Penulis Profesional dan Tulisan Bagus

Penulis profesional, istilah ini kerap dipertanyakan oleh banyak kalangan. Ada pihak yang berdecak kagum kepada seseorang yang menyandang predikat penulis profesional, namun ada juga yang mencibirnya, sambil bergumam, sombong!

Memang dunia tulis menulis, berbeda dengan tinju. Kalau dalam dunia tinju, pemisahan pengertian dari terminologi amatir dan profesional cukup jelas. Kalo petinju amatir bertinju tidak untuk bayaran, sedangkan petinju profesional  bertinju karena bayaran.

Kalau pengertian itu dipergunakan untuk merujuk pada pemisahan pengertian antara penulis profesional dan penulis amatir, jelas tidak sepadan. Apalagi kalau hanya merujuk pada faktor bayaran. Kenapa asumsi demikian tidak berlaku? Sebab kita sering menjumpai naskah-naskah lama yang penulisnya anonim, padahal informasi yang ada didalamnya luarbiasa bagusnya.

Bagus! Kata ini akan jadi permasalahan baru. Seperti apakah sebenarnya tulisan yang bagus itu? Ada dua persoalan disini; pertama tentang penulis profesional dan yang kedua tentang tulisan yang bagus. Persoalan pertama belum kita bahas, sudah muncul persoalan kedua.

Penulis Profesional dan Tulisan Bagus

Terence Johnson, menjelaskan arti professional dalam bukunya yang berjudul “Professionalism and Altruism”. Dibukunya ini Johnson menjelaskan bahwa profesional, tidak selalu harus merujuk pada tinggi rendah bayaran yang diterima oleh seseorang karena jasa atau pekerjaannya. Profesional adalah dedikasi seseorang kepada pekerjaan.

Selanjutnya Johnson mencontohkan dokter. Tugas seorang dokter adalah untuk menyelamatkan hidup seseorang dengan cara mengobati penyakit yang diderita oleh seseorang. Ini prinsip yang harus dia pegang teguh. Maka andaikata pada suatu malam yang sedang turun hujan deras dan dia lagi bersantai menghangatkan dirinya di rumah bersama keluarga, mendadak ada tamu datang untuk minta pertolongan, dia akan segera bergegas menolongnya. Sekalipun harus jalan kaki menembus hujan deras.

Hal Itu bisa terjadi karena dia berpegang pada tugas-tugas prinsip seorang dokter, dan untuk kasus yang seperti itulah Johnson mencontohkan, bagaimana predikat professional itu layak untuk disematkan pada sang dokter. Profesional adalah dedikasi pada pekerjaannya. Apakah hanya itu? Ternyata tidak. Johnson masih mensyaratkan satu hal lagi, profesionalisme itu bersifat humanis.

Boleh jadi dokter itu miskin, karena memungut biaya pengobatan yang rendah atau bahkan terkadang tidak menarik biaya sama sekali. Apa lantas karena itu, dia tidak pantas disebut sebagai seorang dokter profesional? Alangkah naifnya, jika mengukur profesional seseorang dari materi yang bisa dia dapat sehubungan dengan pekerjaannya. Tidak selamanya profesionalisme itu harus diartikan dengan komersil, bahkan mungkin antara keduanya tidak berhubungan sama sekali.

Nah sekarang, bagaimana dengan penulis profesional? Silakan Anda terjemahkan sendiri.

Tulisan adalah salah satu sarana komunikasi. Prinsip dari komunikasi adalah, pesan yang dimaksudkan bisa diterima dan bisa dipahami secara mudah oleh orang lain. Begitu pula dengan tulisan. Asumsi ini boleh dibantah. Bagaimana dengan puisi atau karya sastra lain?

Kalau Anda berbicara dengan seorang petani lugu yang tidak mengetahui bahasa intelektual, dan ketika berkomunikasi dengannya Anda menggunakan istilah-istilah yang tidak dia mengerti, bahkan ketika Anda sudah selesai berbicara ternyata dia masih belum mengerti juga, dimana letak kekeliruannya.

Jawabnya, bukan pada apa yang Anda bicarakan dan bukan pula pada petani. Lantas apanya yang salah? Yang salah konteksnya. Tentukan dulu kepada siapa Anda hendak berbicara. Kemudian coba buat perkiraan, cara berkomunikasi yang bagaimana yang  sekiranya bisa dipahami oleh lawan bicara Anda engan baik. Selanjutnya pergunakan istilah-istilah umum yang mudah dimengerti masyarakat awam. Istilah-istilah intelektual Anda yang hebat-hebat itu, sebaiknya simpan saja dahulu. Besok bisa Anda pergunakan lagi ketika Anda diundang berbicara di Kampus Perguruan Tinggi.

Lantas apa hubungannya dengan puisi? Coba periksa baik-baik, pertama kepada siapa puisi itu ditujukan? Bisa jadi kepada angin, malam, rembulan, dewa atau dewi, Tuhan, petir, batu bahkan mungkin rumput yang bergoyang.  Jadi jangan heran kalau subyek yang tidak dituju oleh puisi itu jadi tidak paham.

Kedua, frasa yang digunakan oleh penyair adalah frasa-frasa yang berenerji tinggi, yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengapresiasi enerji dari frasa tersebut. Maka jangan salahkan masyarakat awam yang tidak dapat memahaminya, karena tidak mampu menelaah frasa tersebut.

Secara struktur tulisan akan mendapatkan predikat bagus, apabila pembaca  tidak bosan membaca tulisan itu dan bisa menangkap maksudnya.  Secara kualitas, tentunya terletak pada ide apa yang jadi pikiran utama dari tulisan itu.

Bagus adalah anak pemikiran dari cabang filsafat estetika. Dan dalam estetika, penilaian terhadap sesuatu biasanya dipercayakan kepada kehendak subyektif. Kalau suka orang bisa bilang bagus, dan kalau tidak suka orang bisa bilang jelek.

Jadi bagaimana tulisan yang bagus itu? Kembali lagi pada penilaian subyektif Anda. Kita toh tidak bisa memperdebatkan enak mana antara bakso dengan soto?

Mungkin yang secara umum bisa berikan penilaian adalah aspek efektifitas dalam menyampaikan pesan. Mudah dipahami atau tidak. Membosankan atau tidak. Idenya baru atau tidak. Tulisan itu sendiri original atau tidak. Kira-kira seperti itulah cara kita menimbang suatu tulisan, dan agaknya akan jadi berlebihan kalau kita juga sampai mempertanyakan; penulisnya dibayar atau tidak? Apalagi kalau terus disimpulkan; Kalau dibayar berarti yang nulis penulis professional, dan kalau tidak dibayar berarti penulis amatir. Kita bukan petinju kawan… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: