Archive for Oktober, 2010

Simon Garfunkel: Persahabatan Sejati Artis Amerika

Sumber: www.AnneAhira.com

“I am on your side, ooo if you need a friends…”, itulah penggalan bait lagu Bridge Over Trouble Water, yang bercerita tentang makna persahabatan. Lagu ini dipopulerkan oleh Simon Garfunkel pada 1970-an dan ironisnya sekaligus menandai akhir dari grup duet ini.

Persahabatan antara Paul Simon dan Arthur Garfunkel bisa diibaratkan seperti Tom & Jerry, sering berselisih tetapi saling merindukan. Oleh karena itulah pada mulanya mereka menamakan grup duet mereka dengan Tom & Jerry.

Kedua artis Amerika ini memang telah menjalin persahabatan sejak masih bocah. Mereka tinggal bertetangga di Forest Hills, dan menjadi teman sekelas di Forest Hills High School, New York.

Duet Tom & Jerry berhasil merilis album pertama mereka pada 1957, dengan singel Hey, Schoolgirl yang bisa terjual sebanyak 100 ribu kopi, dan menempati peringkat 49 dalam tangga lagu versi majalah Billboard.

Setamat SMA pada 1958, Simon meneruskan studinya ke Queens College, sedangkan Garfunkel ke Columbia University. Namun demikian, keduanya masih kerap tampil menyanyi bersama. Bahkan, sejak 1963, nama Simon Garfunkel mulai terkenal sebagai duet penyanyi di New York, yang nyaris disejajarkan dengan Bob Dylan.

Kerusuhan sipil di Mississipi pada 21 Juni 1964, telah merenggut nyawa salah seorang rekan mereka. Andrew Goodman, demikian nama rekan mereka, ditemukan mati terbunuh bersama dua aktivis lainnya ketika sedang memperjuangkan hak-hak sipil bagi rakyat Amerika. Kepedihan ini membuat Simon menciptakan lagu yang secara khusus didedikasikan untuk Andrew Goodman.

Lagu yang diberi judul He Was My Brother ini selanjutnya ditunjukkan kepada Garfunkel. Akhirnya, mereka sepakat untuk memasukkan lagu tersebut dalam album Wednesday Morning, 3 AM, yang dirilis 19 Oktober 1964. Album ini adalah album pertama mereka dengan menggunakan nama resmi Simon Garfunkel, bukan Tom & Jerry lagi.

Talak-Rujuk ala Simon Garfunkel

Sayang, album Wednesday Morning 3 AM ini hanya laku terjual 3 ribu kopi, dan ini sangat mengecewakan mereka. Selanjutnya, grup duet Simon Garfunkel bubar, terlebih karena Simon kemudian pindah ke Inggris. Selama mereka berpisah, baik Simon maupun Garfunkel tetap berkarya mencipta lagu dan bermain musik. Bahkan, selama tinggal di Inggris, Simon sempat membuat beberapa album, yang di antaranya memuat lagu Sound of Silence yang langsung melejit.

Lagu ini merupakan ekspresi kerinduannya pada Garfunkel, dan mengilhaminya untuk kembali ke Amerika lagi. Selanjutnya, Simon Garfunkal bersatu lagi, dan membuat album kedua pada Januari 1966 dengan tajuk Sound of Silence.  Album ini menempati peringkat 21 dalam daftar album lagu terlaris.

Lagi-lagi persahabatan mereka mulai menunjukkan gejala tidak sehat. Pertunjukan Simon Garfunkel pada 11 November 1969 makin memperburuk hubungan keduanya, pesan antiperang Vietnam yang mereka selipkan dianggap mengundang kontroversial. Bahkan, dalam album terakhir mereka yang bertajuk Bridge Over Trouble Water, mereka tampak bertengkar sengit.

Album yang  menurut rencananya semula akan memuat 12 lagu itu, berubah menjadi ajang pertengkaran sengit ketika mereka harus menentukan lagu apa saja yang akan mereka masukkan dalam album ini. Simon bersikukuh untuk memasukkan lagu Cuba Si, Nixon No, namun Garfunkel tetap ngotot menolaknya.

Situasi politik luar negeri Amerika pada waktu itu memang sedang panas, sehubungan dengan isu senjata nuklir balistik yang dimiliki Kuba. Pertengkaran ini akhirnya diselesaikan dengan hanya merekam 11 lagu saja. Peristiwa inilah yang menyebabkan duet Simon Garfunkel ini benar-benar bubar.

Namun demikian, mereka tetap saling rindu dan tetap main musik bersama dalam berbagai panggung. Bahkan, dua tahun setelah menyatakan bubar, mereka masih tampak main bareng di Madison Square. Pada 23 Februari 2003, mereka mendapatkan Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup (Live Achievement Award), untuk sumbangsih mereka dalam bidang musik. Pada pembukaan acara penghargaan Grammy tersebut, mereka didaulat untuk berduet menyanyikan lagu The Sound of Silence.  

Mungkin seperti inilah makna persahabatan. Sekalipun sering bertengkar, tetapi tidak pernah saling benci apalagi memusuhi. “Hello darkness my old friend, I’ve come to talk with you again…”  

Soekarno dan Ibu Kota Sementara, Yogyakarta

Sumber: www.AnneAhira.com

Belum genap setahun Republik ini diproklamasikan, tentara sekutu menyerbu dan menduduki Jawa. Akibatnya, pada akhir 1945, situasi Jakarta sebagai ibu kota negara menjadi genting. Pasukan sekutu masuk ke Indonesia. Mereka ditugasi untuk melucuti persenjataan tentara Jepang di pasifik dan menjaga stabilitas keamanan di Indonesia.

Namun, apa lacur, proklamasi 17 Agustus 1945 yang mendeklarasikan Indonesia sebagai bangsa merdeka dan berdaulat, telah menunjukkan kenyataan lain pada sekutu. Kedatangan sekutu disambut perlawanan oleh laskar rakyat dan eks tentara PETA yang berusaha dengan gigih untuk tetap dapat mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Situasi ini memaksa Presiden Soekarno bersedia memenuhi tawaran Sultan Hamengku Buwono IX. Ia kemudian memindahkan ibu kota Negara RI dari Jakarta ke Yogyakarta pada 13 Januari 1946. Dipilihnya kota Yogyakarta bukannya tanpa alasan. Pertama, alasan geografis dimana Yogyakarta tepat berada di jantung pulau Jawa. Kedua, alasan kedekatan sejarah antara Kasultanan Yogyakarta dan Kerajaan Belanda.

Dengan demikian, Yogyakarta menjadi pusat kegiatan Republik yang tidak terganggu. Pasukan sekutu  tidak bisa dengan cepat menduduki kota Yogyakarta karena masih disibukkan dengan tugas utamanya di Jakarta.

Berbenah di Yogyakarta

Jeda waktu ini bisa dimanfaatkan oleh Tentara Republik untuk membangun markas besar dan mengkonsolidasikan pasukan. Demikian juga dengan berbagai organisasi semi-militer dan politik yang tidak terhitung banyaknya. Mereka beramai-ramai ikut pindah ke Yogyakarta.

Pada 19 Desember 1948, lagi-lagi Belanda melancarkan Agresi Militer dengan menduduki lapangan udara Maguwo. Tentara Belanda lantas merangsek masuk ke kota dan berhasil menawan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, dan pemimpin lain di Istana Gedung Agung Yogyakarta.

Selanjutnya, para pimpinan nasional yang tertawan tersebut diasingkan ke Prapat, kemudian ke Bukit Menumbing, Bangka. Demi melihat itu, Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII meletakkan jabatan Kepala Daerah yang mereka sandang, sebagai wujud protes kepada Belanda.

Serangan Balik

Sultan Hamengku Buwono IX dan Letkol. Soeharto kemudian berinisiatif untuk menyusun rencana serangan kepada militer Belanda. Serangan ini penting dan berguna untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih eksis.

Atas kerja sama Tentara Republik dan laskar rakyat, rencana tersebut akhirnya berhasil dilaksanakan pada 1 Maret 1949, dan dikenal dengan peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret atau peristiwa 6 jam di Jogja.

Serangan ini berhasil membuka mata dunia bahwa Republik Indonesia masih ada. Akhirnya, dunia internasional bereaksi dan mengeluarkan kutukan terhadap Agresi Militer Belanda di Yogyakarta ini.

Situasi ini memaksa Dewan Keamanan PBB untuk semakin kuat menekan Belanda. Akhirnya, Presiden Soekarno dan pimpinan Nasional lainnya dibebaskan, dan pada 6 Juli 1949, Presiden Soekarno sudah tiba kembali di Yogyakarta.

Pameran Orasi Tritura: Oase Pelukis Muda Yogyakarta

Sumber: www.AnneAhira.com

Bisa dilibatkan dalam suatu pameran, merupakan obsesi banyak pelukis muda. Karena dengan mengikuti pameran, maka karyanya bisa disosialisasikan kepada masyarakat, selain itu masukan atau kritikan dari para kurator juga bisa didapat untuk makin mematangkan kreatifitasnya.

Namun, keberadaan pameran yang khusus diperuntukkan bagi pelukis muda sangat jarang dilakukan. Kebanyakan pameran dimaksudkan untuk jadi media jual beli lukisan, dengan sendirinya lukisan yang dipamerkan biasanya hasil karya pelukis-pelukis yang sudah memiliki nama.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa untuk menyelenggarakan suatu pameran lukisan memerlukan biaya besar. Karena pertimbangan itulah maka kebanyakan pameran hanya memajang lukisan karya pelukis yang sudah punya nama, agar bisa terjadi transaksi.

Kecenderungan yang demikian, membuat keberadaan pelukis muda semakin terpojok.

Melihat fenomena ini, Ruang Seni Ars Longa mencoba memfasilitasi pelukis muda Yogyakarta, dengan membuat pameran secara regular. Perlu diingat bahwa Yogyakarta sejak zaman dulu hingga sekarang merupakan gudangnya pelukis.

Nama-nama besar seperti Affandi, Sapto Hudoyo, Edi Sunarso, Amri Yahya, Joko Pekik, dan lain sebagainya memiliki akar sejarah kreatifitas yang kuat dengan kota ini.

Ars Longa bukan hanya memfasilitasi pameran lukisan, tetapi juga memberi ruang bagi seniman muda lain yang berkeinginan untuk mengekspresikan kreatifitas seninya dalam bentuk seni instalasi atau performance art.

Beberapa waktu lalu Ars Longa juga menggelar pameran bertajuk ORASI dengan melibatkan kelompok pelukis muda yang menamakan dirinya dengan Tritura (Tiga Tuntutan Rasa)

Pameran Orasi Tritura

Gebrakan yang dilakukan Ars Longa tidak tanggung-tanggung, untuk pamerannya kali ini mereka menghadirkan Arahmaiani seorang kurator dan kritikus seni rupa kondang yang memiliki pengalaman internasional.

Rasanya agak janggal, pameran pelukis muda dikritisi oleh seorang kurator besar. Namun, itulah yang dilakukan Ars Longa agar para pelukis muda bisa mendapatkan masukan dari seseorang yang memang benar-benar memiliki kapasitas.

Dalam pameran kali ini, kelompok Tritura mencoba menyorot keberadaan produk-produk seni yang lahir karena dorongan rekayasa kemauan pasar, dan semakin jauh dari realitas kehidupan.

Selanjutnya Tritura mencoba menawarkan konsep dan sistem produksi alternatif yang memiliki nilai estetis, ideology dan propaganda tinggi.

Coba kita tengok karya Sumarwan, mahasiswa ISI yang juga vokalis kelompok music underground Gastavo ini. Di atas kanvas berukuran 120 x 150 cm, Sumarwan menuangkan idenya dengan balutan dominasi warna merah.

Bagian atas kanvas dilukisan tiga buah awan yang dibalut bendera Amerika, Inggris dan beberapa Negara Eropa lainnya. Masing-masing awan ditumbuhi pohon yang akarnya menjuntai hingga ke bawah dan diperebutkan oleh banyak orang. Bahkan ada di antaranya yang mencoba memanjat akar untuk dapat mencapai awan.

Lukisan ini diberi judul “Mari Bung Rebut Kembali”, kata-kata yang mengingatkan pada semboyan pejuang kita dulu ketika mencoba menegakkan kemerdekaan. 

Inilah kritikan satire Sumarwan, terhadap realitas yang sebenarnya, bahwa kita belum sepenuhnya merdeka. Karena aset-aset strategis bangsa masih dikuasai oleh pihak asing.

Boleh juga kita cermati karya Sahanudin Hamzah alias Hamzrut. Pada kanvas, dia melukis lima tangkai bunga berwarna ungu yang masing tangkainya dirantai dengan rantai betulan. Sebuah karya kombinasi (media mix) antara seni instalasi dengan lukis.   

Hamzrut lantas memasang judul “Controlled Growth” untuk menceritakan realitas tunas-tunas muda yang tidak bisa tumbuh optimum dan wajar, karena terpasung oleh berbagai kondisi sosial.

Selain dua seniman lukis di atas, Pameran Orasi Tritura ini juga melibatkan seniman muda lain seperti, Irwan Guntarto, Iskandar Sy, Duvrart Angelo, Sriyadi Srinthil, dan Satria Nur.

Sejarah Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat

Sumber: www.AnneAhira.com

Sejarah Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, bermula dari ditandatanganinya perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian ini membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kerajaan Surakarta di bawah kekuasaan Sri Sunan Pakubuwana II dan  Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah kekuasaan Pangeran Mangkubumi. Dia kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Dengan disepakatinya Perjanjian Giyanti ini, maka pertikaian panjang antara Paku Buwana II (Raja Mataram) dan Pangeran Mangkubumi berakhir sudah. Namun demikian, perlu dicatat bahwa perjanjian ini merupakan langkah penyelesaian diplomatik  yang difasilitasi oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Boleh jadi, upaya ini merupakan bagian dari politik devide et impera yang dijalankan oleh Pemerintahan Hindia Belanda.

Zaman Belanda dan Jepang

Selanjutnya, sejarah Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat memasuki babakan baru. Ia mendapat status sebagai daerah istimewa dari Pemerintahan Hindia Belanda. Oleh Belanda, status ini disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen

Status ini semacam dependence state, hampir seperti negara bagian. Maknanya, kedaulatan dan kekuasaan pemerintahan negara diatur dan dilaksanakan menurut perjanjian atau kontrak politik yang dibuat oleh negara induk bersama-sama negara dependen.

Kontrak politik terakhir antara negara induk (Belanda) dan  Kerajaan Ngayogyakarta adalah Perjanjian Politik 1940 yang ditandatangani oleh Dr. Lucien Adam mewakili Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Sri Sultan HB IX mewakili Kasultanan Yogyakarta, dimasukkan dalam lembaran Negara Kerajaan Belanda sebagai Staatsblad 1941, No. 47.

Perjanjian itu secara tegas menyebutkan bahwa Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan bagian dari wilayah Hindia Belanda. Oleh karena itu, berada di bawah kedaulatan Baginda Ratu Belanda yang diwakili oleh Gubernur Jenderal. Kerajaan ini juga mewakili Pemerintah Hindia Belanda untuk menjalankan pemerintahan sipil di Yogyakarta. Untuk perannya itu, Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat memperoleh biaya operasional dari Pemerintah Hindia Belanda, sebesar 1.000.000 Gulden per tahun.

Status istimewa ini terus disandang oleh Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat selama kekuasaan Hindia Belanda berlangsung. Bahkan, ketika Jepang masuk menggantikan Belanda, Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat tetap diberi hak istimewa semacam itu oleh Jepang, namun dengan sebutan Yogyakarta Kooti Hookookai

Integrasi dengan RI

Setelah Soekarno – Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI, mau tidak mau Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat harus menunjukkan sikap politiknya.

Pada19 Agustus 1945, Yogyakarta Kooti Hookookai mengadakan sidang dan mengambil keputusan. Intinya, keputusan tersebut adalah bersyukur kepada Tuhan atas lahirnya Indonesia, akan mengikuti tiap-tiap langkah dan perintahnya, dan memohon kepada Tuhan agar Indonesia kokoh dan abadi.

Pada 5 September 1945, Sri Sultan HB IX mengeluarkan amanat yang isinya menegaskan bahwa Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat adalah daerah istimewa yang merupakan bagian dari wilayah Negara RI.

Selanjutnya, Sultan menyatakan dirinya sebagai Kepala Daerah dari daerah istimewa yang wilayahnya melingkupi wilayah Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Setelah Sultan HB IX mengeluarkan amanat ini, selang sehari setelah Presiden Soekarno menyerahkan Piagam 19 Agustus 1945 yang berisikan penegasan bahwa Pemerintah RI mengukuhkan kedudukan Sultan HB IX seperti yang disebutnya dalam amanat 5 September.

Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi bagian dari Negara RI, dengan status Daerah Istimewa setingkat Provinsi, tetapi bukan provinsi dan bukan pula monarki konstitusional. Sri Sultan HB IX, kemudian diangkat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, sampai beliau wafat pada 1988.

Mencari Mutiara Kehidupan Perkawinan

Sumber: www.AnneAhira.com

Tidak selamanya perkawinan akan berjalan mulus. Ada kalanya dia harus dilalui dengan berat karena beban persoalan yang sedemikian besar.

Yang membuat perkawinan tidak berbahagia, bukan selalu karena ketidakhadiran cinta, tapi seringkali karena tiadanya persahabatan…”,

demikian ungkap Friedrich Nietzsche seorang filsuf eksistensialisme asal Jerman.

Beban persoalan akan terasa ringan ketika kita bisa membaginya dengan seorang sahabat. Karena sahabat adalah seseorang yang dengan senang hati akan selalu berusaha memahami persoalan kita dan senantiasa mencoba untuk membantu memberi jalan keluarnya.

Maka, andaikata kita bisa bersahabat dengan pasangan kita, pastilah persoalan itu akan terasa ringan. Perkataan bijak dan menyenangkan dari seorang sahabat, akan menjadi mutiara kehidupan kita yang paling berharga.

Biasanya persahabatan diawali dari pujian”, demikian kata Peter M Brown. Mungkin perkataan ini tidak sepenuhnya tepat. Namun, tidak ada ruginya bagi kita untuk mencoba menimbang, seberapa sering kita memberI pujian, permintaan maaf, dan ucapan terima kasih kepada pasangan kita?

Pujian adalah kata-kata menyenangkan yang bisa kita dapatkan secara gratis. Lalu, apa beratnya untuk memberi pujian pada pasangan kita, andaikata benar kita ingin menjadi mutiara kehidupan baginya.

Boleh jadi kita menganggap itu tidak perlu, karena kita sudah hidup lama dengannya dan sudah saling memahami satu sama lain. Anggapan ini keliru, sebab perkawinan bukanlah sekadar suatu komitmen yang mekanis.

Perkawinan adalah buah dari kompromi antara dua aspek emosional yang dinamis dan egois, karenanya perkawinan memerlukan perawatan khusus nan istimewa.

Jadikan perkawinan sebagai mutiara kehidupan, bukan kerikil kehidupan. Sebagaimana mutiara yang mencerminkan kehalusan dan indah kemilau, begitu jugalah sebaiknya pilihan kata-kata yang kita gunakan dalam berkomunikasi dengan pasangan kita.

Jangan gunakan kata-kata kasar yang suram seperi kerikil.  Karena menurut Lao Tze, “Kebaikan lewat kata-kata akan membentuk kepercayaan diri, kebaikan lewat pemikiran akan membentuk kedalaman, adapun kebaikan dalam memberI akan membentuk kasih.”

Maka dengan memberikan kata-kata baik yang berdasar pada pemikiran bijak, kita akan dapat membentuk semuanya; kepercayaan dan kedalaman kasih.

Bersahabatlah dengan pasangan, agar beban ini bisa ditanggung bersama, agar bisa dilalui secara ringan dan mudah.

Pengkhianatan dan Kematian Cinta

Apabila mutiara kehidupan perkawinan kita tercabik karena suatu pengkhianatan, bukan berarti dunia kita sudah kiamat. Tidak berarti pula kita harusn menderita, atau sengsara selamanya.

Ingat, kebahagiaan tidak bergantung pada orang lain, tetapi tergantung pada keinginan kita sendiri. Maka putuskanlah untuk tetap berbahagia, dalam situasi apa pun.

Penting untuk diperhatikan dalam situasi ini adalah, menjaga pikiran agar tetap waras. Sebab dengan kewarasan pikiran kita, maka kita akan dapat mengambil suatu keputusan yang akan membuat kita berbahagia, bukannya keputusan yang salah yang justru membuat kita menyesal.

Jangan sampai menderita dua kali, karena salah dalam mengambil keputusan. Untuk itu jangan ambil keputusan apa pun dalam kondisi emosi, tunggulah sampai emosi mereda.

Mungkin kita harus tersiksa dengan menunggu, tapi kalau memang itu yang harus kita lakukan dalam rangka untuk mendapat hasil terbaik, maka sebaiknya kita lakukan saja.

Menyikapi kondisi ini, tidak ada salahnya jika kita mempertimbangkan nasehat dari Paulo Coelho berikut; “Menunggu itu menyakitkan, begitu pula melupakan. Tapi tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, adalah penderitaan yang paling buruk.”

Memang untuk bisa mendapatkan kebahagiaan hidup bukanlah hal mudah. Karena dia terkait dengan banyak hal yang kompleks. Rabindranath Tagore juga meyempatkan diri untuk membahas masalah kebahagiaan ini.

Dia berkata, “Resep untuk menjadi bahagia, sangatlah sederhana, tapi sangat sulit untuk menjadi sederhana.”  Agaknya kebahagiaan ini memang masalah yang sedemikian kompleksnya, hingga Rabindranath Tagore harus menggunakan kalimat bersayap.

Namun demikian, mungkin ada baiknya  bagi kita untuk belajar berpikir dan bertindak sederhana. Agar kita bisa memaknai ucapan Marvin Jay Torres ini, “Hal terbaik tentang mencintai dan disakiti adalah bahwa Anda bisa mengetahui makna cinta sejati. Karena seperti emas yang diuji dalam api, begitu juga cinta disempurnakan dalam perih.”  

Mari, Sempurnakan mutiara kehidupan perkawinan kita, secara sederhana!