ricardo dalam pembentukan teori mereka.

Dengan mendapatkan cause atau lebih tepat condition (keadaan), yakni sebab kemajuan masyarakat itu, maka sosialisme, yang berdasarkan impian (utopia) seperti dicetak oleh Thomas Moore, Saint Simon, Fourir, dan Robert Owen, berubah menjadi scientific socialism, yakni sosialisme ilmiah.

Adapun yang dianggap menjadi sebab (cause) perubahan, termasuk perubahan masyarakat, dari tingkat ke tingkat itu ialah perubahan sistem produksi dalam sejarah yang didasarkan pada benda yang nyata. Ini kemudian dinamai historical materialism (materialisme sejarah), yakni teori materialisme tentang sejarah. Pandangan hidupnya yang berkenan dengan kebendaan yang bergerak itu dinamai dengan Materialisme Dialektis.

Disebut materialisme karena matter, bendalah yang dianggap primus, pokok, asal di alam raya ini. Disebut pula dialektis karena cara menghampiri soal benda serta kejadian di alam raya ialah dalam keadaan bertentangan dan bergerak, yakni dalam keadaan timbul, tumbuh, dan tumbang.

Setelah Marx dan Engels mendapatkan cause atau condition,  maka berubah-bertukarlah pula sejarah manusia, dari satu kebetulan, dari satu nasib yang tiada bersebab dan tiada pula mengakibatkan sesuatu yang nyata, menjadi sesuatu peristiwa yang berpangkal, berujung, bersebab dan berakibat. Dengan begitu, maka berpindahlah pula ilmu sejarah itu dari dunia-gaib ke dunia nyata.

Demikianlah asal dan tujuan, serta lakonnya suatu masyarakat itu mulai dapat diselami oleh akal. Setelah segala kebendaan dan semua gerakannya dalam alam raya ini dipecah-pecah, dikupas, diselidiki, dan dipastikan hukumnya.