Kerajinan Perak Andalan Industri Kotagede

13

 

Perak adalah  logam mulia yang dalam tabel periodik memiliki unsure kimia berlambang Ag (Argentum), dengan nomor atom 47. Perak merupakan sebuah logam transisi lunak berwarna putih mengkilap. Logam ini memiliki konduktivitas listrik dan panas tinggi serta memiliki kandungan dimineral dalam bentuk bebas.  Pada jaman dulu logam ini banyak digunakan sebagai uang koin, perhiasan, peralatan  makan, dan fotografi.

 

Sebagaimana platina dan emas, Perak termasuk logam mulia, yaitu logam yang tahan terhadap korosi maupun oksidasi. Pada umumnya logam mulia memiliki harga yang tinggi, karena sifatnya yang langka dan tahan korosi. Logam mulia sangat sukar bereaksi dengan asam. Karenanya logam mulia kerap dijadikan sebagai investasi, termasuk perak.

Lanjutkan membaca

Geliat Industri Kotagede : Kerajinan, Kuliner dan Heritage

12

 

Sebagai kota yang sejak didirikannya tidak pernah lepas dari proses aktivitas perdagangan, Kotagede sejak lama telah memiliki hubungan-hubungan dagang dengan berbagai wilayah. Pada masa Hindia Belanda hubungan dagang dengan kota Tulung Agung, Blitar, Kediri marak dilakukan. Bahkan hubungan dagang berbagai pihak luar Negeri telah terjalin, walaupun masih mengandalkan peranta pihak Kolonial Hindia Belanda di Semarang.

Perdagangan ini pada umumnya dilakukan oleh pedagang-pedagang besar Kotagede dengan barang dagangan berupa perhiasan emas-perak, kain batik tulis maupun cap, kulit, serta berbagai hasil kerajinan seni lainnya. Bahkan Van Mook memuji proses perdagangan waktu itu dengan menyatakan bahwa Kotagede merupakan pusat perdagangan perhiasan terbesar se-Hindia Belanda. Lanjutkan membaca

KOTAGEDE : Antara makam raja dan masjid

makam kota gede

 

Kawasan Kotagede terletak di sebelah tenggara pusat kota Yogyakarta, dan berjarak sekira 5 kilometer. Kawasan ini merupakan kota lama yang didirikan oleh Panembahan Senopati atau Sutawijaya pada pertengahan abad XVI, dan sempat menjadi Ibukota Kerajaan Mataram Islam. Sebelumnya, Kotagede merupakan tanah perdikan dibawah kekuasaan Kerajaan Pajang.

Dewasa ini kawasan Kotagede terbagi dalam dua wilayah administratif pemerintahan. Pengertian kawasan menunjukkan lingkungan yang memiliki kesatuan sosio kultural. Sebagian masuk  dalam administrasi pemerintah Kabupaten Bantul di sisi selatan, sedangkan di sisi utara termasuk dalam administrasi pemerintah Kota Yogyakarta. Lanjutkan membaca

Sejarah Masyarakat dan Orang Penting Kotagede

sopingen

 

Sebagai kota lama Kotagede juga terdapat beberapa bangunan-bangunan yang cukup memiliki nilai sejarah. Sebagian merupakan heritage, sebagaian yang lain tidak. Ada sekitar 170 obyek cagar budaya (heritage) yang dibangun antara tahun 1700-1930. Beberapa diantaranya adalah: Rumah Kalang, Rumah Adat Jawa, Rumah Tumenggungan, dan Pos Malang. Sedangkan seni kerajinan yang sangat terkenal dari Kotagede adalah kerajinan Perak, dan makanan khas Kotagede berupa Yangko dan Kipo. Hal inilah yang  menjadikan Kawasan tersebut menjadi obyek wisata dan daya tarik wisata unggulan di Propinsi D.I. Yogyakarta. Lanjutkan membaca

Kronologi Aksi Bramantyo Prijosusilo

Selang beberapa saat setelah menggelar ritual di makam Raja-raja Kotagede, Bramantyo Prijosusilo bergegas menaiki andong guna berangkat menuju Markaz MMI yang berjarak kurang lebih 800 meter dari kompleks makam raja Kotagede. Dengan dikawal mobil patroli dari Polsek Banguntapan, Bantul, Bramantyo yang mengenakan busana Jawa motif lurik itu segera berngkat menuju Markaz MMI, namun setibanya disana, dia harus berhadapan dengan aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh jamaah MMI. Berikut kronologisnya : Lanjutkan membaca

Ini Puisi Bramantyo Prijosusilo

Sedianya Bramantyo akan membacakan puisi ini, memecah kendi dan berdialog dengan Jamaah MMI bila memungkinkan. Namun sebelum terlaksana jamaah MMI sudah meringkus dan menganiayanya. Untunglah pihak kepolisian berhasil mengamankannya kedalam truk Dalmas dan membawanya ke Polres Bantul. Lanjutkan membaca

Konsep Aksi Bramantyo Prijosusilo di Kotagede

Banyak orang bertanya kenapa Bramantyo melakukan aksinya di “kandang macan”, dan selanjutnya menyayangkan terjadinya peristiwa pengeroyokan terhadap Bramantyo. Beberapa suara menyatakan keprihatinannya, “seharusnya Bramantyo tahu, kalo dia melakukan aksinya disana pasti akan mengalami tindak kekerasan dari orang-orang ini”. Tetapi Bramantyo tetap tidak bergeming, dia ingin membuktikan bahwa asumsi masyarakat itu salah. Namun kali ini, asumsi Bramantyo lah yang salah. Kenapa asumsi Bramantyo salah? Dalam konsepnya dia mengalokasikan waktu 30 menit untuk berdialog dengan MMI, namun bukan dialog yang didapat, tetapi digebugin. Berikut adalah konsep aksi Bramantyo : Lanjutkan membaca